![]() |
| Menteri Agama Nasaruddin Umar saat memimpin sidang isbat. (Dok/Liputan6.com). |
Menteri Agama Nasaruddin Umar menjelaskan, keputusan ini diambil berdasarkan hasil rukyatul hilal yang dipadukan dengan perhitungan astronomi (hisab). Pendekatan tersebut menjadi acuan utama pemerintah dalam menentukan awal bulan Hijriah.
“Berdasarkan hasil sidang isbat, disepakati bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026,” ujar Nasaruddin dalam konferensi pers.
Sidang isbat yang berlangsung di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, diikuti berbagai unsur, mulai dari perwakilan pemerintah, organisasi kemasyarakatan Islam, hingga para ahli falak dan astronomi. Keterlibatan lintas pihak ini menjadi bagian penting untuk memastikan keputusan yang diambil bersifat komprehensif dan kredibel.
Rangkaian sidang diawali dengan seminar terbuka mengenai posisi hilal. Dalam forum tersebut, para pakar memaparkan data astronomi terkini sebagai bahan pertimbangan awal. Selanjutnya, sidang penetapan digelar secara tertutup usai waktu Maghrib guna membahas hasil pemantauan hilal dari berbagai daerah di Indonesia.
Kementerian Agama mencatat, observasi hilal dilakukan di lebih dari seratus titik yang tersebar dari wilayah barat hingga timur Indonesia. Pemantauan ini melibatkan kantor wilayah Kemenag, pengadilan agama, organisasi masyarakat Islam, serta instansi terkait lainnya.
Melalui penetapan ini, pemerintah berharap umat Islam di Tanah Air dapat merayakan Idul Fitri secara serentak, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan dan kekhusyukan dalam menyambut hari kemenangan. (Ham)
.jpeg)

Komentar