![]() |
| Anggota DPD RI Lia Istifhama.(Dok/Istimewa). |
Apresiasi tersebut disampaikan menyusul rapat strategis yang digelar Presiden bersama jajaran menteri bidang ekonomi di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (19/3). Lia menilai, langkah pemerintah dalam merumuskan kebijakan ekonomi secara terukur mencerminkan kepemimpinan yang adaptif dan berorientasi jangka panjang.
Menurutnya, kebijakan efisiensi yang tengah disiapkan pemerintah tidak hanya berfokus pada pengelolaan anggaran, tetapi juga berpotensi mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Ia menekankan pentingnya menjaga etos kerja, termasuk dalam penerapan pola kerja fleksibel seperti Work From Anywhere (WFA).
“Efisiensi bukan berarti menurunkan produktivitas. Justru ini momentum untuk membentuk SDM yang tangguh, adaptif, dan tetap bersemangat dalam bekerja di tengah tantangan global,” ujar Lia.
Ia menambahkan, skema kerja fleksibel dapat menjadi peluang untuk meningkatkan kinerja apabila diimbangi dengan disiplin dan tanggung jawab yang tinggi.
Di sisi fiskal, Lia menyoroti komitmen pemerintah dalam menjaga defisit APBN tetap di bawah tiga persen. Kebijakan tersebut dinilai sebagai langkah strategis untuk memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga.
“Upaya menjaga defisit di bawah tiga persen sesuai arahan Sidang Kabinet Paripurna menunjukkan disiplin fiskal yang kuat. Ini ditempuh melalui efisiensi di berbagai kementerian dan lembaga,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan sejumlah langkah antisipatif terhadap fluktuasi harga energi dan komoditas global, termasuk potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Salah satu strategi yang ditempuh adalah peningkatan produksi batu bara guna memperkuat penerimaan negara, disertai kajian kebijakan pajak ekspor komoditas tersebut.
Tak hanya itu, transformasi sektor energi juga menjadi perhatian melalui percepatan konversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) ke Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Kebijakan ini dinilai sebagai solusi jangka panjang untuk menekan biaya energi sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Program tersebut direncanakan dikelola oleh Badan Pengelola Investasi Danantara sebagai bagian dari upaya efisiensi nasional.
Dalam kerangka efisiensi yang lebih luas, pemerintah juga mengkaji penerapan skema WFA satu hari dalam sepekan. Kebijakan ini diproyeksikan mampu menekan konsumsi bahan bakar hingga 20 persen seiring berkurangnya mobilitas pekerja.
Penerapan WFA tidak hanya menyasar aparatur sipil negara, tetapi juga diharapkan dapat diadopsi oleh pemerintah daerah serta sektor swasta.
Lia berharap berbagai langkah strategis yang disiapkan pemerintah dapat berjalan optimal dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menilai, kombinasi antara disiplin fiskal, efisiensi energi, dan inovasi pola kerja akan menjadi fondasi kuat dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan global yang terus berkembang. (Red)


Komentar