![]() |
| Prosesi lepas pisah SDN Larangan Barma 1 Kecamatan Batuputih, Sumenep.(Dok/Istimewa). |
Kegiatan tahunan yang dimulai pukul 08.00 WIB itu melepas 22 siswa TK PGRI Larangan Barma dan 31 siswa-siswi SDN Larangan Barma 1 yang telah menyelesaikan masa pendidikannya.
Acara dipandu oleh Najwa, siswi kelas 4 SDN Larangan Barma 1. Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dibawakan oleh Farihah Izza Maulida dan Fahira Izza Maulida, siswi kelas 3 SDN Larangan Barma 1.
Suasana semakin khidmat saat Jam’iyatul Hadrah Qottrun Nada melantunkan selawat nabi yang diikuti antusias oleh para tamu undangan dan wali murid yang memenuhi lokasi acara.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Larangan Barma, Ketua Komite beserta jajaran pengurus, Pengawas SD Kecamatan Batuputih, tokoh agama, tokoh masyarakat, simpatisan, serta para orang tua siswa.
Sebanyak 164 siswa kelas 1 hingga kelas 5 juga ikut menyemarakkan acara sebagai bentuk penghormatan dan perpisahan kepada kakak-kakak kelas mereka yang telah lulus.
Kepala SDN Larangan Barma 1, Mohammad Fadil, S.Pd.I., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini memberikan dukungan terhadap kemajuan sekolah.
Menurutnya, kolaborasi antara guru, orang tua, dan masyarakat telah membawa sekolah meraih berbagai prestasi membanggakan di tingkat kompetisi.
“Berkat dukungan dari seluruh pihak, siswa dan siswi SDN Larangan Barma 1 berhasil meraih banyak prestasi. Mulai dari Juara 1 dan 2 Lomba Gerak Jalan, Juara 1 Lomba Lagu Kebangsaan, Juara 2 Catur, Juara 1 Atletik, hingga Juara 2 ISCO Pediyah, serta masih banyak prestasi lainnya,” ujar Mohammad Fadil.
Ia berharap dukungan yang selama ini diberikan terus berlanjut agar sekolah dapat semakin berkembang dan melahirkan generasi berprestasi.
Dalam sambutannya, Pengawas Bina Kecamatan Batuputih, Nurut Taufik, M.Pd., memberikan pesan mendalam kepada para siswa yang telah lulus.
Ia menegaskan bahwa penghormatan kepada guru harus tetap dijaga sepanjang hayat karena guru memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan pengetahuan peserta didik.
“Tidak ada yang namanya mantan guru. Meskipun kalian telah lulus, guru tetaplah guru. Sebab dari guru-guru itulah, kalian telah memperoleh ilmu, dan bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk,” tegasnya.
Nurut Taufik juga mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai budaya Madura yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Sebagai orang Madura, kita harus tetap berpedoman pada filosofi Madura: Buppa', Babu', Guru, Rato (Ayah, Ibu, Guru, Pemerintah/Pemimpin),” katanya.
Prosesi wisuda dan lepas pisah menjadi puncak acara yang dipandu oleh Avan Fathurrahman. Prosesi diawali dengan wisuda 22 siswa TK PGRI Larangan Barma, kemudian dilanjutkan dengan wisuda 31 siswa-siswi SDN Larangan Barma 1.
Menjelang penutupan, KH. Mohammad Ali Rifki Abdullah menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan akhlak dalam kehidupan.
Kyai asal Lenteng tersebut mengingatkan bahwa keberhasilan akademik tidak akan bermakna tanpa sikap hormat kepada orang tua dan guru.
“Yang paling utama adalah akhlaqul karimah,” tuturnya sebelum memimpin doa bersama.
Acara kemudian ditutup dengan penyerahan tali kasih dan kenang-kenangan dari para siswa yang diwisuda kepada pihak sekolah, baik TK maupun SD.
Suasana hangat dan penuh kebersamaan semakin terasa saat siswa-siswi TK PGRI Larangan Barma menampilkan berbagai kreasi yang menghibur para tamu undangan. Penampilan tersebut menjadi penutup manis bagi rangkaian acara yang tidak hanya menjadi momentum perpisahan, tetapi juga perayaan prestasi, pendidikan, dan nilai-nilai luhur budaya Madura. (Avn/Had)


Komentar