|
Menu Close Menu

Gejolak Harga Sapi Potong Bayangi Jawa Timur, Pedagang Wanti-Wanti Kenaikan Harga Daging Jelang Ramadhan

Senin, 05 Januari 2026 | 06.28 WIB

Kondisi Stok Sapi di Pasar Ketapang, Sampang Madura.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, SurabayaAncaman mogok berjualan yang disuarakan Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) se-Jabodetabek pada Selasa (6/1/2026) menjadi sinyal awal potensi gejolak harga daging sapi yang dapat merembet ke daerah lain, termasuk Jawa Timur. Aksi tersebut dipicu oleh melonjaknya harga sapi hidup siap potong yang kini berada di kisaran Rp53.000 hingga Rp55.000 per kilogram, naik dari harga sebelumnya Rp50.000–Rp53.000 per kilogram, tergantung kondisi ternak.


Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar Jawa Timur (PPSDS-Jatim), Muthowif, mengungkapkan bahwa kenaikan harga sapi siap potong secara langsung berdampak pada harga daging sapi segar di tingkat konsumen. Ia memprediksi harga daging berpotensi naik menjadi Rp130.000 hingga Rp140.000 per kilogram apabila tren kenaikan tersebut terus berlanjut.


“Kalau di Jabodetabek sudah mulai terjadi gejolak, daerah lain sangat mungkin akan mengikuti. Di Jawa Timur sendiri, kondisi sapi siap potong di pasar hewan mulai langka,” ujar Muthowif, Senin (5/1/2026).


Ia menjelaskan, kelangkaan sapi siap potong mulai dirasakan di sejumlah sentra pasar hewan di Jawa Timur, seperti Lumajang, Probolinggo, Malang, hingga Madura. Kalaupun tersedia, harga jual sapi cenderung menyesuaikan dengan harga yang terjadi di wilayah Jabodetabek.


Situasi tersebut dinilai berpotensi semakin kompleks mengingat dalam dua bulan ke depan umat Islam akan memasuki bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H/2026. Pada periode tersebut, kebutuhan daging sapi segar biasanya meningkat signifikan dan kerap diikuti lonjakan harga.


“Mumpung masih ada waktu sekitar dua bulan, pemerintah provinsi seharusnya bisa mengambil langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga daging saat Ramadhan dan Idul Fitri,” tegasnya.


Muthowif juga mengingatkan agar gejolak yang saat ini terjadi di Jabodetabek tidak sampai terulang di Jawa Timur. Pasalnya, Jawa Timur merupakan salah satu sentra sapi potong nasional yang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga daging sapi secara nasional.


Ia berharap Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dapat segera melakukan koordinasi intensif dengan para jagal, peternak, serta pelaku usaha penggemukan sapi di wilayah setempat. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi dampak lanjutan dari gejolak harga di Jabodetabek, khususnya terhadap stabilitas harga daging sapi segar di Surabaya dan daerah lain di Jawa Timur.


“Koordinasi lintas pelaku usaha mutlak diperlukan agar gejolak harga tidak semakin meluas dan merugikan masyarakat,” pungkasnya. (Had) 

Bagikan:

Komentar