![]() |
| Marta Arifiana menyiapkan chikuro yang dibuat langsung saat ada pesanan. (Fitri) |
Marta mengatakan, dirinya memilih chikuro karena melihat produk tersebut belum banyak dijual di sekitar Telang. Kondisi itu membuatnya tertarik untuk menghadirkan jajanan yang berbeda bagi masyarakat di kawasan tersebut.
“Karena di sekitar daerah Telang khususnya belum ada yang berjualan,” ujar Marta, Selasa 8/9/26.
Salah satu keunikan yang ditawarkan Marta adalah chikuro dibuat secara dadakan ketika ada pembeli. Chikuro dicetak saat dipesan sehingga produk yang disajikan kepada pelanggan tetap fresh.
Dalam sehari, Marta menyiapkan sekitar 30 pcs chikuro. Pembeli dapat memilih berbagai bumbu tabur, seperti BBQ, balado, pedas daun jeruk, chili, sapi panggang, dan asin. Selain itu, tersedia saus celup pedas dan BBQ serta pilihan isian saus mentai dan saus keju.
Dari berbagai pilihan tersebut, chikuro dengan saus mentai yang dipadukan dengan bumbu chili atau daun jeruk menjadi salah satu menu yang paling banyak diminati. Sementara saus keju dengan bumbu BBQ dan balado juga menjadi pilihan best seller.
Tidak hanya chikuro, Marta juga menyediakan sejumlah menu lainnya, seperti ayam gunting, naget geprek, cipak kocek, tahu baso jontor, dimsum mentai, dan pentol rawit.
Proses pembuatan chikuro masih dilakukan sendiri oleh Marta. Menurutnya, pembuatan chikuro membutuhkan ketelitian, terutama karena produk dicetak ketika ada pembeli. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga kesegaran produk yang dijual.
Lapak chikuro milik Marta berada di sebelah barat gerbang baru pintu keluar kawasan Telang, Kamal, Bangkalan. Ia mulai berjualan pukul 15.00 hingga 22.00 WIB. Namun, waktu tutup dapat lebih cepat apabila stok yang disiapkan telah habis.
Pelanggan dapat membeli secara langsung di lokasi maupun melakukan pemesanan secara daring. Pembelinya berasal dari berbagai kalangan, meskipun mahasiswa menjadi pelanggan yang paling banyak. Marta juga menerima pesanan pre-order untuk wilayah Bangkalan Kota dengan sistem COD.
Untuk memperkenalkan produknya, Marta memanfaatkan media sosial. Ia membagikan informasi menu dan promosi melalui grup WhatsApp serta memanfaatkan TikTok dengan ikut berinteraksi pada konten-konten kuliner di sekitar Telang.
Selama menjalankan usaha, Marta menghadapi tantangan berupa kondisi pelanggan yang terkadang ramai dan terkadang sepi. Selain itu, harga bahan utama ayam juga mengalami kenaikan dan penurunan.
Marta mengatasinya dengan terus melakukan promosi agar chikuro yang dijualnya semakin dikenal masyarakat. Ia juga berencana mengembangkan produknya, termasuk menyediakan chikuro dalam bentuk frozen yang sebelumnya pernah diminta oleh pelanggan.
Ke depan, Marta memiliki rencana membuka cabang di Bangkalan Kota. Rencana tersebut muncul karena ia melihat cukup banyak peminat chikuro di wilayah tersebut.
Semoga usaha ini semakin berkembang, dilancarkan, dan semoga bisa segera membuka cabang baru serta lebih banyak lagi penggemarnya,” harap Marta. (Tik)


Komentar