![]() |
| Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat ziarah di Tebuireng, Jombang. (Dok/Istimewa). |
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah bersilaturahmi dengan Pengasuh Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin yang juga Ketua PWNU Jawa Timur, serta tokoh nyai sepuh Ponpes Tambakberas, Nyai Hj Mahfudhoh Aly Ubaid yang merupakan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
Khofifah mengatakan, tradisi sowan kepada para kiai dan nyai merupakan bagian penting dari budaya masyarakat Jawa Timur yang sarat nilai spiritual. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada guru, tradisi ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi sekaligus memohon doa untuk kebaikan daerah.
“Silaturahmi ini menjadi bagian dari ikhtiar kita mempererat hubungan dengan para guru serta memohon doa agar Jawa Timur senantiasa diberi keberkahan, kedamaian, dan kemajuan,” ujar Khofifah.
Menurutnya, menjelang Idul Fitri, tradisi sowan bukan sekadar rutinitas keagamaan. Lebih dari itu, tradisi ini merupakan warisan budaya pesantren yang memiliki makna sosial dan spiritual yang kuat.
Khofifah juga menilai momentum Idul Fitri menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat persaudaraan, saling memaafkan, serta meneguhkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia berharap tradisi baik tersebut dapat terus dilestarikan, terutama oleh generasi muda, sebagai bagian dari pembentukan karakter dan penguatan nilai-nilai akhlak.
“Generasi muda perlu dibiasakan dengan tradisi seperti ini. Keteladanan atau uswatun hasanah penting untuk membangun akhlak dan amaliyah ubudiyah generasi masa kini,” tegasnya.
Di sela kunjungan, Khofifah bersama Gus Kikin juga melakukan ziarah ke makam pendiri Nahdlatul Ulama, Hasyim Asy'ari, serta Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di kompleks Ponpes Tebuireng.
Ziarah berlangsung khusyuk dengan pembacaan doa dan tahlil, dilanjutkan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan kepada para tokoh bangsa tersebut.
Bagi Khofifah, sosok Gus Dur bukan hanya ulama besar, tetapi juga tokoh bangsa yang mewariskan nilai kemanusiaan, toleransi, dan kebangsaan yang relevan hingga saat ini.
“Ziarah ini menjadi pengingat atas keteladanan Gus Dur dalam merawat keberagaman, menjaga persatuan, serta menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” ungkapnya.
Ia menambahkan, semangat perjuangan Gus Dur dalam menjunjung nilai kemanusiaan dan inklusivitas menjadi inspirasi penting dalam membangun Jawa Timur yang harmonis, damai, dan berkeadilan. Khofifah berharap nilai-nilai tersebut terus dilanjutkan demi menjaga kerukunan di tengah keberagaman masyarakat. (Red)


Komentar