|
Menu Close Menu

Merestorasi Politik melalui Keteladanan Surya Paloh

Selasa, 18 Agustus 2026 | 06.37 WIB

 

Judul: 9 Asketisme Politik Kontribusi Surya Paloh Dalam Merestorasi Politik di Indonesia


Penulis: Moch Eksan


Kata Pengantar: Prof. Dr. Imam Suprayogo


Editor: Aida Lutfiah & Evilia Anggraini


Desain Cover: Saedi


Tata Aksara: Dimaswids


Penerbit: Pustaka Pelajar bekerjasama dengan Eksan Institute


Tebal Halaman: xv 263 Halaman


ISBN: 978-623-236-254-3


(Cetakan ke-2 Oktober 2025)


Merestorasi Politik melalui Keteladanan Surya Paloh


Membaca Konstruksi Asketisme Politik Surya Paloh ala Pemikiran Moch. Eksan


Oleh: Muhamad Najwan Alfasya, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Program Studi Pendidikan Agama Islam serta Aktivis PMII Rayon “Kawah Chondrodimuko”


Sinopsis: Surya Paloh mendirikan Partai NasDem, bukan untuk kepentingan diri dan keluarganya. Akan tetapi, menjadikan partai ini sebagai alat perjuangan gerakan perubahan merestorasi Indonesia. Ia telah membuktikan ucapan dalam perilakunya. Ternyata, masih ada anak negeri yang mendedikasikan sisa hidupnya untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa.


Partai NasDem benar-benar menjadi kendaraan kaum pergerakan. Prananda Surya Paloh (DPR RI Periode 2014-2019 dan 2019-2024), berada di garda terdepan mendukung politik asketis sang ayah, sehingga ia rela menjadi anggota biasa dan menduduki pucuk pimpinan dewan. Di pihak lain, publik menominasikan jadi Menpora, tetapi Surya Paloh merasa tidak cocok dan menempatkan kader lain. Ini, sebuah pengorbanan luar biasa dari seorang ketua umum yang memiliki trah di dunia politik.


Surya Paloh adalah politisi asketis terbesar abad ini di Indonesia. Banyak nilai asketisme politik menjadi inspirasi bagi politisi kini dan nanti. Layaknya sumber mata air terus mengalir, yang menjadi amal jariyah dalam mewujudkan rakyat Sejahtera, bangsa bermartabat dan negara kuat.


Resensi:


Moch. Eksan dalam buku yang berjudul “9 Asketisme Politik Kontribusi Surya Paloh Dalam Merestorasi Politik di Indonesia” ini menggambarkan sosok Surya Paloh dengan melihat keadaan politik Indonesia yang terjadi saat ini. Menurutnya, dunia politik masih sering berjalan dengan mengesampingkan nilai moral dan etika. Padahal, kedua hal tersebut seharusnya menjadi dasar dalam menjalankan politik, terutama untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Melalui kondisi tersebut, penulis memperkenalkan gagasan asketisme politik sebagai cara untuk melihat bagaimana politik dapat dijalankan dengan tetap berpegang pada nilai moral dan kepentingan masyarakat.


Sinopsis yang dipaparkan “Surya Paloh mendirikan Partai NasDem, bukan untuk kepentingan diri dan keluarganya. Akan tetapi, menjadikan partai ini sebagai alat perjuangan gerakan perubahan merestorasi Indonesia” dalam cover belakang buku tersebut bukan hanya narasi belaka, melainkan memang benar begitu adanya. Perkataannya dapat dilihat dari tindakan dan perilaku yang ia lakukan. Baik kemarin, saat ini, dan di masa yang akan datang.


Buku ini secara garis besar menceritakan bagaimana sikap Surya Paloh dalam merestorasi politik di Indonesia dengan gaya berpolitiknya yang unik menurut prespektif Moch Eksan. Dalam bukunya, penulis mengatakan bahwa Surya Paloh tak punya ambisi apa pun, kecuali ingin melihat Indonesia lebih baik dari sebelumnya. Ia memilih sebagai teacher of nation yang memberi kesempatan seluas-luasnya kepada putra-putri terbaik bangsa untuk tampil. (Hal. 9) Hal ini memang terjadi nyatanya. Bahkan, mantan ketua BPIP Yudi Latif berkata, Surya paloh menolak tawaran PDIP menjadi calon wakil presiden Jokowi pada pemilu 2014. Tapi disisi lain, ia tetap mendukung Jokowi tanpa syarat. (Hal.10). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ia telah menjadi pemegang kekuasaan tertinggi dalam partai, tetapi ia tidak haus akan kekuasaan maupun jabatan. Bahkan, ia rela memberikan jabatan-jabatan tinggi politik kepada kader yang memang berpotensi merestorasi pemerintahan menjadi lebih baik.


Seperti yang dikatakan Surya Paloh dalam penilaiannya, “Meski Indonesia sudah 75 tahun merdeka, derajat kesejahteraan rakyat Indonesia tak berbanding lurus dengan kekayaan sumberdaya alam yang dimiliki. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia tak selaras dengan peningkatan daya saing bangsa.” (Hal 67) Walaupun kelihatannya pahit, namun realita di lapangan membuktikan seperti itu. Sumber daya alam yang digerus habis-habisan hanya menggendutkan isi dompet segelintir pejabat namun tidak mengenyangkan perut rakyat dhuafa.


