![]() |
| Kegiatan Ramadhan Student Talk PD PII Kota Surabaya di Aula Dinas Pendidikan Kota Surabaya.(Dok/Istimewa). |
Mengangkat tema “Ramadhan & The Rise of Conscious Youth: Iman, Kesadaran Kritis, dan Kepemimpinan Generasi Muda dalam Menentukan Arah Masa Depan Indonesia,” kegiatan ini menjadi ruang dialog bagi pelajar untuk memperkuat dimensi intelektual, spiritual, sekaligus kepemimpinan di tengah dinamika perubahan sosial yang kian kompleks.
Kegiatan tersebut terselenggara melalui kolaborasi PD PII Kota Surabaya bersama Dinas Pendidikan Kota Surabaya sebagai fasilitator tempat, serta dukungan dari Badan Narkotika Nasional Kota Surabaya. Dua narasumber dari kalangan aktivis mahasiswa turut hadir memberikan perspektif, yakni Koordinator BEM Seluruh Indonesia Jawa Timur Muhammad Aqmaddin yang juga Presiden Mahasiswa Universitas Islam Lamongan, serta Koordinator Daerah BEM SI Kota Surabaya Bima Dharma yang menjabat Presiden Mahasiswa Telkom University Surabaya.
Perwakilan Dinas Pendidikan Kota Surabaya dalam sambutannya mengapresiasi inisiatif PII yang menghadirkan ruang diskusi konstruktif bagi pelajar. Menurutnya, forum dialog semacam ini menjadi pelengkap penting bagi pendidikan formal yang diterima di sekolah.
“Pelajar tidak hanya membutuhkan pembelajaran di kelas, tetapi juga ruang dialog bersama mahasiswa dan komunitas intelektual untuk memperluas perspektif serta melatih kemampuan berpikir kritis,” ujarnya.
Ketua Umum PD PII Kota Surabaya Dede Muhtadin yang juga mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara UIN Sunan Ampel Surabaya sekaligus moderator kegiatan, menegaskan bahwa PII memiliki sejarah panjang dalam pembinaan karakter dan kepemimpinan generasi muda.
Ia menjelaskan bahwa PII telah hadir sejak sebelum masa kemerdekaan dan secara resmi bangkit pada 4 Mei 1947 sebagai wadah pembinaan pelajar dari tingkat SMP hingga mahasiswa.
“Pendidikan bukan hanya tanggung jawab satu pihak. Ini adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, hingga organisasi masyarakat,” ujarnya.
Muhtadin menambahkan bahwa kualitas sumber daya manusia menjadi kunci utama dalam menentukan masa depan bangsa. Karena itu, investasi terbesar bagi Indonesia adalah memperkuat sektor pendidikan.
“Jika sumber daya manusia Indonesia difasilitasi dengan pendidikan yang baik, maka akan lahir generasi yang unggul. Dari situlah cita-cita besar Indonesia Emas 2045 dapat diwujudkan,” tambahnya.
Dalam sesi diskusi, para narasumber mengangkat berbagai isu strategis yang dihadapi generasi muda, termasuk tantangan krisis idealisme di tengah dinamika sosial dan politik yang berkembang pesat.
Muhammad Aqmaddin menjelaskan bahwa menurunnya idealisme generasi muda sering dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari lingkungan keluarga, pendidikan, hingga tekanan aktivitas akademik yang padat.
“Banyak pelajar memiliki jadwal yang sangat padat, dari sekolah hingga kegiatan tambahan. Kondisi ini sering membuat ruang refleksi dan diskusi menjadi terbatas,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya bagi pelajar untuk memiliki prinsip hidup serta komitmen kuat terhadap proses pendidikan.
“Pelajar harus memiliki arah hidup yang jelas. Pendidikan adalah fondasi utama dalam membangun masa depan, sehingga setiap pelajar perlu menjaga komitmen belajar dan terus mengembangkan kapasitas dirinya,” katanya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya kesadaran sosial bagi generasi muda agar tidak terjebak dalam pola pikir individualistik.
“Hidup yang baik bukan hanya tentang keberhasilan pribadi, tetapi bagaimana seseorang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Bima Dharma menyoroti tantangan generasi muda di era digital. Menurutnya, perkembangan teknologi informasi membuka peluang besar bagi pelajar untuk belajar dan berkarya, namun juga membawa risiko berupa maraknya disinformasi dan hoaks.
“Pelajar harus memiliki literasi digital yang baik. Setiap informasi yang beredar perlu diverifikasi agar tidak terjebak dalam berita yang tidak berbasis fakta,” ungkapnya.
Ia menilai kemampuan memverifikasi informasi serta membangun argumen berbasis data menjadi fondasi penting bagi lahirnya kepemimpinan intelektual generasi muda.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari para peserta yang berasal dari pelajar SMP dan SMA. Antusiasme peserta terlihat dari beragam gagasan dan pandangan yang disampaikan terkait isu pendidikan, kepemimpinan, serta dinamika sosial yang mereka hadapi.
Melalui kegiatan ini, PD PII Kota Surabaya berharap dapat membuka ruang dialog yang lebih luas bagi pelajar untuk mengembangkan pemikiran kritis, kepemimpinan, serta kepedulian sosial sejak dini.
Ke depan, PII Surabaya berencana melanjutkan program pembinaan pelajar dengan turun langsung ke sekolah-sekolah melalui diskusi, pelatihan kepemimpinan, serta forum dialog yang melibatkan mahasiswa, akademisi, dan pemimpin muda.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat peran pelajar sebagai bagian penting dalam pembangunan bangsa, sekaligus menumbuhkan generasi muda yang kritis, berintegritas, dan memiliki kesadaran sosial dalam menentukan arah masa depan Indonesia. (Red)


Komentar