![]() |
| Owner DRT The Big Family, H. Syafwan Wahyudi.(Dok/Istimewa). |
Owner DRT The Big Family, H. Syafwan Wahyudi, menegaskan bahwa strategi utama perusahaan dalam memperkuat penetrasi pasar tidak sekadar mengandalkan perang harga.
DRT justru berfokus pada kualitas tembakau, racikan khas, aroma, kemasan, hingga konsistensi produk demi memperkuat identitas rokok lokal Madura.
Guna menghadapi gempuran produk dari pabrikan besar nasional, Syafwan memilih memperkokoh fondasi pemasaran di tingkat akar rumput.
Selain meningkatkan kemampuan tim pemasaran, DRT konsisten membangun kemitraan yang erat dengan para pedagang dan pemilik toko ritel di pasar lokal.
“Prinsip kami sederhana: produk lokal harus mampu membuktikan bahwa kualitasnya bisa bersaing, tetapi tetap membawa identitas dan nilai ekonomi masyarakat Madura,” ujar pria yang akrab disapa Haji Udik itu.
Tantangan industri tembakau kian berat seiring melonjaknya tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT). Menanggapi hal tersebut, Haji Udik mengakui bahwa kenaikan cukai menjadi beban berat, terutama bagi produsen skala kecil dan menengah. Namun, DRT meresponsnya melalui penataan ulang operasional internal secara menyeluruh.
Langkah-langkah efisiensi yang ditempuh DRT mencakup pertama, evaluasi biaya produksi. Yakni, memangkas pos anggaran yang tidak efisien agar biaya operasional tetap terkendali.
Kedua, optimasi bahan baku dan tenaga kerja, yaitu mengelola penggunaan bahan baku serta kapasitas pekerja secara presisi tanpa mengurangi standar mutu.
Ketiga, streamlining distribusi dengan memperbaiki rantai pasok agar aliran barang ke konsumen lebih efisien.
Keempat, advokasi kebijakan. Haji Udik aktif berdiskusi dengan pemangku kepentingan agar regulasi cukai tetap berpihak pada keberlanjutan industri IKM.
Bagi DRT, menjaga harga agar tetap rasional di mata konsumen harus berjalan seiring dengan komitmen sosial. Perusahaan bertekad mempertahankan kelangsungan usaha demi memastikan upah pekerja tetap layak sekaligus menjaga penyerapan hasil panen dari para petani tembakau lokal di Madura. (Red)


Komentar