![]() |
| Anggota DPD RI Lia Istifhama.(Dok/Istimewa). |
Merespons kejadian itu, Anggota DPD RI Lia Istifhama meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) segera melakukan evaluasi menyeluruh sekaligus memperketat pengawasan kualitas makanan sebelum didistribusikan ke sekolah-sekolah.
Menurut Lia, langkah tersebut penting dilakukan demi memastikan keselamatan peserta didik sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program nasional pemenuhan gizi bagi anak sekolah.
Ia menilai prosedur pemeriksaan di tingkat sekolah sejauh ini sebenarnya telah berjalan sesuai standar. Guru dan pihak sekolah disebut sudah melakukan pengecekan awal terhadap makanan, mulai dari aroma, tekstur, hingga tampilan sebelum dibagikan kepada siswa.
Namun, kasus dugaan keracunan tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa pemeriksaan secara visual dan penciuman saja belum cukup untuk menjamin keamanan pangan.
“Kalau SOP sudah dijalankan dan tidak ditemukan hal yang mencurigakan, berarti memang harus ada pemeriksaan ekstra dari substansi bahan makanan yang sudah siap dikonsumsi. Karena ternyata dari bau dan tampilan tidak ada masalah, tetapi masih muncul dugaan keracunan. Artinya ada hal yang perlu dicek lebih dalam sebelum distribusi,” ujar Lia, Selasa (12/5/2026).
Lia menegaskan, pengawasan kualitas makanan tidak boleh hanya dilakukan pada tahap akhir pengemasan. Pemeriksaan, kata dia, harus dimulai sejak proses pemilihan bahan baku, pengolahan makanan, penyimpanan, hingga distribusi ke sekolah.
Selain itu, ia juga menyoroti kemungkinan adanya faktor tertentu dari kombinasi menu makanan yang dikonsumsi siswa. Menurutnya, komposisi makanan dalam paket MBG perlu dianalisis lebih mendalam untuk memastikan tidak menimbulkan reaksi tertentu pada tubuh anak.
“Kadang ada makanan yang ketika dikombinasikan dengan menu tertentu bisa menimbulkan proses tertentu dalam tubuh. Ini juga perlu pendalaman, apakah ada faktor kombinasi bahan atau kondisi lain yang memengaruhi,” katanya.
Pernyataan tersebut sekaligus membuka ruang evaluasi yang lebih luas, tidak hanya terkait aspek kebersihan makanan, tetapi juga keseimbangan nutrisi dan kompatibilitas bahan pangan dalam satu paket menu MBG.
Lia berharap kasus dugaan keracunan massal itu dapat menjadi momentum perbaikan sistem pengawasan pangan dalam program MBG agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Program ini sangat baik untuk masa depan anak-anak Indonesia. Karena itu, kualitas dan keamanan makanan harus benar-benar dijaga secara maksimal,” tutupnya. (Red)


Komentar