|
Menu Close Menu

Kuota Inden Santri IBS PKMKK Pamekasan Penuh hingga 2028

Senin, 17 Agustus 2026 | 13.06 WIB

IBS PKMMK Pamekasan.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Pamekasan— Komitmen terhadap pendidikan Islam yang berkeadilan dan bermartabat terus ditunjukkan Islamic Boarding School (IBS) Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan.


Tingginya antusiasme masyarakat membuat pagu pendaftaran inden santri di lembaga tersebut terpenuhi. Kuota jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs) telah penuh hingga tahun 2028, sedangkan jenjang Madrasah Aliyah (MA) terpenuhi untuk tahun 2027.


Berdasarkan data resmi lembaga, kuota santri MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning untuk tahun ajaran 2027 dan 2028 masing-masing telah terpenuhi sebanyak 120 orang.


Selain itu, terdapat 75 orang yang tercatat dalam daftar cadangan.


Sementara untuk jenjang MA, kuota sebanyak 35 santri untuk tahun 2027 juga telah terpenuhi. Sebanyak 10 orang lainnya tercatat dalam daftar cadangan.


Direktur Utama PKMKK Pamekasan, Prof. Dr. KH. Achmad Muhlis, mengatakan pembatasan jumlah santri dilakukan secara ketat dan terukur.


Kebijakan tersebut diterapkan untuk menjaga proporsi sekaligus memastikan kesiapan fasilitas pendidikan yang disediakan pesantren.


“Pembatasan ini kami lakukan demi mengimbangi kelayakan dan kesiapan fasilitas yang ada. Kami ingin memastikan setiap santri yang masuk ke MTs dan MA Kyai Mudrikah Kembang Kuning mendapatkan layanan pendidikan terbaik dengan kesetaraan fasilitas,” jelasnya saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Senin (17/8/2026).


Ketua Senat UIN Madura itu menegaskan, tidak boleh ada perbedaan fasilitas bagi santri berdasarkan latar belakang ekonomi maupun kemampuan akademik.


Di IBS PKMKK, santri dari keluarga kaya maupun miskin, termasuk santri yang cerdas maupun yang belum memiliki kategori “cerdas istimewa”, mendapatkan hak dan fasilitas yang sama.


“Semua mendapatkan hak dan fasilitas yang sama,” tegas Prof. Achmad Muhlis.


Pembatasan kuota tersebut juga bertumpu pada standar kenyamanan dan kesehatan santri dalam menuntut ilmu.


Pertama, asrama sehat dan kondusif. Setiap santri dijamin memiliki tempat istirahat yang sehat dan layak sehingga memiliki ruang yang cukup untuk berkreasi secara optimal.


Kedua, kenyamanan ruang kelas. Kuota maksimal ditetapkan 30 santri per kelas untuk memastikan proses belajar-mengajar berlangsung interaktif dan menyenangkan.


Ketiga, fasilitas pembelajaran modern. IBS PKMKK menyiapkan konsep one student, one laptop atau satu anak satu laptop untuk menunjang pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas.


Keempat, laboratorium dan peralatan elektronik terstandar. Lembaga menjamin rasio peralatan laboratorium 1:10.


Selain itu, tersedia perangkat penunjang kreativitas modern seperti kamera fotografi, Smart TV, dan papan digital dengan memperhitungkan rasio ideal antara santri, guru, dan peralatan.


Prof. Dr. KH. Achmad Muhlis menekankan, pemenuhan fasilitas dan tata kelola pendidikan yang berkeadilan di IBS PKMKK merupakan wujud konkret manifestasi nilai-nilai kenabian atau sifat ma’sum Rasulullah dalam dunia pendidikan modern.


Menurutnya, pendidikan Islam tidak sebatas mengasah ketajaman intelektual.


Pendidikan juga harus membina karakter, kepribadian spiritual, serta kesadaran terhadap tanggung jawab sosial para santri.


“Ketika seorang guru mengajar dengan amanah, ia sedang menghidupkan nilai kenabian. Ketika seorang santri menulis dengan jujur, ia sedang menghidupkan sifat Siddiq. Ketika seorang pemimpin menggunakan kewenangannya untuk kepentingan masyarakat, ia sedang menghadirkan Amanah,” tuturnya.


“Ketika seorang intelektual menyampaikan ilmu dengan santun dan bertanggung jawab, ia sedang menghadirkan Tabligh. Dan ketika generasi muda mengembangkan teknologi untuk pendidikan, ekonomi, kesehatan, serta kemajuan masyarakat, ia sedang menghidupkan Fatonah,” lanjut Prof. Muhlis.


Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam itu juga merefleksikan pentingnya empat sifat kenabian tersebut dalam konteks menjaga kemerdekaan bangsa Indonesia.


Pertama, Siddiq (kejujuran). Kemerdekaan membutuhkan kejujuran agar fondasi pembangunan bangsa berdiri di atas kebenaran.


Kedua, Amanah (tanggung jawab). Kemerdekaan membutuhkan amanah agar kekuasaan serta sumber daya alam dan manusia dikelola secara bertanggung jawab demi kemaslahatan bersama.


Ketiga, Tabligh (menyampaikan kebaikan). Kemerdekaan membutuhkan tabligh agar ruang komunikasi kebangsaan senantiasa diwarnai keadaban, keharmonisan, dan kebijaksanaan.


Keempat, Fatonah (kecerdasan dan inovasi). Kemerdekaan membutuhkan fatonah agar generasi muda mampu melahirkan inovasi, memperdalam ilmu pengetahuan, dan menguasai teknologi modern.


“Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang mampu menjadikan kemerdekaan sebagai ruang luas untuk menghadirkan kemaslahatan. Di sinilah pendidikan Islam memegang posisi yang sangat strategis,” pungkas Direktur Utama PKMKK tersebut.


Melalui perpaduan manajemen fasilitas yang adil dan penanaman karakter berbasis nilai kenabian, IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning Pamekasan terus berkomitmen mencetak generasi santri.


Para santri diarahkan tidak hanya unggul secara digital dan akademis, tetapi juga memiliki akhlak mulia serta jiwa nasionalis. (Red)

Bagikan:

Komentar