|
Menu Close Menu

Dana Desa 330 Desa Kabupaten Gresik Rp108,37 Miliar Tuntas Tersalurkan

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15.44 WIB

 

Lensajatim.id, Gresik – Pemerintah Kabupaten Gresik mendorong desa-desa memperkuat kolaborasi dan mengembangkan potensi lokal melalui pembentukan kawasan pedesaan berbasis komoditas unggulan.

Langkah ini dinilai penting untuk menggerakkan perekonomian desa, terlebih kondisi fiskal desa pada 2026 mengalami penurunan cukup tajam.


Upaya tersebut didukung capaian 330 desa di 18 kecamatan yang seluruhnya berstatus Desa Mandiri berdasarkan survei Indeks Desa 2025 dan mampu mempertahankan status tersebut pada edisi Indeks Desa 2026.


Di sisi lain, Pemkab Gresik juga memastikan penyaluran Dana Desa (DD) untuk seluruh desa telah rampung. Total pagu Dana Desa sebesar Rp108.375.764.000 telah masuk ke Rekening Kas Desa.


Penyaluran terakhir diberikan kepada Desa Banjaragung, Kecamatan Balongpanggang untuk tahap II. Sementara penyaluran tahap I telah dituntaskan beberapa bulan sebelumnya.


Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Gresik Abu Hasan mengatakan, capaian tersebut menjadi modal untuk mendorong desa-desa semakin produktif melalui kerja sama berbasis potensi lokal.


Menurutnya, Pemkab Gresik melalui DPMD bersama Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten (Bappekab) dan didukung Tim Pendamping Desa Profesional (TPP) kini tidak hanya mendorong inisiasi kawasan pedesaan, tetapi juga telah menyiapkan regulasinya.


Salah satunya Kawasan Pedesaan Berbasis Tanaman Hias yang mencakup sejumlah desa di Kecamatan Kedamean, Wringinanom, dan Driyorejo.


“Alhamdulillah perbub (Peraturan Bupati)-nya kini telah dirampungkan sehingga desa-desa yang merupakan penghasil tanaman hias seperti Desa Banyuurip di Kecamatan Kedamean dan desa-desa serupa di Kecamatan Wringinanom dan Kecamatan Driyorejo telah tergabung dalam Kawasan Pedesaan Tanaman Hias,” kata Abu Hasan saat syukuran dan finalisasi serta formalisasi penandatanganan Berita Acara Indeks Desa Kabupaten Gresik di Ruang Kerja Kepala Bappeda Gresik, Jumat (9/10/2026).


Abu Hasan juga menyampaikan bahwa seluruh Dana Desa untuk 330 desa telah tuntas disalurkan dengan total pagu Rp108.375.764.000.


“Berikutnya kami sampaikan Pak Edi (Edi Hadisiswoyo/Kepala Bappekab Gresik), seluruh total pagu DD (Dana Desa) untuk 330 desa telah tuntas salur pada Selasa (6/10/2026) pekan ini. Maturnuwun kami sampaikan ini semua berkat dukungan semua pihak, khususnya dorongan Bappekab Gresik dan TPP Gresik,” ungkapnya.


Kepala Bappekab Gresik Edi Hadisiswoyo mengapresiasi tuntasnya penyaluran Dana Desa sekaligus capaian seluruh desa di Gresik yang mampu mempertahankan status Mandiri.


Menurut Edi, capaian tersebut menjadi hal yang membanggakan di tengah kondisi fiskal desa pada 2026 yang mengalami penurunan tajam.


“Prestasi ini sangat membanggakan di tengah fiskal untuk desa pada 2026 ini menurun tajam, desa-desa di Gresik masih tetap bekerja optimal,” kata Edi.


Ia menilai keberadaan Kawasan Pedesaan Komoditas Tanaman Hias di tiga kecamatan dapat menjadi pemicu bagi desa lainnya untuk memperkuat kerja sama.


“Apalagi kini sudah terbentuk Kawasan Pedesaan Komoditas Tanaman Hias di tiga kecamatan. Ini mesti jadi pemicu dan pendorong desa-desa lainnya melakukan perkuatan kerja sama antar desa guna mendorong pergerakan ekonomi desa dengan berbasis komoditas lokal yang sama,” ujarnya.


