![]() |
| Foto bersama usai acara Nobar dan Diskusi Film "Pesta Babi" di Kancakona Kopi, Sumenep.(Dok/Istimewa). |
Kegiatan tersebut berlangsung dengan khidmat peserta dari kalangan mahasiswa, dan orang tua berkumpul untuk menyaksikan dan mendiskusikan sebuah film yang sangat menarik karena mengandung potret nyata ketimpangan di papua.
Ketua Komisariat Diky Alamsyah menyampaikan bahwa menurutnya film dokumenter pesta babi bagian dari rentetan kegiatan kaderisasi untuk memupuk intelektualitas baru terhadap anggota dan kader bahkan menurutnya sengaja di buka untuk umun supaya masyarakat sadar bahwa ada ketimpangan sosial yang terjadi di tanah papua.
"Kami menginginkan adanya kegiatan dapat membuat forum diskusi di kabupaten sumenep dalam menyerap isu baru yang terjadi di tanah papua," ungkapnya.
Diky menegaskan bahwa sempat ada dari pihak kepolisian yang juga turut hadir akan tetapi menurutnya tidak sampai membubarkan berlangsungnya acara tersebut.
'"Mereka hanya datang turut memantau jalannya diskusi pada malam ini dan alhamdulillah diskusi berjalan secara khidmat tanpa gangguan sedikitpun," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Cabang PMII Sumenep, Khoirus Soleh menyampaikan film ini menyajikan kegiatan eksploitasi lahan demi kepentingan kaum elitisme tanpa melihat siapa yang sebenarnya di untungkan dan siapa yang dirugikan.
Menurutnya, tindakan pemerintah dalam membuka lahan besar-besaran untuk kepentingan proyek strategis nasional tanpa memikirkan bagaimana dampaknya bagi masyarakat adat papua dan hewan endemik di dalamnya.
"Ini adalah contoh sistem pemerintahan indonesia yang kembali mengingatkan kita pada masa kolonialisme," ujarnya.
Dia juga menambahkan "Film pesta babi" membuka ruang refleksi kritis tentang bagaimana relasi kuasa pasca-kolonial masih termanifestasi dalam bentuk eksploitasi sumber daya alam, marginalisasi ruang hidup masyarakat adat, serta minimnya perlindungan negara.
"Diskusi ini sangat penting agar kita di Sumenep tidak hanya memahami teori keadilan sosial, tapi juga mampu mengkontekstualisasikannya dalam realitas bangsa yang nyata," ungkapnya.
Dosen dan Pengamat Kebijakan Publik Wilda Rusaili menyatakan bahwa film pesta babi mengingatkan dirinya tentang masa kolonialisme yang otoritarian tanpa memikirkan ulang kebijakan yang berbasis kepentingan rakyat. Namun menurutnya pemerintah mengambil kebijakan atas kepentingan kaum borjuis.
"Film mengajak kita berpikir sejenak tentang penguasa dalam hal ini pemerintah atau negara yang masih belum bisa berpihak pada kaum kecil," jelasnya.
Wilda Rosaili menambahkan bahwa pada masa soeharto dikenal dengan bapak pembangunan namun belum bisa memulihkan kemiskinan ekstrem dan ekonomi masyarakat. Sehingga terjadi krisis moneter.
"Adanya film ini kita harus sadar dalam melihat kekejaman pemerintah terhadap masyarakat adat papua," tegasnya.
Wilda juga memberikan dorongan kepada mahasiswa, aktivis, pemuda dan masyarakat sipil supaya tidak diam membela hak rakyat, membela kebenaran dan melawan tirani.
Dia juga sempat menyinggung sebuah pemikiran tan malaka kemewahan terakhir seorang pemuda adalah idealisme. Oleh sebab itu pihaknya mengajak masyarakat dan aktivis untuk tetap menjaga idealisme dengan mempertahankan kekayaan berpikir
"Jaga hutan dari tangan orang yang serakah setidaknya kita mampu membangun gerakan kolektif mendukung saudara kita di papua supaya tanah adatnya tidak dijadikan korban atas proyek strategis nasional," pungkasnya. (Za)


Komentar