![]() |
| KH. Abdul Basith Abdullah Sajjad.(Dok/Istimewa). |
KH. Abdul Basith Abdullah Sajjad wafat pada Kamis, 13 Agustus 2026, bertepatan dengan malam Jumat. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar pesantren, khususnya para santri dan alumni yang selama ini mengenal beliau sebagai pengasuh sekaligus sosok teladan.
Duka mendalam juga disampaikan oleh K.Hambali Mahtum, salah seorang santri Annuqayah yang kini dipercaya menjabat sebagai ketua MWCNU Pragaan. Kedekatan beliau dengan lingkungan pesantren membuat kabar wafatnya KH. Abdul Basith Abdullah Sajjad menjadi kehilangan yang begitu berarti.
Bagi para santri dan alumni, wafatnya beliau bukan sekadar kehilangan seorang guru, melainkan juga kehilangan sosok yang selama bertahun-tahun hadir memberikan ilmu, nasihat, bimbingan, serta keteladanan dalam kehidupan.
"Keistiqamahan beliau dalam mendidik dan mengayomi umat menjadi salah satu jejak pengabdian yang paling dikenang. Beliau sosok kiai yang senantiasa hadir di tengah umat dengan ilmu dan keteladanan tersebut meninggalkan pengaruh yang melampaui batas usia kehidupannya," jelas K. Hambali Mahtum.
Banyak santri dan alumni merasakan duka yang mendalam. Hubungan antara kiai dan santri tidak hanya sebatas relasi pengajar dan peserta didik, melainkan ikatan keilmuan, adab, dan keteladanan yang terus melekat hingga para santri kembali ke tengah masyarakat.
Salah satu alumni asal Jaddung, Pragaan, Sumenep, Rohami, juga turut menyampaikan rasa kehilangan mendalam melalui pesan status WhatsApp. Ia mengenang almarhum sebagai sosok yang istiqamah dalam mendidik dan mengayomi umat.
Wafatnya KH. Abdul Basith Abdullah Sajjad menjadi pengingat bahwa seorang ulama mungkin telah berpulang secara jasmani, namun ilmu, nasihat, perjuangan, dan keteladanan yang diwariskan akan terus hidup melalui para santri dan generasi penerusnya.
Kini, para santri dan alumni hanya dapat mengenang, mendoakan, serta melanjutkan nilai-nilai kebaikan yang telah beliau tanamkan semasa hidup.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum, mengampuni segala dosa dan kekhilafannya, melimpahkan rahmat dan maghfirah-Nya, melapangkan alam kuburnya, serta menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, para santri, alumni, dan seluruh masyarakat yang berduka, semoga Allah SWT memberikan kekuatan, kesabaran, dan ketabahan.
Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.
Selamat jalan, Kiai. Keteladanan dan keistiqamahan dalam mendidik serta mengayomi umat akan senantiasa menjadi bagian dari jejak pengabdian yang dikenang. Semoga ilmu dan keteladanan yang diwariskan menjadi amal jariyah yang terus mengalir tanpa terputus. (MQ)


Komentar