|
Menu Close Menu

Refleksi Jejak Syekh Yusuf Al-Makassari di ICONIS ke-10: Upaya Menjaga Tradisi Keagamaan Masyarakat Madura

Kamis, 10 September 2026 | 10.51 WIB

Konferensi internasional International Conference on Islamic Studies (ICONIS) ke-10 di UIN Madura.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Pamekasan- Gelaran konferensi internasional International Conference on Islamic Studies (ICONIS) ke-10 kembali diselenggarakan sebagai ruang akademik strategis untuk mempertemukan para akademisi, peneliti, dan praktisi kebudayaan. 


Dalam forum ilmiah yang dilangsungkan di UIN Madura kali ini, fokus diskusi diarahkan pada eksplorasi dan penggalian mendalam terkait jejak sejarah serta pemikiran ulama besar Nusantara, Syekh Yusuf Al-Makassari.


"Khususnya dalam relevansinya terhadap upaya merawat dan memelihara tradisi keagamaan masyarakat di Pulau Madura," ujar Rektor UIN Madura Saiful Hadi, Rabu (9/9/2026).


Dijelaskan, penyelenggaraan ICONIS ke-10 ini menegaskan kembali betapa krusialnya mengkaji warisan intelektual dan spiritual para ulama terdahulu. Sosok Syekh Yusuf Al-Makassari dinilai memiliki keterkaitan spiritual, keilmuan, dan kebudayaan yang amat kuat dengan jaring-jaring tradisi Islam yang hingga kini masih dihidupi oleh masyarakat Madura. 


Pendekatan tasawuf yang dikembangkan beliau—yang memadukan kedalaman nilai spiritual dengan keteguhan moral—menjadi pijakan penting dalam membentuk karakter keagamaan di kawasan Nusantara, tak terkecuali Pulau Garam.


Melalui forum ICONIS ke-10, para pemakalah dan peserta mengurai bagaimana rekam jejak keilmuan, doktrin tasawuf, serta semangat perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari dapat ditransformasikan menjadi panduan dalam merespons dinamika zaman. 


Forum ini juga menjadi wadah refleksi kritis untuk melihat sejauh mana tradisi lokal Madura, seperti amalan zikir, puji-pujian, tahlilan, hingga tradisi keagamaan berbasis pesantren, terus berakar dari jejaring sanad keilmuan ulama-ulama klasik Nusantara.


Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan sosial yang pesat, keberadaan tradisi keagamaan lokal kerap berhadapan dengan tantangan degradasi nilai. 


Oleh karena itu, diskusi dalam ICONIS ke-10 ini tidak sekadar bertujuan membedah catatan sejarah, melainkan juga merumuskan strategi kebudayaan agar identitas keagamaan masyarakat Madura tetap kokoh. 


Nilai-nilai Islam yang ramah, moderat, toleran, serta sarat akan kearifan lokal (local wisdom) yang diwariskan oleh para pendahulu diharapkan terus menjadi benteng moral bagi generasi mendatang.


Melalui elaborasi pemikiran yang dinamis sepanjang gelaran ICONIS ke-10, diharapkan muncul berbagai rekomendasi akademik serta karya literatur baru yang mampu memperkaya khazanah studi Islam Nusantara. 


Lebih dari itu, hasil pemikiran dari forum ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pemangku kebijakan, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidikan di Madura dalam menjaga serta melestarikan kebudayaan Islam berbasis tradisi lokal yang berkemajuan. (Red) 

Bagikan:

Komentar