|
Menu Close Menu

Harga Jagung dan Beras Bergejolak, Komisi XI DPR Desak Pemerintah Ambil Langkah Nyata

Kamis, 29 Januari 2026 | 12.36 WIB

Anggota Komisi XI DPR RI, Thoriq Majiddanor.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Jakarta— Anggota Komisi XI DPR RI, Thoriq Majiddanor, menyoroti gejolak harga bahan pokok strategis yang kian membebani masyarakat. Ia menilai lonjakan harga jagung dan beras telah berdampak langsung pada biaya hidup.


Menurut Thoriq, mahalnya harga jagung turut memicu kenaikan biaya produksi sektor peternakan. Dampaknya, harga daging ayam dan telur ikut terkerek naik di tingkat konsumen.


“Mahalnya harga jagung ini sudah memicu kenaikan biaya produksi daging ayam dan telur, yang akhirnya membebani konsumen,” ujar Thoriq Majiddanor dalam rapat kerja Komisi XI DPR RI bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (28/1/2026).


Legislator Fraksi Partai NasDem yang akrab disapa Jiddan itu mempertanyakan efektivitas berbagai Instruksi Presiden (Inpres) yang dikeluarkan sepanjang 2025. Ia menilai kebijakan tersebut belum terlihat nyata dalam meredam lonjakan harga pangan.


“Di mana kehadiran dan peran Inpres 2025 ini dalam meredam gejolak harga bahan pokok strategis?” tanya Jiddan.


Ia juga menyoroti kondisi harga beras yang terus meningkat, meski Kementerian Pertanian mengklaim produksi beras nasional melimpah pada 2025. Fakta di lapangan, kata dia, menunjukkan harga beras justru menjadi penyumbang utama inflasi.


Berdasarkan data, inflasi kelompok pangan tercatat mencapai 4,25 persen pada November 2025. Angka tersebut menjadi sinyal serius terhadap tekanan daya beli masyarakat.


Selain beras, Jiddan menyoroti lonjakan harga jagung pipil untuk pakan ternak. Pada akhir 2025, harganya menembus Rp7.500 per kilogram dan diperkirakan bertahan tinggi hingga Maret 2026.


Kondisi ini, menurutnya, memerlukan langkah konkret dan terukur dari pemerintah. Ia menilai pendekatan normatif tidak lagi cukup untuk menekan harga.


Jiddan pun mempertanyakan keberanian pemerintah mengambil terobosan kebijakan. Ia menyinggung opsi operasi pasar pangan secara lebih masif atau penyesuaian kebijakan impor yang terukur.


“Jangan hanya mengumumkan stok beras yang besar, tetapi harga di pasar tetap tinggi,” tegasnya.


Ia menilai langkah-langkah tersebut penting untuk menurunkan harga beras dan jagung. Selain itu, kebijakan yang tepat dinilai krusial untuk menjaga daya beli masyarakat.


Menurut Jiddan, konsumen dan pelaku usaha kecil menjadi kelompok paling terdampak akibat kenaikan harga pangan. Pemerintah diminta hadir dengan kebijakan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat. (Red) 

Bagikan:

Komentar