![]() |
| Kegiatan Peringatan Satu Abad NU oleh MWCNU Pragaan, Sumenep.(Dok/Qudsi). |
Acara tersebut menjadi bentuk apresiasi MWCNU Pragaan kepada lembaga dan badan otonom NU yang dinilai aktif, mandiri, serta memberikan kontribusi nyata bagi umat dan masyarakat.
Selain penganugerahan, kegiatan ini juga dimaknai sebagai ruang refleksi perjalanan satu abad Nahdlatul Ulama dalam menjaga tradisi keislaman, moderasi beragama, serta khidmah sosial di tengah masyarakat.
Ketua MWCNU Pragaan, K. Hambali Mahtum, menegaskan bahwa kekuatan utama NU sejatinya berada di tingkat ranting. Menurutnya, denyut kehidupan NU tumbuh dan dirasakan langsung di desa-desa.
“NU itu hidup di ranting, bukan di MWCNU. Ranting adalah jantung NU, tempat khidmah benar-benar dirasakan oleh jamaah dan masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peran MWCNU lebih pada fungsi penguatan dan konsolidasi gerakan. Sementara militansi dan keberlanjutan NU bertumpu pada Pengurus Ranting NU (PRNU) serta badan otonom di tingkat bawah.
Melalui NU Pragaan Award, MWCNU Pragaan berharap tumbuh budaya apresiasi yang mampu memacu semangat ranting dan badan otonom agar terus aktif, kreatif, dan mandiri dalam berkhidmah.
Sementara itu, Ketua PCNU Sumenep, KH M. D. Widadi Rohim, memberikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menilai, NU Pragaan Award menjadi contoh positif penguatan jam’iyah di tingkat MWCNU.
KH Widadi mengaku, sejak terpilih sebagai Ketua PCNU Sumenep, baru kali ini menghadiri kegiatan MWCNU yang dikemas secara semarak sekaligus sarat makna. Menurutnya, MWCNU Pragaan menjadi pelopor kegiatan reflektif dalam peringatan satu abad NU.
Ia menegaskan bahwa peringatan Satu Abad NU tidak boleh berhenti pada euforia seremonial semata, tetapi harus menjadi momentum pembaruan niat dan penguatan komitmen dalam ber-NU.
“Pengurus NU harus mampu mempertahankan yang baik dan berani mengubah yang tidak baik,” tegasnya.
KH Widadi juga menyoroti tantangan NU di era digital. Ia menekankan pentingnya sikap arif dan cerdas dalam menyikapi perkembangan teknologi, agar ruang digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana dakwah dan penguatan jam’iyah.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi harus tetap berpijak pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah agar NU tetap relevan tanpa kehilangan jati diri.
Melalui NU Pragaan Award 2026, MWCNU Pragaan meneguhkan komitmennya untuk terus merawat NU dari akar rumput, memperkuat ranting sebagai pusat gerakan, serta menyiapkan jam’iyah agar mampu menjawab tantangan zaman secara berkelanjutan. (Qud/Had)


Komentar