|
Menu Close Menu

Dari Santri Jalanan hingga Doktor, Muhammad Arifin Buktikan Keterbatasan Bukan Penghalang

Minggu, 12 Juli 2026 | 12.20 WIB

Muhammad Arifin saat Rapat Ujian Terbuka gelar doktor di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya– Perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu diawali dengan kehidupan yang mudah. Bagi Muhammad Arifin, jalan panjang yang penuh tantangan, keterbatasan, dan perjuangan justru menjadi pijakan untuk meraih cita-cita hingga berhasil menyandang gelar Doktor Ilmu Administrasi.


Kisah hidup Arifin menjadi inspirasi bahwa pendidikan, doa, dan kerja keras mampu mengubah masa depan. Sosok yang dahulu pernah merasakan kerasnya kehidupan jalanan itu kini berhasil menuntaskan pendidikan tertinggi dan membangun karier di dunia akademik maupun profesional.


"Alhamdulillah, gelar Doktor ini bagian dari proses hidup saya. Semoga bisa membawa berkah dan manfaat bagi orang banyak," ujar Arifin dalam keterangannya, Jumat (10/7/2026).


Perjalanan hidupnya ditempa melalui pendidikan pesantren. Arifin pernah menjadi santri di Pondok Pesantren Nurul Khoir Surabaya dan melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Mojosari, Nganjuk, salah satu pesantren tertua di Jawa Timur yang memiliki sejarah panjang dalam tradisi keilmuan Islam.


Lingkungan pesantren membentuk karakter Arifin dengan nilai-nilai kesederhanaan, kemandirian, kedisiplinan, serta kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Bekal tersebut menjadi fondasi kuat hingga ia mampu terus melangkah meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan.


"Keterbatasan ekonomi tidak boleh membuat kita patah semangat. Justru semangat kita harus berkali lipat dari mereka yang mapan secara ekonomi," tuturnya.


Perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Muhammad Arifin resmi meraih gelar Doktor Ilmu Administrasi dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.


Gelar tersebut diperolehnya setelah berhasil menyelesaikan disertasi berjudul "Implementasi Kebijakan Digitalisasi Pengadaan Buku pada Satuan Pendidikan Dasar di Kota Surabaya."


Melalui penelitian itu, Arifin mengkaji implementasi kebijakan digitalisasi pengadaan buku menggunakan Sistem Informasi Pengadaan Sekolah (SIPLah) dan Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (ARKAS) sebagai upaya memperkuat transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan.


Penelitiannya juga melahirkan pengembangan Model Implementasi Digital–Administratif, yang mengintegrasikan teknologi digital, kapasitas sumber daya manusia, koordinasi kelembagaan, kepercayaan digital, serta tata kelola data dalam pelaksanaan kebijakan pendidikan.


Pencapaian akademik tersebut menjadi tonggak penting bagi Arifin yang pernah menjalani kehidupan dalam keterbatasan. Selain berhasil meraih gelar doktor, ia juga dikenal sebagai pengusaha di bidang buku, dosen di salah satu perguruan tinggi swasta, serta dipercaya mengemban amanah sebagai Bendahara Umum PCNU Kota Surabaya.


Pengalamannya sebagai pelaku usaha di bidang buku turut memperkaya penelitian yang ia lakukan. Baginya, dunia usaha dan dunia akademik saling melengkapi dalam mendorong kemajuan pendidikan.


"Buku bukan sekadar komoditas pendidikan, tetapi instrumen penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk menggapai masa depan yang lebih baik," pungkasnya. (Red) 

Bagikan:

Komentar