![]() |
| Rektor UIN Madura, Saiful Hadi saat wawancara dengan media.(Dok/Istimewa). |
Mengusung tema “Tracing the Intellectual Legacy of Nusantara Ulama for Sustainable Civilization and Global Wisdom”, konferensi ini menegaskan pentingnya menelusuri, mereaktualisasi, dan mengontekstualisasikan warisan intelektual ulama Nusantara sebagai sumber inspirasi bagi pembangunan peradaban yang berkelanjutan dan berorientasi pada kearifan global.
ICONIS ke-10 menghadirkan tiga pemateri utama dari latar belakang akademik dan internasional yang kuat, yakni Dr. H. M. Faried F. Saenong, M.A., Ph.D., Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia; Prof. Dr. Suliman Hassan Suliman Elwarfali dari Alrefak University, Libya; serta Prof. Dr. Mohd Roslan bin Mohd Nor dari University of Malaya, Malaysia.
Kehadiran para pemateri tersebut memperkaya dialog akademik mengenai relasi antara khazanah intelektual Islam Nusantara, perkembangan keilmuan kontemporer, dan tantangan peradaban global.
" Pelaksanaan konferensi menggunakan skema hybrid, yang mempertemukan partisipasi akademik secara langsung dan daring. Sebanyak sembilan ruang presentasi diselenggarakan secara offline dan empat ruang secara online, termasuk ruang khusus bagi para Guru Besar, " jelas Rektor UIN Madura, Saiful Hadi.
Skema ini memperluas ruang pertukaran gagasan sekaligus mempertemukan berbagai perspektif keilmuan dalam satu ekosistem akademik yang kolaboratif dan lintas disiplin.
Antusiasme akademik terhadap ICONIS ke-10 tercermin dari tingginya jumlah naskah yang masuk. Sebanyak 260 artikel dari berbagai peneliti dan akademisi telah diterima panitia, sementara 124 artikel terpilih untuk dipresentasikan dalam forum konferensi.
Para pemakalah berasal dari sejumlah negara, di antaranya Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan Oman, yang menunjukkan semakin luasnya jejaring akademik dan relevansi isu-isu keislaman dalam percakapan ilmiah internasional.
Keragaman asal negara dan latar keilmuan peserta memperlihatkan bahwa kajian Islam tidak lagi dapat dibaca hanya dalam batas geografis tertentu. Warisan ulama Nusantara, melalui ICONIS, ditempatkan dalam dialog yang lebih luas dengan persoalan keberlanjutan peradaban, transformasi sosial, moderasi, pendidikan, ekonomi, budaya, dan perkembangan pengetahuan global.
Dengan demikian, khazanah Islam Nusantara tidak sekadar diposisikan sebagai memori sejarah, tetapi sebagai sumber pengetahuan yang terus dapat direinterpretasi untuk menjawab persoalan zaman.
Artikel-artikel yang telah dipresentasikan selanjutnya akan diarahkan untuk diterbitkan melalui berbagai kanal publikasi ilmiah bereputasi, antara lain ICONIS Proceedings, Atlantis Proceedings, Al-Ihkam, Karsa, Okara, Al-Manhaj, Alibba’, As-Shahifah, Edu Consilium, El-Nubuwwah, Entita, Guancaran, Islamuna, Iqtishadia, Mubtadi, Panyonara, Rebbani, Revelatia, Shafin, dan Tadris.
Proses publikasi tersebut menjadi bagian penting dari komitmen konferensi dalam memastikan bahwa gagasan yang lahir dari ruang diskusi tidak berhenti sebagai wacana, tetapi berkembang menjadi kontribusi ilmiah yang dapat diakses dan dipertukarkan dalam komunitas akademik yang lebih luas.
Melalui ICONIS ke-10, warisan intelektual ulama Nusantara kembali dipertemukan dengan tantangan masa kini dan masa depan. Konferensi ini menegaskan bahwa peradaban berkelanjutan membutuhkan fondasi pengetahuan yang kuat, dialog lintas bangsa yang terbuka, serta kemampuan menggali kebijaksanaan masa lalu untuk melahirkan solusi bagi dunia kontemporer.
ICONIS bukan sekadar forum presentasi artikel, melainkan ikhtiar kolektif untuk menghubungkan khazanah Islam, tradisi intelektual Nusantara, dan kebijaksanaan global dalam membangun horizon peradaban yang lebih berkelanjutan. (Red)


Komentar