Dalam buku yang kata pengantarnya ditulis oleh mantan rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini disebutkan bahwa “Nasionalisme yang dikembangkan di Indonesia tentu bukan nasionalisme buta yang chauvinistik. Dimana, seluruh warga negara wajib membela negara tak peduli benar atau salah. Seperti yang diajarkan oleh John F Kennedy, right or wrong is my country (benar atau salah negara saya). Tetapi nasionalisme sejati menuntut pembelaan pada yang benar. Negara memberi ruang kritis untuk menumbuhkan loyalitas kritis.” (Hal. 77)


Surya paloh kemudian berpandangan: “Sesungguhnya seorang yang layak disebut “patriot sejati” Adalah orang yang selain menjunjung dan mencintai kelompoknya baik itu etnis budayanya, agama, partai atau negara, dan lebih dari itu harus menjunjung harkat dan nilai-nilai kemanusiaan.” (Hal. 77). Kekuatan gagasan Surya Paloh ini terletak pada upayanya untuk menggeser nasionalisme dari sekadar loyalitas terhadap negara menjadi loyalitas terhadap nilai-nilai yang menjadi tujuan negara itu sendiri. Dengan begitu, mencintai Indonesia bukan hanya dengan membela negara, tetapi juga dengan berani mengoreksi dan mengkritisi ketika terjadi ketidakadilan dan membela martabat manusia terutama pada kaum dhuafa.


Di sisi lain, Moch Eksan berpandangan bahwa demokrasi dan kesejahteraan rakyat masih belum bisa berjalan beriringan. Menurutnya, proses politik memang telah melahirkan negara yang demokratis, namun belum dapat membuahkan kesejahteraan rakyat yang adil dan merata. (Hal. 14). Ia menambahkan bahwa capaian demokrasi itu masih prosedural belum substansial. Demokrasi belum berbuah kesejahteraan dan kepastian hukum. Menurut Surya Paloh, pelaksanaan demokrasi masih sebatas rule of the game yang menjamin rekrutmen kepemimpinan yang terbuka dan partisipatoris. Sayangnya, rakyat memilih bukan karena pilihan sadar tetapi karena iming-iming dan ancaman. (Hal. 89).


Melalui uraian tersebut, penulis seolah mengajak pembaca untuk tidak cepat berpuas diri dengan label negara demokratis. Demokrasi yang hanya berhasil melahirkan mekanisme politik, tetapi belum mampu menghadirkan kesejahteraan, keadilan, dan kepastian hukum, masih menyisakan persoalan mendasar. Dengan demikian, tantangan demokrasi Indonesia bukan lagi sekadar bagaimana menjaga prosedur demokrasi tetap berjalan, melainkan bagaimana menjadikan demokrasi benar-benar memiliki dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat.


Kelebihan:


Keberanian penulis dalam menghadirkan sudut pandang yang berbeda mengenai kehidupan politik. Penulis melihat politik bukan hanya sebagai perebutan kekuasaan, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian yang berlandaskan moral dan kepentingan rakyat dengan narasi yang sangat mudah dipahami oleh berbagai kalangan.


Penulis mengaitkan konsep asketisme politik dengan tindakan Surya Paloh sehingga pembahasan tidak sebatas prespektif dari penulis tetapi juga langsung menghadirkan gagasan langsung dari Surya Paloh dengan menghadirkan data-data yang sesuai sehingga pembahasan lebih seru dan lebih mudah dipahami.


Buku ini tidak hanya membahas tentang Surya Paloh, tetapi juga menghadirkan kritik-kritik terhadap pemerintah maupun budaya demokrasi yang yang dinilai belum sepenuhnya membuahkan kesejahteraan bagi rakyat.


Kekurangan:


Penyampaian gagasan dalam buku ini cukup mudah dipahami, namun masih ditemukan beberapa kesalahan pengetikan pada sejumlah kalimat.


Gagasan asketisme politik akan lebih kuat jika dibandingkan dengan lebih banyak teori atau konsep politik lainnya.


Sering ditemukan kalimat atau kata yang asing seperti rule of the game, restorasi, asketisme, dan lain sebagainya yang bisa membuat pembaca awam perlu membaca lebih teliti lagi.


Kesimpulan:


Secara keseluruhan, buku 9 Asketisme Politik Kontribusi Surya Paloh dalam Merestorasi Politik di Indonesia menggambarkan pemikiran dan perjalanan politik Surya Paloh dalam melihat persoalan bangsa. Moch. Eksan menunjukkan bahwa politik tidak harus selalu identik dengan kekuasaan, tetapi juga dapat menjadi jalan pengabdian untuk kepentingan rakyat dan kemajuan bangsa. Melalui gagasan tentang nasionalisme, demokrasi, kepemimpinan, dan kesejahteraan, buku ini mengajak pembaca melihat politik dari sisi moral dan tanggung jawab. Sosok Surya Paloh kemudian digambarkan sebagai politisi yang berusaha menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Buku ini pada akhirnya menjadi sebuah refleksi bahwa politik yang baik bukan hanya tentang mendapatkan kekuasaan, tetapi tentang bagaimana kekuasaan tersebut digunakan untuk memberikan perubahan bagi masyarakat dan Indonesia.

Bagikan:

Komentar