|
Menu Close Menu

UNIBA Madura Dorong Limbah Ternak Jadi Pupuk Bernilai Ekonomi

Rabu, 12 Agustus 2026 | 17.16 WIB

 

UNIBA Madura saat berkunjung ke Kantor BRIDA Kabupaten Sumenep.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Sumenep— Universitas Bahaudin Mudhary Madura (UNIBA Madura) mendorong pemanfaatan kotoran hewan yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah menjadi produk bernilai guna untuk mendukung sektor pertanian.


Gagasan tersebut dipaparkan dalam kegiatan presentasi dan diskusi mengenai pengembangan biokompos sebagai aktivator serta pupuk organik cair (POC) di Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Sumenep.


Kegiatan itu dihadiri Sekretaris BRIDA Sumenep, perwakilan Dinas Pertanian, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup, serta jajaran staf BRIDA Sumenep. Kepala BRIDA Sumenep, Bintoro, turut hadir dan memberikan perhatian terhadap pengembangan inovasi serta pemanfaatan sumber daya lokal di Kabupaten Sumenep.


Dari UNIBA Madura, kegiatan diikuti sejumlah narasumber tim UNIBA Madura, yakni Dr. (C) Budyi Suswanto, MT, Dr. Bambang Sugiyono Agus Purwono, MSc, Novi Wahyuningtyas, MT, Siti Umyana, MM, Alief, SKom, Ir. Awiyanto, MM, dan Deni.


Budyi Suswanto memaparkan potensi kotoran hewan untuk diolah menjadi bahan yang bermanfaat bagi sektor pertanian. Pengolahan tersebut diarahkan untuk menghasilkan biokompos dan pupuk organik cair yang dapat mendukung peningkatan kualitas tanah sekaligus mengurangi persoalan lingkungan akibat limbah peternakan.


Sementara itu, Bambang SAP menjelaskan bahwa pemanfaatan limbah organik memiliki potensi strategis bagi Sumenep. Terlebih, sektor pertanian dan peternakan merupakan bagian penting dari aktivitas ekonomi masyarakat.


Menurutnya, melalui pendekatan inovasi dan teknologi tepat guna, limbah peternakan atau kohe dapat diubah menjadi produk yang memiliki nilai tambah sekaligus mendukung konsep pertanian yang lebih berkelanjutan.


Salah satu pembahasan penting dalam kegiatan tersebut berkaitan dengan izin edar pupuk organik. Peserta diskusi menilai aspek legalitas dan standar mutu menjadi bagian penting apabila produk hasil inovasi nantinya dikembangkan dan dimanfaatkan secara lebih luas oleh masyarakat.


Novi Wahyuningtyas memaparkan, selain proses produksi pupuk organik, muncul gagasan untuk membuat demo plot (demplot) sebagai tahap pengujian sekaligus pembuktian manfaat produk secara langsung di lapangan.


Demplot diharapkan menjadi sarana untuk melihat efektivitas penggunaan biokompos dan pupuk organik cair terhadap tanaman, sekaligus menjadi media edukasi bagi petani dan masyarakat.


“Dan tentunya semua kegiatan itu harus menghasilkan uang. Inovasi yang berhasil haruslah menghasilkan uang,” tambah Umyana.


Pembahasan kemudian berkembang pada peluang kolaborasi antara BRIDA Sumenep dan UNIBA Madura. Awiyanto memberikan saran agar kolaborasi tersebut tidak berhenti pada kegiatan presentasi, tetapi dilanjutkan melalui riset, pengembangan produk, pengujian lapangan, pendampingan masyarakat hingga hilirisasi hasil inovasi.


Sementara Alief yang fokus pada teknologi IoT menyampaikan gagasan inovasi lain berupa monitoring dengan memanfaatkan Internet of Things (IoT).


Kerja sama antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dinilai penting untuk mempertemukan kekuatan riset dan inovasi dari perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat serta kebijakan pembangunan daerah.


Kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah untuk mendorong pengembangan inovasi berbasis potensi lokal Sumenep.


Pemanfaatan kotoran hewan sebagai bahan baku pupuk organik diharapkan mampu memberikan manfaat ganda, mulai dari mengurangi limbah, meningkatkan nilai ekonomi sumber daya lokal, hingga mendukung sektor pertanian.


UNIBA Madura bersama BRIDA Sumenep diharapkan terus membangun komunikasi dan kolaborasi dalam mengembangkan berbagai inovasi yang aplikatif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.


Melalui sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, perangkat daerah terkait, dan masyarakat, hasil riset dan inovasi diharapkan dapat terus dikembangkan dari tahap penelitian menuju penerapan dan pemanfaatan secara nyata di lapangan. (Yud) 

Bagikan:

Komentar