![]() |
| Sebuah bangunan kayu berupa langgar bentuk peninggalan tokoh kharismatik, Kyai Raden Mas Su’ud di Desa Kayuputih, Kabupaten Situbondo.(Dok/Istimewa). |
Kyai Raden Mas Su’ud dikenal sebagai ulama ahli teologi dan tauhid, sekaligus pendekar kanuragan yang berperan besar dalam penyebaran Islam di wilayah Situbondo. Sejumlah bukti sejarah mengenai kiprahnya masih dapat ditemukan hingga hari ini, mulai dari nisan makamnya yang diakui memiliki ciri khas ulama Madura, peninggalan masjid tua yang masih berdiri, hingga keberadaan keturunannya yang terus menjaga ingatan kolektif tentang sang pendiri pesantren.
Salah satu cicitnya, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, menuturkan bahwa cerita tentang Kyai Raden Mas Su’ud bukan sekadar dongeng, tetapi fakta sejarah yang terjaga melalui artefak yang masih bisa disaksikan. “Pesantren Kyai Raden Mas Su’ud memang tinggal cerita. Tetapi ini cerita faktual yang dibuktikan lewat masjid yang masih kokoh berdiri setelah lebih dari 201 tahun,” ujarnya, Senin (12/1/2026).
Secara genealogis, Kyai Raden Mas Su’ud disebut sebagai trah keempat dari Raden Azhar Wongsodirejo atau Bhujuk Seda Bulangan, keturunan Raden Wiro Menggolo, Raja Sumenep. Di kalangan masyarakat, masjid tua di Kayuputih juga lekat dengan kisah-kisah mistis. Konon, masjid tersebut pernah menjadi tempat tinggal bangsa jin yang disebut sebagai murid-murid Kyai Raden Mas Su’ud, dan diyakini menanti hadirnya penerus sang kyai untuk membangkitkan kembali pesantren yang pernah berjaya.
Di sisi lain, pria yang akrab disapa Gus Lilur ini mengaku memiliki pandangan berbeda mengenai warisan leluhurnya. Ia menyebut ingin berdiri di atas kakinya sendiri tanpa sepenuhnya bergantung pada nama besar sang leluhur. Melalui gagasan yang ia sebut DABATUKA (Demi Allah, Bumi Aku Taklukkan untuk Kemanusiaan) dan BAKIRA (Bandar Kyai Nusantara), ia menegaskan tekad untuk memperjuangkan dakwah dan kemanusiaan pada skala yang lebih luas.
Menurutnya, mendirikan kembali satu pesantren saja tidak cukup. Ia memimpikan pembangunan jutaan masjid di berbagai negara, serta ambisi membangun hingga 5.000 pesantren di berbagai belahan dunia. Ia juga mengaku memiliki basis keyakinan untuk mewujudkan cita-cita tersebut melalui kepemilikan usaha pertambangan di berbagai daerah di Indonesia.
“Bagi saya, terlalu sempit panggung yang ditinggalkan. Menaklukkan dunia, membangun banyak masjid, dan menjadi Bandar Kyai Nusantara jauh lebih menantang,” ujar Ketua Umum Netra Bakti Indonesia (NBI). Ia menambahkan, keberhasilannya membangun keluarga lintas negara harus diiringi keberhasilan menghadirkan rumah ibadah di negara-negara tersebut.
Bangunan kayu tua di Kayuputih kini menjadi saksi bisu perjalanan panjang dakwah dan pendidikan Islam di Situbondo. Di antara cerita sejarah, romantika keluarga, hingga harapan besar keturunannya, “sisa cerita” tentang Kyai Raden Mas Su’ud tetap hidup — bukan hanya sebagai memori, tetapi sebagai inspirasi yang terus dirawat lintas generasi. (Had)


Komentar