![]() |
| Anggota DPD RI Lia Istifhama. (Dok/Istimewa). |
Perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu konsisten memperjuangkan aspirasi masyarakat di berbagai sektor strategis, seperti pendidikan, pemberdayaan perempuan, kepemudaan, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan. Menurutnya, demokrasi tidak hanya bergantung pada sistem, tetapi juga pada perilaku para pelaku di dalamnya.
“Demokrasi harus dijaga dengan cara yang baik. Kuncinya ada pada integritas, keteladanan, dan bagaimana kita menjaga kepercayaan publik,” ujarnya, Rabu (22/04/2026).
Ia juga menekankan peran penting media sebagai pilar demokrasi yang menjaga keseimbangan informasi. Penyajian berita yang objektif dan berimbang, kata dia, menjadi faktor penting dalam menciptakan ruang publik yang sehat dan konstruktif.
Sebagai keponakan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, Ning Lia turut mengajak generasi muda untuk aktif berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi. Ia mengingatkan bahwa sikap apatis justru dapat melemahkan kualitas demokrasi itu sendiri.
“Anak muda jangan apatis. Demokrasi harus dijaga bersama. Menjadi politisi harus memberi contoh yang baik, menghormati narasumber dan masyarakat, serta menghadirkan informasi yang objektif,” tegasnya.
Dalam praktiknya, Ning Lia dikenal mengedepankan pendekatan inklusif dan dialogis. Ia aktif membangun komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat, mulai dari kalangan pesantren, perempuan, pemuda, hingga komunitas akar rumput. Gaya komunikasinya yang santai namun efektif juga membuatnya dekat dengan generasi muda, baik melalui kegiatan langsung maupun platform digital.
Kepercayaan publik terhadap dirinya tercermin dari hasil Pemilu terakhir, di mana ia meraih 2.739.123 suara. Selain itu, survei Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI) mencatat tingkat kepuasan publik terhadap kinerjanya mencapai 70,5 persen, tertinggi di antara legislator Jawa Timur.
Latar belakang keluarga Nahdlatul Ulama turut membentuk karakter kepemimpinannya yang religius dan membumi. Ia merupakan putri dari KH Masykur Hasyim dan Hj Aisyah.
Di luar aktivitas politik, Ning Lia juga aktif menulis artikel bertema politik, pendidikan, dan kepemimpinan perempuan sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi publik. Pendekatan ini menjadi salah satu kontribusinya dalam membangun demokrasi yang lebih sehat, inklusif, dan berkelanjutan. (Red)


Komentar