|
Menu Close Menu

Walisongo Disebut Berasal dari Jejak Alawiyyin Uzbekistan Era Pax Mongolica, Ini Penjelasan Cak Firman

Senin, 11 Mei 2026 | 13.57 WIB

Firman Syah Ali.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya — Perbincangan mengenai asal-usul Walisongo kembali ramai di media sosial. Narasi yang menyebut para penyebar Islam di Nusantara berasal dari Yaman memunculkan beragam tanggapan dari pegiat sejarah dan pemerhati nasab Islam.


Pegiat sejarah dan nasab leluhur Nusantara, Firman Syah Ali As-Samarqandy atau yang akrab disapa Cak Firman, menyampaikan pandangan berbeda berdasarkan kajian historiografi dan silsilah Alawiyyin.


Menurutnya, sejarah Walisongo tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang diaspora keturunan Ali bin Abi Thalib atau Alawiyyin yang tersebar ke berbagai wilayah dunia Islam akibat dinamika politik kekhalifahan.


“Sejarah Walisongo tidak bisa dilepaskan dari diaspora global Alawiyyin. Mereka berpindah dari pusat kekuasaan menuju wilayah pinggiran karena tekanan politik yang terus terjadi sejak era awal kekhalifahan,” ujarnya, Senin (11/05/2026). 


Ia menjelaskan, pada masa Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan, mayoritas Alawiyyin menetap di Madinah. Namun ketika Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah, sebagian mulai berpindah ke Kufah, Irak. 


Setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib, sebagian besar kembali ke Madinah. Akan tetapi, tekanan politik pada masa Dinasti Umayyah membuat sebagian Alawiyyin bergerak ke Kufah hingga wilayah Khurasan di Persia Timur yang kini meliputi Iran, Uzbekistan, Afghanistan, dan Turkmenistan.


Cak Firman menuturkan, pada era Dinasti Abbasiyah, Alawiyyin sempat menjadi bagian dari elit pemerintahan. Namun konflik politik yang terjadi kemudian membuat banyak di antara mereka melarikan diri ke wilayah pinggiran seperti Tabaristan dan kawasan lain di Asia Tengah.


Migrasi besar terus berlangsung hingga abad ke-9 dan ke-10. Saat itu, banyak Alawiyyin menetap di Termez, Balkh, dan Merv yang kini berada di wilayah Uzbekistan, Afghanistan, dan Turkmenistan.


Menurutnya, tekanan politik kembali meningkat ketika Dinasti Fathimiyah berdiri di Mesir. Situasi itu membuat Alawiyyin yang berada di wilayah Abbasiyah semakin terdesak.


“Pada akhirnya banyak Alawiyyin bergerak ke Samarkand dan Bukhara. Di era Pax Mongolica, mereka mulai masuk ke Anak Benua India karena jalur perdagangan berada dalam situasi aman di bawah kekuasaan Mongol,” jelasnya.


Ia menyebut masa Pax Mongolica pada abad ke-13 hingga ke-14 menjadi titik penting perpindahan besar Alawiyyin dari Asia Tengah menuju berbagai kawasan, termasuk Nusantara.


Dalam periode itu, Samarkand berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan dan pusat Sadah atau Alawiyyin pada masa kekuasaan Timur Lenk.


“Puncak kejayaan dakwah dan bisnis Alawiyyin terjadi pada era Timur Lenk. Banyak Alawiyyin memegang posisi penting dalam bidang keagamaan di wilayah kekuasaan Timuriyah,” katanya. 


Setelah Kerajaan Timuriyah runtuh, dominasi jalur sutera darat mulai bergeser. Alawiyyin Sunni kemudian berpindah ke jalur sutera laut dan menyebar ke Istanbul, Hijaz, Syam, Mughal, Cina, hingga Nusantara.


Dari fase inilah, lanjut Cak Firman, sejarah Walisongo di Nusantara mulai menemukan titik sambungnya. 


Ia menegaskan, jika ditarik dari hulu sejarah, leluhur para Walisongo berasal dari Samarkand yang kini masuk wilayah Uzbekistan.


“Identitas As-Samarqandy bukan sekadar nama, tetapi penanda geografis asal-usul keluarga mereka. Datuk-datuk Walisongo merupakan bagian dari gelombang besar intelektual, saudagar, dan pendakwah dari Samarkand,” ungkap Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU tersebut.


Cak Firman juga menyoroti hubungan erat antara perpindahan Alawiyyin dengan jalur perdagangan dunia Islam, baik jalur sutera darat maupun laut.


Menurutnya, para leluhur Walisongo bergerak dari Samarkand menuju Gujarat di India, lalu ke Campa di Vietnam sebelum akhirnya menetap di tanah Jawa untuk berdakwah.


Ia menyebut Samarkand dan Bukhara pada masa itu merupakan pusat ilmu pengetahuan dunia Islam yang melahirkan banyak ulama dan intelektual besar.


Untuk memperkuat penjelasannya, Cak Firman merujuk sejumlah kitab primer dan literatur klasik, di antaranya Al-Fakhri fi Ansab al-Talibiyyin karya Ismail bin al-Husain al-Marwazi, Sirr al-Silsilah al-Alawiyyah karya Abu Nashr al-Bukhari, Tahdhib al-Ansab wa Nihayat al-A'qab karya Al-Ubaidili, hingga The Ismailis: Their History and Doctrines karya Farhad Daftary.


“Publik jangan mudah menelan mentah-mentah potongan narasi sejarah di media sosial. Penting membuka kembali kitab-kitab klasik dan catatan perjalanan kuno agar memahami sejarah secara utuh,” tegas Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan itu.


Ia menambahkan, mata rantai sejarah Uzbekistan memiliki posisi penting dalam proses islamisasi Nusantara dan tidak sepatutnya diabaikan dalam pembacaan sejarah Walisongo.


“Di sanalah bermuaranya ilmu dan nasab para datuk Walisongo sebelum sampai ke Nusantara,” pungkasnya. (Red) 

Bagikan:

Komentar