|
Menu Close Menu

Dita Amalia, Perintis Keluarga yang Menembus Dunia Hukum dari Desa Sendir

Rabu, 12 Agustus 2026 | 18.36 WIB

Dita Amalia Nur Safitri, S.H., M.Kn.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Sumenep— Tidak lahir dari keluarga berlatar belakang hukum bukan berarti menjadi penghalang bagi Dita Amalia Nur Safitri, S.H., M.Kn. untuk menapaki perjalanan panjang di bidang hukum.


Sebagai anak pertama Kepala Desa Sendir, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, Dita justru menjadikan posisinya sebagai perintis di keluarga sebagai motivasi untuk terus berkembang. Perjalanan itu ia mulai dari bangku kuliah, berlanjut ke dunia profesi hukum, hingga kini mengabdi sebagai Dosen Tetap Fakultas Hukum Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura sekaligus menempuh Program Doktor Hukum dan Pembangunan di Universitas Airlangga.


Dita merupakan sarjana hukum pertama di keluarganya. Ia menyelesaikan pendidikan S1 pada 2021, kemudian melanjutkan Magister Kenotariatan (M.Kn.) di Universitas Airlangga dan menuntaskannya pada 2023.


Kini, ia sedang menempuh Program Doktor Hukum dan Pembangunan Program Pascasarjana Universitas Airlangga dengan fokus riset pada kebijakan fiskal dana desa. Bidang penelitian tersebut memiliki kedekatan langsung dengan lingkungan tempat ia dibesarkan.


Selama masa kuliah, Dita mengaku tidak mengejar ambisi menjadi mahasiswa yang paling pintar di kelas. Ia memilih memperluas relasi lintas fakultas dan aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan, seperti BEM, Ikatan Duta Kampus, serta Duta Pariwisata di Kabupaten Sumenep.


Pengalaman tersebut menjadi bekal penting yang menurutnya membentuk cara pandang dan kemampuannya untuk bergerak di berbagai bidang hingga saat ini.


Motivasi terbesar dalam perjalanan akademiknya datang dari kedua orang tua yang membiayai penuh pendidikannya melalui jalur mandiri, mulai dari S1 hingga S3.


Dukungan tersebut sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab besar dalam diri Dita. Sebagai lulusan hukum pertama di keluarganya, ia menjadi rujukan bagi lingkungan terkecilnya maupun desa tempat ayahnya menjabat sebagai kepala desa.


Tanpa latar belakang keluarga di bidang hukum, Dita harus membangun peta jalannya sendiri.


Menjajal Berbagai Profesi Hukum


Di bidang profesi hukum, Dita terdaftar sebagai Anggota Luar Biasa Ikatan Notaris Indonesia (INI) dan ALB IPPAT sejak 2023, tidak lama setelah menyelesaikan studi magisternya.


Ia juga tercatat sebagai anggota PERADI sebagai calon advokat setelah menuntaskan Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) dan Ujian Profesi Advokat (UPA).


Menurut Dita, ketertarikannya menjajal dunia advokat lahir dari jiwa eksplorasi yang tinggi. Ia ingin terus mempelajari hal-hal baru di luar bidang kenotariatan sekaligus membangun relasi dengan penegak hukum lainnya.


Progres akademiknya di jenjang doktoral pun tidak berhenti di ruang kelas. Dita telah memiliki publikasi jurnal dan saat ini sedang menggarap penelitian untuk jurnal bereputasi Q2, sejalan dengan fokus risetnya mengenai kebijakan fiskal dana desa.


Mengabdi sebagai Dosen


Dedikasi Dita di dunia akademik kini berlanjut sebagai Dosen Tetap Fakultas Hukum UNIBA Madura.


Bagi Dita, mengajar bukan sekadar mentransfer ilmu kepada mahasiswa. Ruang akademik juga menjadi tempat untuk berbagi pengalaman lintas profesi, mulai dari kenotariatan hingga dunia advokasi, kepada generasi hukum baru di Madura.


Dengan pengalaman akademik dan profesinya, ia berupaya membawa perspektif praktis ke dalam proses pembelajaran agar mahasiswa tidak hanya memahami teori hukum, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai dunia profesi yang akan mereka masuki.


Hobi yang Berubah Menjadi Peluang Bisnis


Di luar dunia hukum, Dita memiliki sisi lain yang tidak kalah aktif. Kegemarannya traveling dan menjajal kuliner mancanegara ia ubah menjadi peluang bisnis melalui jasa titip (jastip).


Bisnis tersebut dijalankan untuk perjalanan domestik dari Bali, Jakarta, dan Surabaya, maupun perjalanan internasional, khususnya Thailand dan Malaysia. Hobi tersebut menurutnya sekaligus memberikan keuntungan.


Kemampuan berbahasa Indonesia, Inggris, dan Arab juga membuat Dita kerap dipercaya menjadi pembawa acara (MC), baik untuk kegiatan formal maupun nonformal.


“Lebih baik jadi orang besar di lingkungan yang kecil, daripada jadi orang kecil di lingkungan yang besar. Tapi untuk bermanfaat bagi orang lain, kamu tidak perlu menunggu menjadi orang besar,” ujar Dita.


Kalimat tersebut menggambarkan semangat yang mewarnai perjalanan Dita dalam mengembangkan diri sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.


Mengajak Perempuan Madura Berani Bermimpi


Bagi Dita, perjalanan yang ia tempuh juga menjadi pesan bagi masyarakat Madura, khususnya perempuan-perempuan hebat di daerah tersebut, agar tidak takut memiliki mimpi setinggi dan sebanyak mungkin.


Ia mendorong perempuan untuk terus belajar tanpa henti dan tidak membatasi diri hanya karena pandangan sosial yang berkembang di lingkungan sekitar.


Dita tidak menampik masih adanya stigma di masyarakat bahwa perempuan yang berpendidikan tinggi “ditakuti” laki-laki. Namun, menurutnya, pendidikan tinggi bagi perempuan bukan tentang menyaingi laki-laki.


“Bukan soal menyaingi laki-laki, melainkan tentang memperbaiki generasi,” ujarnya.


Melalui perpaduan peran sebagai akademisi, praktisi hukum, dan pegiat bisnis, Dita Amalia Nur Safitri menunjukkan bahwa pengabdian dan pengembangan diri dapat ditempuh melalui banyak jalur.


Pendidikan, profesi, hingga eksplorasi minat pribadi menjadi bagian dari ikhtiarnya untuk terus berkembang dan memberi manfaat bagi masyarakat Madura, khususnya melalui perannya sebagai pendidik di UNIBA Madura. (Yud) 

Bagikan:

Komentar