|
Menu Close Menu

Memanen Hikmah di Gerbang Idulfitri: Melampaui Selebrasi, Menjemput Substansi

Rabu, 18 Maret 2026 | 09.38 WIB


Oleh: Firman Syah Ali 


Lensajatim.id, Opini- Pada Hari Raya Idulfitri, sering kali kita terjebak dalam keriuhan yang bersifat artifisial berupa deru mesin mudik, kepulan asap dapur tiada henti, ledakan mercon, saling kunjung hingga pameran   kesuksesan di ruang-ruang publik, terutama kesuksesan yang bersifat material, seperti kendaraan baru, jabatan baru, busana baru, perhiasan baru, isteri baru dan sebagainya. Akibat saling pamer tersebut, silaturrahim Hari Raya yang seharusnya penuh keakraban dan saling memaafkan, menjadi ajang saling gosipdan saling intrik. Sehingga tanpa disadari, kita kerap merayakan "hari raya" namun kehilangan "makna raya". Padahal seyogyanya kita memahami bahwa Idulfitri adalah muara dari bulan suci. Bahwa bulan suci Ramadan adalah fase persemaian bibit kesabaran, integritas dan disiplin di ladang jiwa, dan Idulfitri sebagai momentum panen raya spiritual—bukan sekadar titik henti dari sebuah rutinitas tahunan yang mekanis.


Sebulan penuh selama Bulan Suci Ramadan kita menjalani training tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), menahan lapar, haus dan menahan nafsu-nafsu duniawi lainnya. Puasa kita di bulan suci bukan sekadar urusan biologis, melainkan latihan fundamental untuk menjinakkan ego yang sering kali liar. Egoisme pra Ramadhan hendaknya berubah menjadi altruisme, filantropisme dan kolektivisme pasca ramadhan. Disinilah Ramadhan menjadi laboratorium karakter. Misalnya kalau selama bulan suci kita biasa bangun di sepertiga malam untuk santap sahur dan menyambung kembali tali komunikasi dengan Sang Khalik, maka setelah Ramadan berlalu, tetaplah biasakan bangun sepertiga malam terakhir untuk sambung rasa dengan sang pencipta  semesta raya dalam untaian munajat dan tahajjud. Di sinilah benih-benih kemanusiaan dan kesalehan sosial horizontal ditanam dalam kesunyian ibadah ritual individual vertikal yang lezat.


​Dalam catatan sejarah Nusantara, transisi setelah masa "keprihatinan" atau laku prihatin selalu diikuti dengan lahirnya kebijaksanaan baru, karena para pemimpin besar nusantara masa lalu memahami bahwa kemenangan sejati bukan tentang penaklukan wilayah, melainkan penaklukan diri sendiri terlebih dahulu. Nenek moyang nusantara memahami bahwa penaklukan wilayah adalah buah dari penaklukan diri sendiri. Misalnya Panembahan Senopati sang pendiri Mataram Islam, sering melakukan kontemplasi sunyi, laku tirakat, sebelum melakukan kampanye militer. Bindhere Saot sang pendiri dinasti terakhir Kerajaan Sumenep juga sering tirakat sunyi selama menjalankan pemerintahan negara. Jadi kalau Ramadhan menjadi bulan kontemplasi sunyi maka Idulfitri menjadi hari kebijaksanaan, hari pelaksanaan hasil kontemplasi. Dalam konsep kebijaksanaan pasca kontemplasi panjang ini, Idulfitri merupakan manifestasi dari konsep manunggaling kawula gusti, yaitu saat jarak antara hamba dan Pencipta serta antar sesama hamba dilebur dalam untaian maaf yang tulus. Kepemimpinan yang lahir setelah "masa tanam" Ramadan adalah kepemimpinan yang melayani, bukan yang meminta dilayani, yang memanusiakan bukan yang memperbudak, yang memuliakan bukan minta dimuliakan, yang membahagiakan bukan minta dibahagiakan.


Dengan begitu, ​Idulfitri adalah waktu untuk memverifikasi apakah benih yang kita tanam selama bulan suci telah tumbuh menjadi karakter, atau justru layu tertelan euforia tradisi rutin. Jika selama Ramadhan kita merasakan perihnya lapar, maka di hari raya, kepedulian melalui zakat harus bertransformasi menjadi kesadaran sosial yang menetap, bukan sekadar menggugurkan kewajiban administratif sesaat. ​Kegembiraan Idulfitri yang sejati adalah kegembiraan seorang hamba yang merasa "pulang" ke fitrahnya—bersih dari residu kebencian dan dendam yang selama ini mengotori cermin batin. 


​Sebagai perbandingan, kita dapat menilik bagaimana Idulfitri dirayakan di beberapa wilayah di Turki. Di sana, tradisi tidaklah sedemikian konsumtif. Masyarakatnya mengenal Şeker Bayramı yang sangat fokus pada penghormatan kepada yang lebih tua dan kunjungan ke makam untuk mendoakan leluhur dengan penuh kekhusyukan. ​Fokus utamanya adalah kualitas kehadiran. Tidak ada tekanan sosial untuk menyajikan kemewahan yang berlebihan. Dialog antar-generasi terjadi secara mendalam, di mana nilai-nilai luhur diwariskan dalam suasana yang tenang. Kesederhanaan ritual ini justru memberikan ruang yang lebih luas bagi jiwa untuk merasakan syukur yang murni. Hal ini membuktikan bahwa bobot sebuah nilai tidak selalu berbanding lurus dengan kemeriahan seremoni.


​Idulfitri yang bernilai adalah ketika kita berhenti sejenak dari ritual-ritual yang tidak esensial dan mulai mengajukan pertanyaan eksistensial pada diri sendiri: "Perubahan substansial apa yang terjadi pada integritas dan empati saya setelah bulan suci berlalu?". ​Jangan biarkan hari kemenangan ini hanya menjadi seremoni yang menguras energi fisik namun kering secara spiritual. Mari jadikan Idulfitri sebagai momentum untuk memanen keberanian menjadi pribadi yang lebih jujur, lebih bijaksana, dan lebih peduli terhadap sesama. Kemenangan sejati bukanlah terletak pada pakaian yang baru, melainkan pada hati yang diperbarui oleh cahaya kesalehan, baik kesalehan individual (vertikal) maupun kesalehan sosial (horizontal).


*) Penulis adalah Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP) dan Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU

Bagikan:

Komentar