|
Menu Close Menu

Profil 12 Fir'aun Baik Dalam Sejarah Mesir Kuno

Minggu, 17 Mei 2026 | 20.44 WIB


Oleh : Firman Syah Ali


Lensajatim.id, Opini- Fir'aun adalah gelar raja-raja Mesir Kuno dalam Bahasa Arab. Sedangkan dalam bahasa asli Mesir disebut Per-aa yang berarti rumah besar,  Pharao dalam Bahasa Yunani, Fir'avn dalam Bahasa Persia, Pharao dalam Bahasa Romawi, Pharaoh dalam Bahasa Inggris, Pharaon dalam Bahasa Perancis. Par'oh dalam Bahasa Ibrani, Firavun dalam Bahasa Turkik, dan Faraon dalam Bahasa Mongol.


Tulisan paling otoritatif mengenai jumlah Fir'aun dalam sejarah Mesir Kuno berasal dari sejarawan Mesir-Hellenistik, Maneto (Abad 3). Menurutnya jumlah Fir'aun, jika dihitung dari Dinasti Pertama hingga Dinasti Ketigapuluh, ada sekitar 300 orang. Namun jika ditambah periode dinasti-dinasti Yunani, Persia dan Romawi tentu jumlahnya lebih dari 300 orang. 


Dalam The Oxford History of Ancient Egypt, jumlah Fir'aun secara historis (bukan mitologis) berkisar antara 170 hingga 200 orang saja, belum termasuk fir'aun-fir'aun kecil dari periode pertengahan. 


Para sejarawan sepakat bahwa asal-usul para Fir'aun itu ada yang berasal dari etnis asli Mesir Kuno dan ada juga dari asing. Diantara etnis pendatang yang menjadi Fir'aun di Mesir Kuno adalah Etnis Kaukasia Nordik seperti Yunani, Persia dan Romawi, serta Etnis Kaukasia Semitik seperti Dinasti Hyksos (Raja Gembala). Etnis Berber (Libya Modern) juga pernah menjadi Fir'aun Dinasti Ke-22 dan Dinasti Ke-23, sedangkan Etnis Nubia (Sudan Modern) menjadi Fir'aun Dinasti Ke-25. Masa pemerintahan Dinasti ke-25 ini terkenal sebagai era Fir'aun Hitam. 


Etnis asli Mesir Kuno yang mayoritas menjadi Fir'aun tersebut masih diperdebatkan oleh sejarawan hingga saat ini. Ada kelompok afrosentrisme, yang aktif mengemukakan bukti primer bahwa para Fir'aun Mesir mayoritas berasal dari etnis afrika asli yang berambut keriting dan berkulit gelap, setidaknya Herodotus dari Yunani Kuno juga menulis hal tersebut. Namun warna kulit para Fir'aun yang dimaksud oleh Herodotus tersebut setidaknya tidak terlalu hitam sebagaimana Etnis Nubia dari hulu Sungai Nil. 


Kitab suci agama abrahamik pra Islam seperti kitab-kitab suci Yahudi dan Kristiani masih menggambarkan banyak sosok Fir'aun yang berbeda, dan tidak semua digambarkan jahat. Fir'aun dalam Alkitab digunakan murni sebagai gelar jabatan resmi raja Mesir (seperti kata Kaisar atau Raja). Sosok Fir'aun yang mengembalikan Sarai (istri Avram) setelah menyadari kesalahannya digambarkan objektif, bukan sosok yang jahat.


Fir'aun (melech) pada zaman Nabi Yusuf digambarkan sebagai pemimpin yang sangat bijaksana, murah hati, dan takut akan Tuhan. Ia mengangkat Yusuf menjadi penguasa kedua di Mesir setelah Yusuf berhasil menafsirkan mimpinya tentang masa kelaparan. Ia juga memberikan tanah terbaik (tanah Gosyen) kepada keluarga Nabi Ya'kub.


Sedangkan Teks Suci Umat Islam seolah menggambarkan Fir'aun hanya satu sosok penguasa yang identik dengan kekafiran, kejahatan dan kebengisan. Meskipun Al-Qur'an menyebut kata "Fir'aun" sebanyak 74 kali di 27 surah berbeda, Al-Qur'an memang fokus menggunakan gelar ini sebagai simbol arketipe kejahatan, kesombongan, dan kekafiran absolut. Bahkan dalam teks-teks haditspun, hanya ada satu sosok Fir'aun disebut, dan itu identik dengan kekafiran dan kejahatan. Tidak ada satupun hadits yang menyebut sosok Fir'aun selain dia.


