|
Menu Close Menu

Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Jairi Irawan: Ruh Pendidikan Ada pada Guru yang Mampu Menyentuh Hati Siswa

Sabtu, 25 April 2026 | 21.49 WIB

Kegiatan Workshop Pendidikan DPRD Provinsi Jawa Timur Bersama IGI Jatim di Grand Mansion Hotel, Blitar.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Blitar — Transformasi pendidikan di Jawa Timur terus didorong menuju arah yang lebih substansial, tidak sekadar formalitas. Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Jairi Irawan, menegaskan bahwa inti pendidikan terletak pada peran guru dalam membangun kedekatan emosional dan makna pembelajaran bagi siswa.


Hal tersebut disampaikan dalam workshop pendidikan yang digelar DPRD Jawa Timur bersama Ikatan Guru Indonesia (IGI) Jawa Timur di Grand Mansion Hotel, Blitar, Sabtu (25/4/2026).


Dalam paparannya, politisi muda Partai Golkar yang akrab disapa Mas Jairi itu menekankan bahwa kurikulum hanyalah kerangka dasar. Menurutnya, ruh pendidikan sesungguhnya hadir ketika guru mampu menyentuh hati siswa dan mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata.


“Pendidikan yang tidak memiliki makna bagi kehidupan sehari-hari siswa hanya akan menjadi tumpukan teori yang usang,” ujarnya.


Workshop bertema “Pemanfaatan teknologi sebagai trigger dalam menerapkan pembelajaran interaktif, kolaboratif dan kontekstual” ini menjadi ruang diskusi bagi para guru di wilayah Blitar Raya untuk menjawab tantangan zaman. Jairi mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat bantu, sementara esensi pendidikan tetap berada pada interaksi manusiawi antara guru dan siswa.


Ia juga menyoroti implementasi konsep deep learning yang mulai diterapkan secara luas sejak 2025. Menurutnya, pendekatan ini menuntut perubahan paradigma guru dari sekadar penyampai materi menjadi fasilitator yang mendorong pemahaman mendalam.


“Pembelajaran tidak boleh lagi hanya fokus mengisi ‘keranjang’ otak anak didik dengan hafalan. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka menemukan makna dan kebahagiaan dalam proses belajar,” tegasnya.


Lebih lanjut, Jairi menilai indikator keberhasilan pendidikan dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam merespons fenomena di lingkungan secara kritis. Ia menekankan pentingnya pendidikan yang kontekstual agar lulusan memiliki daya guna tinggi di tengah masyarakat.


“Pendidikan harus memberikan solusi. Apa yang dipelajari di sekolah hari ini harus bisa diterapkan dalam kehidupan nyata,” tambahnya.


Sementara itu, Ketua IGI Jawa Timur, Sukari, mengapresiasi gagasan yang disampaikan Jairi. Ia menilai pandangan tersebut sejalan dengan kebutuhan guru di lapangan dan menjadi wujud kolaborasi strategis antara pembuat kebijakan dan praktisi pendidikan.


Menurut Sukari, pemilihan Blitar sebagai lokasi kegiatan merupakan langkah strategis untuk memperluas akses informasi dan penguatan kapasitas digital guru di daerah.


“Kami ingin para guru di daerah tidak lagi tertinggal dalam mengimplementasikan KKA dan metode pembelajaran mendalam,” jelasnya.


Ia juga menyampaikan terima kasih atas dukungan Komisi E DPRD Jawa Timur yang dinilai berperan penting dalam memastikan kebijakan dan anggaran berpihak pada peningkatan kompetensi guru, termasuk di wilayah pelosok.


“Terima kasih kepada Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Komisi E yang telah membersamai kami dalam upaya meningkatkan kompetensi guru,” pungkasnya. (Eric) 

Bagikan:

Komentar