|
Menu Close Menu

Refleksi Ultah ke-54 INKADO: Meneguhkan Prestasi sebagai Raison d'Etre

Rabu, 18 Maret 2026 | 16.29 WIB

Oleh: R. Firman Syah Ali Wongsokusumorejo


​Lensajatim.id, Opini- Tepat pada hari ini, 18 Maret 2026, keluarga besar Indonesia Karate-Do (INKADO) memperingati hari jadinya yang ke-54. Sejak didirikan oleh Prof. Dr. R Baud Abdul Djamil Adikusumo pada tahun 1972, INKADO telah menempuh perjalanan panjang yang penuh dengan dinamika, keringat, prestasi, prestise, idealisme, patriotisme dan nasionalisme. Di usia yang melampaui setengah abad ini—sebuah usia yang sangat matang dalam kacamata organisasi—perayaan bukan lagi sekadar seremoni pemotongan tumpeng, melainkan sebuah momentum untuk melakukan redefinisi eksistensi.


​Prof. Baud mendirikan INKADO bukan sekadar untuk menciptakan kerumunan orang berbaju putih. Bukan sekedar kerumunan orang terlatih. Bukan sekedar kerumunan ahli beladiri yang disegani. Beliau meletakkan fondasi ksatria Bushido yang berakar pada kedisiplinan intelektual dan ketangguhan fisik . Di usia ke-54 ini, warisan tersebut harus diterjemahkan ke dalam indikator yang terukur. Kedisiplinan tanpa hasil adalah stagnasi, dan latihan tanpa target adalah rutinitas yang menjemukan.


​Dalam filsafat organisasi, setiap entitas memiliki raison d'etre—alasan mengapa ia harus ada. Bagi sebuah perguruan karate sebesar INKADO, alasan itu hanya satu, yaitu prestasi dan prestise bangsa. ​Kita harus berani tegas pada diri sendiri, di usia yang matang ini, INKADO tidak boleh hanya terjebak pada romantisme masa lalu atau kebesaran nama pendiri. Tanpa deretan medali, tanpa atlet yang merajai tatami nasional maupun internasional, dan tanpa kontribusi nyata bagi prestasi karate Indonesia, maka INKADO akan kehilangan jati dirinya. ​Tanpa prestasi, INKADO kehilangan raison d'etre-nya. Prestasi adalah napas organisasi. Ketika sebuah perguruan karate berhenti mencetak juara, maka pada saat itulah ia mulai kehilangan relevansinya dalam dunia olahraga modern.


​Memacu Semangat di Usia Matang

​Usia ke-54 seharusnya menjadi puncak produktivitas. Ibarat sabuk hitam yang telah lama terikat di pinggang, warnanya mungkin memudar menjadi putih kembali, menandakan kembalinya sang ksatria pada kemurnian semangat juang.


​Prestasi atlet adalah hilir; hulunya adalah manajemen organisasi yang profesional dan transparan. Ini related dengan adagium kuno "di bawah seorang pemimpin yang baik, seribu pasukan yang bodohpun berubah menjadi kekuatan yang menakutkan. Di bawah seorang pemimpin yang bodoh, seribu pasukan terbaikpun akan kocar-kacir. Adagium tersebut tentu terkait manajemen organisasi. Dengan manajemen organisasi yang baik maka kita bisa memperbanyak panggung bagi para karateka muda untuk mengasah mental juara.


​Ulang tahun ke-54 ini adalah alarm bagi kita semua—pengurus, pelatih, maupun atlet. Mari kita jadikan momentum 18 Maret 2026 ini sebagai titik start untuk berlari lebih kencang. Kita berutang pada sejarah yang telah dibangun oleh Prof. Baud untuk memastikan bahwa panji INKADO tetap berkibar di podium tertinggi. ​Eksistensi kita bukan ditentukan oleh berapa lama kita berdiri, melainkan oleh seberapa banyak prestasi yang telah kita torehkan untuk prestise bangsa. Selamat ulang tahun ke-54 INKADO. Teruslah memacu prestasi, karena di sanalah martabat kita berada.


​OSS!


*) Penulis adalah Ketua Umum Konfederasi Olahraga NU (KONU) Pusat, Legal Officer KONI Jatim dan Ketua Pengprov INKADO Jatim

Bagikan:

Komentar