Edi juga mendorong desa-desa yang menghadapi penurunan fiskal agar semakin progresif dan inovatif dalam mengelola potensi maupun keuangan desa.


Dengan demikian, sumber daya yang dimiliki desa tetap dapat bergerak dan memberikan dampak yang lebih besar bagi masyarakat.


Dorong Desa Berbasis Komoditas Unggulan


Koordinator Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Gresik, Yuristiatso Hidayat, turut mengapresiasi dukungan dan kerja sama TPP dengan Pemkab Gresik, khususnya DPMD dan Bappeda, dalam mendampingi 330 desa di 18 kecamatan, termasuk desa-desa di Pulau Bawean.


“Alhamdulillah 330 desa telah tuntas salur DD (Dana Desa) dengan pagu Rp108,37 miliar dan semua desa tetap berstatus Mandiri. Ini semuanya berkat kolaborasi erat Pemkab Gresik, Bappeda dan DPMD khususnya,” kata Yuris.


Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Bupati Gresik Fandi Ahmad Yani atau Gus Yani dan Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif.


“Tentunya tak lupa dukungan penuh Gus Yani (Fandi Ahmad Yani/Bupati Gresik) dan Pak Wabub Alif (Asluchul Alif/Wabup Gresik) agar desa-desa Gresik semakin menguat,” ujarnya.


Yuris menilai beragam potensi yang dimiliki desa-desa di Gresik perlu dikembangkan melalui regionalisasi atau pembentukan kawasan. Dengan begitu, kerja sama antardesa dapat semakin kuat sekaligus membuka peluang pengembangan komoditas hingga pasar ekspor.


“Puji syukur, kami mendengar dari Pak Kadis PMD bahwa regulasi Perbub (Peraturan Bupati) terkait Kawasan Pedesaan Tanaman Hias di tiga kecamatan di Gresik telah tuntas. Semoga inisiasi kawasan pedesaan dengan potensi unggulan, khususnya untuk pasar ekspor di Kabupaten Gresik, bisa diperbanyak lagi,” ungkap Yuris.


Menurutnya, pengembangan kawasan tidak harus terbatas pada tanaman hias. Berbagai potensi yang berkaitan dengan ketahanan pangan dan agrobisnis juga dapat dikembangkan secara bersama.


“Ada gula aren, peternakan, perkebunan, perikanan bisa dijadikan basis kawasan desa. Ini sebagai tindak lanjut bagi desa-desa yang berstatus Mandiri bisa didorong jadi kawasan sehingga jadi Desa Ekspor komoditas, sebagaimana misi Pak Yandri selaku Menteri Desa dalam implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto,” terang Yuris.


Rembuk Warga untuk Perkuat Akses Logistik


Selain pengembangan komoditas, TPP Gresik juga mendorong adanya rembuk warga desa sebagai ruang untuk menghimpun gagasan dan kebutuhan masyarakat, termasuk terkait akses transportasi publik yang menjadi ranah pemerintah pusat.


Yuris mengatakan, akses transportasi menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian untuk mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi logistik desa.


“Ada banyak kendala transportasi baik darat terkait Kereta Api misalnya, di mana Gresik belum punya stasiun skala kabupaten atau level pertama yang bisa disinggahi KA premium dan eksekutif,” jelasnya.


Menurutnya, akses transportasi menuju Pulau Bawean juga perlu diperluas dengan menyediakan alternatif pelabuhan.


Ia berharap transportasi menuju Bawean tidak hanya melalui Paciran, tetapi juga dapat dikembangkan melalui Pelabuhan Tanjung Perak untuk angkutan kendaraan atau mobil.


“Rembuk warga desa ini jadi urgen untuk digelar dengan melibatkan sejumlah stakeholder sebagai awalan untuk bisa ditindaklanjuti oleh Pemkab Gresik,” tegas Yuris.


Dengan penguatan kolaborasi, pengembangan kawasan berbasis komoditas, serta dukungan akses transportasi dan logistik, desa-desa di Gresik diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan status Mandiri, tetapi juga semakin produktif dan memiliki daya saing hingga pasar ekspor. (Red) 

Bagikan:

Komentar