![]() |
| Yuliatin saat jualan olahan Ubi di CFD Alun-Alun Bangkalan.(Dok/Istimewa). |
Usaha tersebut mulai dijalankan Yuliatin sejak Juni. Setiap Minggu, ia membuka lapak di kawasan Car Free Day (CFD) Alun-Alun Bangkalan mulai pukul 06.00 hingga 10.00.
Keberadaan CFD di Alun-Alun Bangkalan menjadi berkah tersendiri bagi banyak pelaku usaha. Ramainya aktivitas masyarakat setiap Minggu membuka peluang bagi warga untuk mendapatkan penghasilan dari berjualan di kawasan tersebut.
Yuliatin menawarkan sejumlah produk berbahan dasar ubi. Di antaranya bola ubi, pangsit ubi crispy, lumpia ubi, gabin ubi, dan gabin fla.
Menurut Yuliatin, ide menggunakan ubi sebagai bahan utama berawal dari kegemarannya mengonsumsi bahan pangan tersebut. Ia kemudian melihat ubi memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai jajanan yang dapat dinikmati semua kalangan.
“Awalnya saya suka ubi. Ubi itu sehat, enak juga dibuat kreasi jajanan. Bisa dimakan semua kalangan, dari anak-anak, anak muda, maupun orang tua,” ujar Yuliatin, Selasa (06/10/2026).
Keunikan Ubi Yummy terletak pada penggunaan ubi sebagai bahan utama hampir seluruh produknya. Dalam proses produksi, ubi terlebih dahulu dikukus sebelum dicampur dengan bahan lain sesuai jenis jajanan yang dibuat.
Adonan tersebut kemudian dikreasikan menjadi berbagai bentuk, mulai bola ubi, gabin, lumpia, hingga pangsit.
Produk Ubi Yummy dijual dengan harga mulai Rp8 ribu hingga Rp10 ribu. Dari hasil penjualan tersebut, Yuliatin menyebut pendapatan rata-rata yang diperoleh mencapai sekitar Rp700 ribu per hari.
Meski demikian, usaha tersebut bukan tanpa kendala. Ketersediaan ubi ungu menjadi salah satu tantangan dalam proses produksi karena bahan tersebut bersifat musiman dan terkadang sulit ditemukan.
Ketika ubi ungu sulit diperoleh, Yuliatin menggunakan ubi biasa sebagai alternatif. Namun, ubi ungu tetap menjadi pilihan utama ketika bahan tersebut tersedia.
“Kalau susah cari ubi ungu, pakai ubi yang biasa. Tapi kalau ada ubi ungu pasti pakai ubi ungu,” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, Yuliatin biasanya membeli ubi di pasar dari petani lokal. Bahan tersebut kemudian diolah untuk memenuhi kebutuhan produksi berbagai jajanan Ubi Yummy.
Sejak menjalankan usaha, Yuliatin mengaku merasakan perubahan pada kondisi ekonominya. Penghasilan dari berjualan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memungkinkan dirinya menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung.
Dalam menjalankan usaha tersebut, Yuliatin juga dibantu oleh karyawan.
Ke depan, Yuliatin berambisi mengembangkan Ubi Yummy agar semakin dikenal masyarakat luas. Ia berencana membuka lapak offline sekaligus menambah varian rasa, di antaranya matcha dan cheese.
Tak hanya mengandalkan penjualan secara langsung, pemasaran juga akan diperluas melalui marketplace. Yuliatin juga berencana menerima lebih banyak reseller untuk memperluas jangkauan pasar.
Dari sisi produksi, ia menargetkan memiliki freezer dan deep fryer berukuran lebih besar. Peralatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi Ubi Yummy seiring dengan rencana pengembangan usaha. (rif)


Komentar