|
Menu Close Menu

“Setan Gepeng” dan Generasi Layar: Catatan Nurani dari Senator Lia Istifhama

Jumat, 23 Januari 2026 | 15.41 WIB

Anggota DPD RI Lia Istifhama. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, SurabayaAnggota DPD RI, Lia Istifhama, menyuarakan kegelisahan atas perubahan pola tumbuh kembang anak-anak di tengah dominasi gawai sejak usia dini.


Refleksi itu muncul dari pengamatan sehari-hari terhadap anak-anak yang kian akrab dengan layar, namun semakin jauh dari permainan tradisional dan interaksi sosial langsung. 


Menurut Lia, pemandangan kelereng, bola, dan layangan kini mulai tergeser oleh benda pipih yang nyaris tak pernah lepas dari genggaman anak-anak.


“Sering kali anak-anak lebih cepat mengeja ha-pe dibanding memanggil ayah atau bunda,” ujar senator asal Jawa Timur yang akrab disapa Ning Lia.


Ia menilai, generasi hari ini tumbuh dalam pola interaksi yang berbeda. Permainan yang dulu mengandalkan kebersamaan, kini cukup dilakukan sendiri lewat sentuhan layar. 


Gawai yang awalnya dirancang untuk kebutuhan orang dewasa, perlahan berubah fungsi menjadi pengasuh instan bagi anak-anak.


Tak sedikit orang tua yang memberikan ponsel pribadi agar anak mudah ditenangkan.


“Sekarang hampir semua anak punya ponsel sendiri. Padahal dulu, itu barang langka bahkan bagi orang tuanya,” ungkapnya. 


Kebiasaan tersebut, lanjut Lia, membawa dampak yang tidak sederhana. Anak-anak bisa berkumpul secara fisik, namun tetap terpisah secara emosional karena sibuk dengan layar masing-masing.


Interaksi pun kerap berlangsung lewat gim daring, termasuk dengan bahasa kasar yang ditiru tanpa pemahaman makna. 


Lia menilai, gawai memang mampu menenangkan anak secara cepat, namun juga berpotensi membentuk emosi yang rapuh dan mudah tersulut.


“Mereka jadi tahu banyak hal terlalu cepat, sementara kesiapan emosionalnya belum terbentuk,” katanya.


Ia mengenang masa kecil tanpa gawai, ketika televisi menjadi satu-satunya hiburan digital dengan pilihan terbatas.


Saat tak ada tontonan menarik, membaca buku, berimajinasi, atau sekadar berbaring diam menjadi hal yang wajar. 


“Dari kebosanan itu justru kreativitas tumbuh,” tutur Ning Lia, Jumat (23/1).


Di akhir refleksinya, Lia menegaskan bahwa teknologi bersifat netral. Seperti pisau, ia bisa bermanfaat atau berbahaya, tergantung cara digunakan.


Masalahnya, anak-anak belum memiliki kemampuan untuk memilah risiko dan dampak.


Karena itu, ia mengajak orang tua dan lingkungan untuk tidak menyerahkan sepenuhnya proses tumbuh kembang anak kepada layar.


Pendampingan, keteladanan, dan kehadiran nyata orang dewasa dinilai menjadi benteng utama agar teknologi tetap menjadi sahabat, bukan “setan gepeng” yang perlahan mencuri masa kecil anak-anak. (Red) 

Bagikan:

Komentar