Namun, satu hal menarik yang disorot oleh para ulama modern adalah ketelitian diksi Al-Qur'an. Pada zaman Nabi Yusuf, Al-Qur'an secara konsisten menyebut penguasa Mesir dengan gelar Al-Malik (Raja), bukan Fir'aun. Gelar Fir'aun baru digunakan Al-Qur'an ketika memasuki era Nabi Musa. Secara historis-arkeologis, hal ini terbukti tepat karena pada zaman Nabi Yusuf (era Dinasti Hyksos), penguasa Mesir tidak memakai gelar "Fir'aun" dalam birokrasi, tetapi memakai gelar Melech. Gelar Fir'aun baru resmi digunakan kembali untuk menyebut pribadi raja pada era Kerajaan Baru, yaitu era Nabi Musa. Namun, karena semua Fir'aun yang disebut di era Nabi Musa berwatak kejam (baik Fir'aun yang mengasuhnya maupun Fir'aun yang mengejarnya di laut), stigma "Fir'aun pasti jahat" melekat total dalam memori kolektif umat Islam hingga hari ini.


Mengapa teks-teks suci islam seperti itu?. Muhammad Quraish Shihab dalam berbagai karyanya, seperti Tafsir Al-Mishbah, dan dialog ilmiahnya menjelaskan bahwa kisah-kisah di dalam Al-Qur'an sengaja tidak menyebutkan nama asli tokoh, tanggal, atau koordinat geografi secara mendetail. Al-Qur'an bukanlah kitab sejarah kronologis (history book), melainkan kitab petunjuk (hudan). Al-Qur'an menggunakan kata "Fir'aun" sebagai arketipe atau simbol karakter kesombongan manusia yang mencapai puncaknya (mengaku sebagai tuhan). 


Menurut para mufassir, Al-Qur'an dan Hadis tidak bermaksud menghapus sejarah bahwa ada fir'aun-fir'aun lain di Mesir yang mungkin membangun peradaban dengan baik. Namun, demi kepentingan edukasi moral bagi umat manusia (tarbiyahiyah), Al-Qur'an hanya meminjam istilah "Fir'aun" pada satu masa (era Nabi Musa) untuk dijadikan monumen peringatan tentang bagaimana akhir tragis dari sebuah kekuasaan yang sombong dan menolak Tuhan.


Lantas siapakah Fir'aun kafir dan jahat yang sezaman dengan Nabi Musa itu? Berdasarkan konsensus mayoritas sejarawan, ahli arkeologi biblika, dan mufasir modern, Fir'aun yang hidup sezaman dengan Nabi Musa bukanlah satu orang, melainkan dua orang penguasa (ayah dan anak) yang berasal dari Dinasti ke-19 dan dari etnis asli Mesir Kuno (Koptik). Fir'aun yang membesarkan Nabi Musa (Firaun Penindas) adalah Fir'aun Ramses II (Ramses Agung). Ia adalah penguasa yang memerintahkan pembunuhan bayi laki-laki Israel dan memperbudak mereka untuk membangun kota-kota megah. Sedangkan Fir'aun yang mengejar Nabi Musa dan tenggelam di laut adalah Fir'aun Merneptah. Ia adalah putra ke-13 sekaligus penerus takhta Fir'aun Ramses II. Merneptah-lah yang menolak dakwah Musa, menantang Allah, lalu mengejar bangsa Israel hingga akhirnya tenggelam di Laut Merah.


Berdasarkan literatur sejarah Mesir Kuno dan kajian teks keagamaan, tidak ada Fir'aun yang masuk Agama Ibrahamik secara formal semasa hidupnya, karena mereka adalah pusat dari sistem keagamaan politeisme Mesir. Namun, sejarah dan teks suci mencatat adanya sosok Fir'aun yang baik dan bijaksana secara moral/politik, sosok penganut monoteisme, serta anggota keluarga Fir'aun yang beriman monoteistik secara sembunyi-sembunyi.


