|
Menu Close Menu

APTRI Ajak Petani Tebu Bangkitkan Kembali Kejayaan Gula Indonesia

Minggu, 12 Juli 2026 | 14.59 WIB

 

Kegiatan Deklarasi Pengukuhan Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono sebagai Ketua Dewan Penasihat APTRI di Jember.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Jember– Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mengajak seluruh petani tebu bersatu mengembalikan kejayaan industri gula nasional sekaligus memperkuat swasembada pangan. Ajakan tersebut disampaikan Ketua Dewan Pembina APTRI, HM Arum Sabil, dalam Deklarasi Pengukuhan Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono sebagai Ketua Dewan Penasihat APTRI di Jember, Jumat (10/7/2026).


Kegiatan yang dirangkai dengan panen raya tebu itu dihadiri perwakilan APTRI dari Sulawesi Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Turut hadir Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) Mahmudi, Komandan Lanud Abdulrachman Saleh Malang Marsma TNI Reza R.R. Sastranegara, S.Sos., M.A.P., MNSS., Anggota DPD RI Daerah Pemilihan Jawa Timur Dr. Lia Istifhama, S.H.I., S.Sos., S.Sos.I., M.E.I., Bupati Jember Fawaid, Kapolres Jember AKBP Bobby A. Condroputra, S.H., S.I.K., M.Si., serta jajaran Forkopimda Jember.


Dalam kesempatan itu, Arum Sabil menegaskan bahwa Indonesia pernah menjadi salah satu kekuatan besar industri gula dunia. Pada 1930, Indonesia mampu memproduksi sekitar 3 juta ton gula hanya dengan lahan seluas 200 ribu hektare dan teknologi yang masih sederhana.


"Sejarah panjang industri gula di tanah air tidak boleh sekadar menjadi catatan masa lalu. Ini harus menjadi bahan bakar semangat, bahan bakar perjuangan kita untuk mewujudkan swasembada pangan hari ini," ujar Arum, Sabtu (11/7/2026).


Pria yang dikenal dengan topi koboi khasnya itu menilai kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi bersama. Menurutnya, di tengah kemajuan teknologi saat ini, produktivitas industri gula nasional justru belum mampu melampaui capaian masa lalu.


Karena itu, ia mendorong pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan melakukan pembenahan menyeluruh, mulai dari riset, mekanisasi, hingga sistem pendukung sektor pertanian tebu.


"Ini merupakan tantangan bagi kita semua. Kehadiran KASAU di barisan penasihat APTRI harus menjadi momentum emas untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dari hulu ke hilir," tegasnya.


Arum berharap pertemuan yang mempertemukan berbagai unsur pemerintah, TNI, industri, dan petani tersebut menjadi titik balik kebangkitan industri gula nasional.


"Tujuan kita berkumpul di Jember hari ini hanya satu, yaitu menyatukan kekuatan untuk mengembalikan kekayaan dan kejayaan produksi gula nasional kita!" tandasnya.


Sementara itu, KASAU Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono menyatakan dukungannya terhadap upaya mewujudkan kemandirian gula nasional. Ia mengaku prihatin karena Indonesia yang memiliki potensi lahan luas masih bergantung pada impor gula.


"Kami sangat mendukung target dari Presiden terhadap PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), agar Indonesia kembali mandiri dalam memproduksi gula," ujarnya.


Menurut Tonny, dirinya mendapat amanah dari Presiden untuk mendukung program ketahanan pangan, khususnya di sektor tebu dan gula.


"Kita diamanahi oleh Presiden untuk fokus terhadap ketahanan swasembada pangan dalam urusan tebu-gula. Maka dari itu, saya punya kewajiban moral membangun kekuatan ini agar kita tidak perlu impor lagi," katanya.


Direktur Utama PT SGN, Mahmudi, juga mengingatkan bahwa Indonesia pernah menjadi pengekspor gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba pada 1930. Namun kini, kondisi tersebut berbalik sehingga Indonesia menjadi salah satu importir gula terbesar.


"Tahun 1930, Indonesia adalah pengekspor gula pasir dunia terbesar setelah Kuba. Hari ini, kita adalah importir gula terbesar dunia. Ini adalah fakta yang harus tersampaikan sebagai pecut semangat kita semua," ungkap Mahmudi.


Melalui kolaborasi antara pemerintah, TNI, pelaku industri, dan petani tebu, APTRI optimistis upaya membangkitkan kembali kejayaan gula nasional dapat diwujudkan sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan Indonesia. (Red) 

Bagikan:

Komentar