![]() |
| Silaturahmi dan Diskusi tokoh dan jejaring Banj Walisongo Jawa-Madura di Ponpes Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo.(Dok/Istimewa). |
Pertemuan tersebut digelar oleh Persatuan Bani Bhuju’ (PBB) dengan menghadirkan filolog Indonesia, Menachem Ali. Diskusi berlangsung santai dan mengalir, dengan semangat mempererat hubungan antarketurunan dan pegiat sejarah Walisongo.
Pengasuh Ponpes Al-Khoziny, KH Mas Abdus Salam Mujib, hadir sebagai tuan rumah. Turut hadir Ketua PBB RKH Kholil Muhammad Imam atau yang akrab dikenal sebagai Kyai Kholil Nungsari, pengasuh Ponpes Gunungsari, Proppo, Pamekasan.
Forum itu juga dihadiri Firman Syah Ali atau Cak Firman bersama Munsib Madura Timur, KHR Abdul Hamid Roqib Suryodirjo.
Sejumlah pegiat sejarah dan nasab Bhuju’ turut meramaikan forum tersebut. Di antaranya KHR Ja’far Shodiq Fauzi Batuampar, KHR Abdul Gholib Sahuri Batuampar, KHR Mun’im Sholeh Palengaan, HR Nurul Yaqin, HR Ali Yusuf, HR Hidrochin Sabaruddin, Gus Jamik Canga’an, R Agung Saleh Seddur, hingga RB Arya Rusli dari Keraton Sumenep.
Peserta diskusi sepakat bahwa rangkaian pertemuan yang rutin dilakukan PBB merupakan bagian dari upaya birrul walidain atau penghormatan kepada leluhur. Seluruh peserta juga menegaskan kehadiran mereka bersifat pribadi dan tidak mewakili organisasi tertentu.
Dalam sambutannya, KH Mas Abdus Salam Mujib menekankan pentingnya sumber sejarah dan nasab internal sebagai rujukan utama. Ia mengajak generasi Bani Walisongo untuk menjaga tradisi dan amaliyah para leluhur agar tetap lestari.
Menurutnya, warisan spiritual dan budaya para pendahulu perlu dijaga agar tidak hilang maupun diklaim pihak lain. Ia juga mengingatkan pentingnya membangun kesadaran generasi penerus terhadap sejarah keluarganya sendiri.
Sementara itu, Ketua PBB Kyai Kholil Nungsari menyoroti pentingnya menjaga kearifan lokal dan warisan spiritual para bhuju’. Menurutnya, berbagai kisah spiritual leluhur tidak perlu dipublikasikan secara berlebihan, melainkan cukup diwariskan secara tutur tinular di lingkungan dzurriyah sebagai motivasi dan pelajaran generasi penerus.
Diskusi bersama Menachem Ali kemudian berkembang pada pembahasan metodologi sejarah dan filologi. Para peserta memahami bahwa filologi tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus didukung pendekatan ilmu lain dan diperkuat dokumen internal maupun eksternal.
Dalam forum itu juga dibahas pentingnya dokumen sezaman sebagai sumber primer sejarah. Dokumen yang muncul pada periode yang sama dinilai memiliki kekuatan lebih besar dibanding sumber yang lahir jauh setelah peristiwa berlangsung.
Sebagai contoh, disebutkan bahwa Kakawin Negarakretagama memiliki posisi lebih kuat dibanding Serat Pararaton karena berasal dari masa yang lebih dekat dengan peristiwa sejarah yang dicatat.
Pembahasan juga menyentuh pentingnya pendekatan ilmiah berbasis data dalam kajian sejarah dan nasab. Para peserta menilai sebuah kesimpulan tidak dapat dibangun hanya dari satu manuskrip, tetapi harus melalui proses pengumpulan, perbandingan, dan analisis berbagai sumber.
Menachem Ali menjelaskan bahwa dalam filologi dikenal istilah “DNA naskah” untuk melacak keterkaitan manuskrip, sebagaimana genealogi mengenal DNA biologis. Ia juga menjelaskan ciri khas manuskrip era Islam yang umumnya menggunakan bahan daluwang, bukan lontar maupun kertas modern.
Forum turut membahas contoh dokumen eksternal sezaman yang mencatat keberadaan Nabi Muhammad SAW. Meski terdapat sudut pandang berbeda dari penulis dokumen tersebut, para peserta menilai catatan itu menjadi bukti historis mengenai eksistensi Nabi Muhammad sebagai tokoh sejarah.
Pada sesi penutup, forum menyimpulkan sementara bahwa berdasarkan perbandingan sejumlah sumber primer, ayah kandung R Zainal Abidin atau Sunan Cendana diduga merupakan seorang Pangeran Surabaya. Namun identitas pastinya masih akan dikaji lebih lanjut melalui penelusuran timeline dan periodisasi tokoh-tokoh sezaman. (Red)


Komentar