|
Menu Close Menu

Bangun Budaya Literasi Sejak Dini, Rumah Baca di Desa Banyuputih Bondowoso Didorong Lebih Optimal

Kamis, 10 September 2026 | 19.29 WIB


Kegiatan PKM FEB UNESA di Bondowoso.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Bondowoso – Upaya meningkatkan budaya literasi sejak usia dini terus dilakukan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Surabaya (UNESA), bertema “Optimalisasi Budaya Literasi Anak Desa melalui Pemanfaatan Rumah Baca”.


Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 16 Agustus 2026 di Desa Banyuputih, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso.


Sebanyak 35 anak berusia 6–9 tahun mengikuti kegiatan tersebut dengan melibatkan perangkat desa.


Para peserta mendapatkan pendampingan literasi membaca. Masing-masing anak juga memperoleh dua buku bacaan untuk meningkatkan minat dan kebiasaan membaca di rumah.


Kegiatan PKM tidak hanya berfokus pada aktivitas membaca. Program dikemas secara menyenangkan melalui berbagai games edukatif dan permainan tradisional.


Suasana kegiatan berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Anak-anak terlihat bahagia dan bersemangat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan di Pendopo Desa Banyuputih.


Kepala Desa Banyuputih, Ahmad Syahid, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan program tersebut.


Menurutnya, kegiatan yang melibatkan anak-anak secara langsung di lingkungan desa memiliki manfaat penting bagi perkembangan generasi muda.


“Program PKM ini sangat bermanfaat untuk kemajuan pemuda ke depan. Kegiatan seperti ini harus sering dilakukan dengan melibatkan anak-anak di pendopo desa, sehingga pendopo menjadi lebih ramai dan tentunya memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkap Ahmad Syahid, Kamis (10/09/2026). 


Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Syahid juga menjelaskan bahwa Desa Banyuputih merupakan salah satu desa percontohan dalam upaya pencegahan pernikahan usia dini.


Selain itu, Desa Banyuputih memiliki sejumlah potensi wisata yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari potensi desa di Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso.


Sementara itu, Muhammad Wahyu Ariyanto, dosen Program Studi S1 Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Surabaya (UNESA), menekankan pentingnya membangun budaya literasi sejak anak berada pada usia dini.


“Pendidikan anak harus dimulai sejak dini, salah satunya melalui budaya membaca. Anak perlu didukung dan diberikan lingkungan yang mendorong mereka untuk mau belajar membaca dan menulis,” ujar Muhammad Wahyu Ariyanto.


Ia menambahkan, berbagai upaya untuk meningkatkan kemampuan literasi harus dilakukan secara kreatif dan menyenangkan.


Permainan edukatif maupun permainan tradisional dapat menjadi media alternatif untuk mendukung proses belajar anak sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap game online.


Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung penguatan literasi masyarakat desa.


Melalui pemanfaatan rumah baca, pemberian buku, permainan edukatif, serta keterlibatan pemerintah desa, diharapkan tumbuh kebiasaan membaca yang berkelanjutan di kalangan anak-anak.


Program tersebut sekaligus menunjukkan bahwa peningkatan literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah.


Penguatan budaya membaca membutuhkan sinergi antara keluarga, pemerintah desa, masyarakat, dan perguruan tinggi.


Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, anak-anak desa diharapkan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berkembang, belajar, dan menjadi generasi muda yang berkualitas bagi masa depan. (Red) 

Bagikan:

Komentar