|
Menu Close Menu

Dinamika PBNU Memanas, Aktivis Senior NU Ingatkan Pentingnya Musyawarah

Selasa, 23 Desember 2025 | 08.21 WIB

Cak Dar, Aktivis Senior NU.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya— Dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dinilai kian mengeras dan berpotensi menjauhkan organisasi dari khitah musyawarah yang selama ini menjadi ruh Nahdlatul Ulama (NU). Penilaian tersebut disampaikan Aktivis Senior NU Jawa Timur, Sudarsono Rahman, yang akrab disapa Cak Dar, merespons perang pernyataan di ruang publik antara pendukung Rais Aam KH. Miftachul Akhyar dan pendukung Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf.


Menurut Cak Dar, dinamika yang berkembang belakangan ini tidak lagi sebatas perbedaan pandangan organisatoris, melainkan telah berubah menjadi polarisasi terbuka yang saling mempertajam posisi. Kondisi tersebut, kata dia, tercermin dari saling balas pernyataan melalui media, meskipun para masyayikh dan kiai sepuh telah berulang kali meminta agar masing-masing pihak menahan diri.


“Ini terlihat jelas dari perang pernyataan di ruang publik, padahal para masyayikh dan kiai sepuh sudah mengimbau agar semua pihak tidak mengumbar sikap ke media,” ujar Cak Dar saat ditemui di Surabaya, Selasa (23/12/2025).


Ia menilai, seruan para kiai yang berkumpul di sejumlah pesantren besar seperti Ploso, Tebuireng, dan Lirboyo sejatinya lahir dari niat tulus untuk meredam konflik agar tidak semakin melebar dan berkepanjangan. Selain itu, langkah tersebut dimaksudkan untuk menyelesaikan persoalan PBNU secara bermartabat tanpa mencederai pihak mana pun. Namun, menurutnya, imbauan tersebut kini mulai diabaikan oleh pendukung kedua kubu.


“Kalau sudah menjadi pendukung fanatik, memang sulit untuk diam. Polanya sudah seperti ‘cebong versus kampret’. Pernyataan-pernyataan itu justru menyiram bensin, bukan menyelesaikan masalah substantif,” ujar pria yang juga menjabat Wakil Ketua Umum DPP Barikade Gus Dur tersebut.


Cak Dar mengungkapkan, keprihatinan para masyayikh dan kiai sepuh bukan tanpa alasan. Salah satu hal yang menjadi perhatian serius adalah dugaan pelanggaran Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU, khususnya terkait mekanisme pemberhentian Ketua Umum PBNU yang disebut hanya melalui rapat harian Syuriah dan diumumkan lewat surat edaran.


“Cara-cara seperti itulah yang memicu kegaduhan dan menimbulkan tanda tanya besar di kalangan Nahdliyin,” tegasnya.


Ia mengakui, secara struktural forum masyayikh dan kiai sepuh memang tidak tercantum dalam nomenklatur resmi organisasi NU. Demikian pula Musyawarah Kubro yang memiliki keterbatasan kewenangan untuk memberikan ultimatum. Namun demikian, Cak Dar menekankan bahwa NU tidak bisa dipahami semata-mata sebagai organisasi administratif.


“Roh NU itu ada pada para kiai, masyayikh, dan pesantren. NU adalah organisasinya ulama dan kiai. Para kiai itulah pemilik NU yang sah secara kultural dan historis,” ujarnya.


Karena itu, ia menilai sikap sebagian pihak yang secara terburu-buru memvonis langkah para masyayikh sebagai keliru, tanpa memahami alur musyawarah yang ditempuh, merupakan bentuk penyederhanaan persoalan yang berpotensi memperdalam konflik.


Cak Dar berharap seluruh pihak di lingkungan PBNU dapat kembali pada nilai-nilai dasar NU, yakni tabayun, musyawarah, serta penghormatan kepada ulama sepuh. Ia mengingatkan bahwa seluruh elemen NU sejatinya dibesarkan oleh tradisi yang sama.


“Kita semua besar di NU. Tidak perlu saling menggurui. Jangan ajari bebek berenang,” pungkasnya. (Red) 

Bagikan:

Komentar