|
Menu Close Menu

Sekjen PPMI Nasional Minta Pers Mahasiswa Menjunjung Tinggi Kode Etik dan Independensi

Minggu, 19 April 2026 | 15.58 WIB

Kegiatan Diklat Jurnalistik Tingkat Dasar (DJTD) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mental Institut Bahri Asyiq (INSTIBA) Bangkalan. (Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Bangkalan – Sekretaris Jenderal Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Nasional, Ach. Zainuddin, menjadi narasumber dalam kegiatan Diklat Jurnalistik Tingkat Dasar (DJTD) yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mental Institut Bahri Asyiq (INSTIBA) Bangkalan. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Buya Muhlis kampus setempat, Sabtu (18/04/2026).


Dalam pemaparannya, Zainuddin menegaskan pentingnya mahasiswa yang tergabung dalam pers kampus untuk menjunjung tinggi kode etik jurnalistik serta konsisten melakukan verifikasi dalam setiap proses peliputan. Menurutnya, kualitas produk jurnalistik sangat ditentukan oleh ketepatan data dan kejelasan nilai yang disampaikan kepada publik.


“Pers mahasiswa harus mampu menghadirkan karya jurnalistik yang berkualitas, objektif, dan memiliki karakter pembeda. Ini yang membedakan dengan organisasi lain seperti LSM,” ujarnya.


Ia juga menekankan bahwa pers mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai pers alternatif yang mampu menyuarakan isu-isu yang jarang mendapat perhatian publik. Oleh karena itu, independensi menjadi prinsip utama yang harus dijaga oleh setiap insan pers kampus.


Menurut Zainuddin, kebebasan pers telah dijamin melalui Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Dengan jaminan tersebut, ia mendorong mahasiswa untuk tetap kritis tanpa terpengaruh intervensi pihak mana pun.


“LPM harus independen dalam mengawal isu-isu krusial yang penting bagi masyarakat. Sikap kritis tidak boleh dibatasi oleh kepentingan tertentu,” tegasnya. 


Selain itu, ia mengingatkan peserta DJTD agar tidak cepat berpuas diri dalam mempelajari jurnalistik. Proses belajar, kata dia, harus terus berlanjut melalui berbagai kegiatan lanjutan yang mampu meningkatkan kapasitas dan kompetensi.


“Masa belajar jurnalistik tidak berhenti di pelatihan ini saja. Harus ada upaya berkelanjutan untuk mengasah kemampuan agar mampu menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas tinggi,” tambahnya.


Di akhir sesi, Zainuddin berharap para peserta tetap menjalin komunikasi aktif dengan pengurus LPM Mental guna mengatasi berbagai kendala dalam praktik jurnalistik, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.


“Saya berharap kalian terus berkomunikasi dengan pengurus LPM untuk mendukung kebutuhan pengembangan sumber daya manusia di bidang jurnalistik,” pungkasnya. (Zai) 

Bagikan:

Komentar