Pertama, Fir'aun Akhenaten (Amenhotep IV). Firaun Amenhotep IV (yang kemudian mengubah namanya menjadi Akhenaten) memerintah Mesir Kuno pada pertengahan abad ke-14 SM (sekitar 1353–1336 SM), selama Dinasti ke-18. Ia dikenal sebagai "Fir'aun yang mencari Tuhan Yang Satu". Ia menghapus penyembahan ratusan dewa Mesir (terutama Amun) dan menetapkan pemujaan hanya kepada satu Tuhan pencipta alam semesta yang dia sebut Aten. Ia cinta damai dan tidak suka perang. Fir'aun ini diperkirakan memerintah Mesir satu abad sebelum Nabi Musa. Sezaman dengan Raja Burnanuriash II dari Babilonia dan Raja Asur-Uballit I dari Assyria.


Kedua, Fir'aun Hapshetsut. Fir'aun wanita Hatshepsut memerintah pada masa Dinasti ke-18 (era Kerajaan Baru/New Kingdom) sekitar tahun 1479–1458 SM. Ia adalah salah satu dari sedikit Firaun wanita yang paling sukses. Ia memimpin Mesir bukan dengan ekspansi militer atau pertumpahan darah, melainkan melalui jalur diplomasi ekonomi dan pembangunan. 

Sistem pemerintahan Mesir di era Hatshepsut memiliki keunikan karena ia berkuasa bersama (co-regency) dengan kerabatnya sendiri. Ia sezaman dengan Raja Pharsatatar dari Mitanni. 


​Ketiga, Fir'aun Amenhotep III (Kerajaan Baru, Dinasti ke-18),

ayah dari Akhenaten. ini memimpin Mesir pada puncak kejayaan budaya dan diplomatik. Masa pemerintahannya yang berlangsung selama hampir 40 tahun dikenal sebagai era kedamaian mutlak (pax egyptica). Ia lebih memilih memperkuat kesejahteraan rakyat, membangun kuil-kuil megah (seperti Kuil Luxor), dan memajukan seni daripada melakukan ekspansi militer yang menumpahkan darah.


Keempat, 

Fir'aun ​Sneferu (Kerajaan Lama, Dinasti ke-4).

Ia adalah pendiri Dinasti ke-4 dan ayah dari Khufu (pembangun Piramida Agung). Dalam sastra Mesir Kuno (seperti Papirus Westcar), Sneferu dikenang sebagai penguasa yang sangat merakyat, bijaksana, dan ramah.


Kelima, Fir'aun Horemheb dari Dinasti ke-18. Setelah periode ketidakstabilan pasca-Akhenaten dan Tutankhamun, Horemheb naik tahta. Ia bukan dari darah bangsawan, melainkan seorang jenderal. Fir'aun Horemheb terkenal karena menerbitkan Dekrit Horemheb, sebuah reformasi hukum formal yang dirancang khusus untuk memberantas korupsi di kalangan pejabat, melindungi rakyat kecil dari pemerasan, dan menegakkan keadilan sosial.


Keenam, Fir'aun Darius I. Kisra Persia yang sekaligus menjadi Fir'aun di Mesir dari Dinasti ke-27. Berbeda dengan Fir'aun Kambises II yang bertindak sewenang-wenang, Fir'aun Darius I memerintah Mesir dengan sangat adil. Ia membangun kembali kuil-kuil Mesir yang rusak, mendanai para pendeta, dan menyusun kembali kodifikasi hukum hukum tradisional Mesir. Rakyat Mesir menghormatinya sebagai salah satu legislator terbesar mereka.


Ketujuh,  Fir'aun Ptolemeus I Soter.

​Setelah Alexander Agung mangkat, jenderalnya yang bernama Ptolemeus mendirikan Dinasti Ptolemeus di Mesir dan mengangkat diri sebagai Fir'aun.

​Ia mendapat julukan Soter (Sang 

Penyelamat) dari rakyat karena kebijakannya yang sangat adil. Ia tidak memaksakan budaya Yunani, melainkan memadukan budaya Yunani dan Mesir (sinkretisme). Fir'aun Ptolemeus I mendirikan Perpustakaan Besar Alexandria dan Museum, menjadikannya pusat ilmu pengetahuan dunia yang makmur, aman, dan toleran.


