![]() |
| Bantuan air bersih untuk korban banjir bandang di Aceh Tamiang.(Dok/Istimewa). |
Kondisi pascabanjir di Aceh Tamiang hingga kini masih memprihatinkan. Banyak warga terpaksa menggunakan air keruh dan tercemar untuk kebutuhan mandi, mencuci, serta aktivitas sehari-hari karena suplai air bersih belum pulih. Sejumlah kampung bahkan masih terisolasi akibat putusnya akses jalan dan jembatan, sehingga distribusi air dan logistik menjadi sangat terbatas.
Tak sedikit warga yang masih bertahan di posko pengungsian tanpa ketersediaan air bersih yang memadai. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan munculnya wabah penyakit di tengah pengungsian.
Menanggapi situasi tersebut, Irsan yang merupakan anggota Komisi XII DPR RI dari Daerah Pemilihan Aceh II menegaskan bahwa pengiriman air bersih bukan sekadar bantuan simbolik, melainkan kebutuhan yang bersifat darurat.
“Ketika keluarga kita di Aceh Tamiang terpaksa mandi dan mencuci dengan air selokan, itu bukan kehidupan yang layak. Bukan hanya perut yang perlu diisi, tetapi tubuh dan martabat mereka juga membutuhkan air bersih,” ujar Irsan dalam keterangannya, Minggu (7/12/2025).
Ia berharap, suplai air dari lima truk tangki tersebut dapat sedikit meredakan krisis air bersih yang dialami warga, sambil menunggu pemulihan akses dan pasokan permanen dari pemerintah.
Sejak hari pertama banjir menerjang, Irsan bersama timnya terus memantau kondisi lapangan, mendata kebutuhan masyarakat, serta memastikan bantuan sembako dan air bersih benar-benar sampai ke wilayah terdampak, termasuk desa-desa terpencil yang masih terisolasi.
“Saya akan berupaya semaksimal mungkin agar setiap warga terdampak bisa mendapatkan air bersih dan makan layak untuk keluarganya,” tegasnya.
Situasi di lapangan hingga kini masih menuntut respons cepat dan penuh empati. Lumpur masih menumpuk di permukiman, sebagian desa belum sepenuhnya tersentuh bantuan, sementara listrik dan jaringan komunikasi masih sering terputus. Kehadiran air bersih dan bantuan pangan diharapkan dapat membantu warga bertahan melewati hari-hari sulit, menjaga kesehatan, sekaligus memelihara harapan di tengah krisis.
Irsan juga menyerukan kepada seluruh pemangku kepentingan—baik pemerintah daerah, pemerintah pusat, maupun organisasi kemanusiaan—untuk memperkuat koordinasi dalam distribusi air bersih dan logistik, serta segera memulihkan infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan.
“Dalam situasi darurat seperti ini, solidaritas dan kecepatan adalah nyawa,” pungkasnya.
Dengan langkah nyata tersebut, Irsan Sosiawan Gading tidak sekadar mengirim bantuan, tetapi juga menghadirkan harapan, mengalirkan kehidupan, dan memastikan bahwa warga terdampak banjir tidak terlupakan. (Red)


Komentar