Kedelapan, 

Fir'aun Augustus (Oktavianus). ​Setelah runtuhnya Fir'aun Cleopatra VII, Mesir menjadi provinsi khusus Kekaisaran Romawi. Kaisar Romawi secara resmi juga menyandang gelar Fir'aun di Mesir.

Fir'aun ​Augustus bertindak sangat hati-hati dan adil dalam mengelola Mesir. Ia memperbaiki sistem irigasi Sungai Nil yang terbengkalai akibat perang saudara, membersihkan kanal-kanal, dan memulihkan roda perekonomian. Di bawah pemerintahannya, Mesir mengalami stabilitas ekonomi yang luar biasa setelah puluhan tahun didera konflik internal.


Kesembilan, Fir'aun Shoshenq I dari Dinasti ke-22, yaitu Dinasti Berber/Libya kuno (Meshwesh). Ia awalnya masuk ke Mesir sebagai imigran dan tentara bayaran. Shoshenq I berhasil naik tahta secara damai dan mendirikan Dinasti ke-22. Ia dikenal sebagai fir'aun yang kuat namun adil. Shoshenq I berhasil menyatukan kembali Mesir yang sempat terpecah-belah pada Periode Menengah Ketiga, memulihkan keamanan jalur perdagangan, dan mengembalikan wibawa hukum di seluruh negeri tanpa melakukan penindasan terhadap penduduk asli Mesir.


Kesepuluh, Fir'aun Piye. ​Ketika Mesir didera perang saudara dan dekadensi moral, Raja Nubia (sekarang Sudan), Piye, menginvasi Mesir bukan untuk menghancurkannya, melainkan untuk "menyelamatkannya". Setelah menang, ia melarang pasukannya menjarah, mengampuni para raja lokal yang menyerah, dan menolak merayakan kemenangan dengan pertumpahan darah.


Kesebelas, Fir'aun Taharqa. Ia anggota Dinasti ke-25 (Fir'aun Hitam), yang memimpin masa keemasan Dinasti ke-25. Ia adalah penguasa yang sangat dicintai karena kemakmuran pertanian yang melimpah selama masa jabatannya (berkat banjir Nil yang ideal). Fir'aun Taharqa membangun kembali kuil-kuil di seluruh Mesir dan Nubia, menciptakan harmoni yang damai antara kedua bangsa.


Keduabelas, Fir'aun Cleopatra II (Ratu yang Dibela oleh Rakyat Mesir).

​Dia adalah putri dari Fir'aun Cleopatra I. Kisah hidupnya sangat dramatis karena ia terjebak dalam pernikahan politik dengan dua saudara lakinya yang ambisius (Ptolemeus VI dan Ptolemeus VIII). Fir'aun Cleopatra II adalah sosok yang sangat dicintai oleh penduduk asli Mesir (bukan cuma elit Yunani di Alexandria). Ketika saudaranya, Ptolemeus VIII (yang terkenal kejam dan dijuluki Physcon atau si Perut Gendut), mencoba merebut kekuasaan dan bertindak sewenang-wenang, Cleopatra II memimpin perlawanan demi melindungi stabilitas kerajaan. ​Terjadi perang saudara di mana rakyat Mesir asli secara sukarela berdiri di belakang Cleopatra II karena mereka menganggapnya sebagai penguasa yang sah, adil, dan peduli pada nasib rakyat kecil. Ia berhasil mengusir sang tiran dari Alexandria untuk beberapa waktu, menjadikannya salah satu Fir'aun perempuan pertama yang memerintah sendirian atas dukungan penuh/loyalitas dari rakyatnya.


Tentu masih banyak Fir'aun baik, adil dan bijaksana namun tidak ada catatan sejarah, karena tidak semua hal dicatat. Dari ratusan Fir'aun yang memerintah mesir, tentu banyak yang baik dan tidak sedikit juga yang zalim sebagaimana Fir'aun yang sezaman dengan Nabi Musa. Teks suci Umat Islam juga adil menceritakan bahwa Fir'aun (Melech) zaman Nabi Yusuf sangat baik. Marilah kita bersikap adil dalam menilai para Fir'aun Mesir. Tentu tidak semua harus diceritakan secara rinci oleh Al-Qur'an. Salam cerdas dan rahayu.



*) Penulis adalah Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU dan Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP)

Bagikan:

Komentar