|
Menu Close Menu

Dari Fujian ke Jawa Timur: Pelajaran Pembangunan Desa dari Long Xi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22.17 WIB


Oleh: H. Musaffa Safril


Lensajatim.id, Opini- Senin, 28 September 2026, kami mengunjungi Long Xi, sebuah desa di Yinxi, Fuqing, Provinsi Fujian, Tiongkok. Rombongan PW GP Ansor Jawa Timur datang untuk melihat dari dekat bagaimana desa ini berkembang di tengah pertumbuhan kawasan industri di sekitarnya.


Kami didampingi sekretaris desa dan sejumlah staf desa yang menyambut dengan ramah. Perwakilan Pemerintah Provinsi Fujian serta staf Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Surabaya juga ikut mendampingi perjalanan kami.


Untuk menyusuri kampung, kami menggunakan mobil golf listrik. Kendaraan ini cukup praktis untuk melihat berbagai sudut desa tanpa mengganggu aktivitas warga.


Kesan pertama yang terlihat adalah lingkungan yang tertata. Jalan kampung menggunakan aspal dengan kombinasi material karet pada sejumlah bagian. Permukaannya relatif nyaman untuk berjalan maupun berlari. Di beberapa titik terlihat lahan pertanian dan kebun yang masih aktif. Air mengalir menuju lahan pertanian, sementara buah-buahan segar menjadi salah satu hasil yang cukup menonjol.


Pertanian di Long Xi juga mulai menggunakan pendekatan yang lebih modern. Namun, perkembangan tersebut tidak membuat karakter pedesaan hilang. Rumah warga, lahan pertanian dan ruang terbuka masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.


Ada pula sisi ekonomi yang menarik. Perempuan desa terlibat dalam kegiatan produksi pangan. Dalam penjelasan yang kami terima saat kunjungan, ibu-ibu di desa ini memasok makanan untuk sejumlah hotel berbintang di Fujian.


Dari sini terlihat bahwa ekonomi desa tidak hanya bergantung pada hasil pertanian. Produk dan keterampilan warga dapat masuk ke pasar yang lebih luas ketika terdapat akses dan jaringan pemasaran.


Berada di Dekat Kawasan Industri


Salah satu faktor yang membentuk perkembangan Long Xi adalah lokasinya yang berdekatan dengan kawasan industri BOE.


Hubungan antara desa dan kawasan industri ini cukup menarik untuk diamati. Pekerja industri menjadi bagian dari pasar bagi kegiatan ekonomi yang berkembang di desa. Kuliner, perdagangan, jasa, rekreasi dan usaha kecil tumbuh mengikuti kebutuhan masyarakat dan pekerja di sekitar kawasan tersebut.


Pemerintah setempat juga mengembangkan Fumali Night Market di sekitar kawasan industri. Kawasan pasar tersebut memiliki puluhan kios dan menjadi tempat aktivitas ekonomi bagi pekerja industri maupun masyarakat setempat. Di sekitar kawasan itu berkembang pula usaha kuliner, retail, logistik dan homestay.


Dengan pola seperti itu, keberadaan kawasan industri tidak berhenti pada aktivitas pabrik. Dampaknya dicoba diperluas ke lingkungan sekitar melalui kegiatan ekonomi yang melibatkan masyarakat.


Long Xi kemudian dikembangkan sebagai bagian dari pendekatan revitalisasi pedesaan di Fujian. Pemerintah setempat menyebutnya sebagai “青创乡村新范式”, atau model baru desa berbasis kreativitas anak muda. Pengembangan tersebut menggabungkan pertanian, wisata, budaya, ruang publik dan kegiatan ekonomi masyarakat.


Pemerintah Menyiapkan Infrastruktur dan Pendampingan


Hal lain yang menarik perhatian kami adalah peran pemerintah.


Pengembangan desa membutuhkan biaya dan waktu. Pemerintah Fuqing menggunakan berbagai instrumen pembiayaan untuk membangun infrastruktur pendukung. Dalam pengembangan Long Xi, salah satu sumber pembiayaan yang disebut pemerintah adalah special local government bonds.


Tahap kedua proyek revitalisasi desa memiliki nilai investasi lebih dari RMB 50 juta. Program tersebut mencakup penataan kawasan pertanian, pemanfaatan rumah lama, serta pembangunan fasilitas layanan ketenagakerjaan dan layanan sukarela.


Pemerintah juga memberikan pendampingan bagi warga yang ingin bekerja dan membuka usaha. Data pemerintah setempat mencatat 260 orang/times mendapatkan bimbingan atau dukungan dan lebih dari 30 usaha dibuka atau bergabung di kawasan tersebut.


Model pengelolaannya diarahkan pada hubungan antara perusahaan, komite desa dan petani. Pemerintah desa menjadi salah satu penghubung agar berbagai kepentingan tersebut dapat berjalan bersama.


Pendekatan ini penting karena pembangunan desa memang sulit berjalan hanya dengan mengandalkan anggaran pemerintah. Infrastruktur membutuhkan pemerintah, kegiatan ekonomi membutuhkan masyarakat dan pasar, sementara dunia usaha membutuhkan lingkungan yang mendukung.


Untuk keterlibatan perusahaan melalui CSR, kami belum menemukan data resmi yang cukup untuk menyebut adanya program CSR tertentu dari BOE kepada Long Xi. Karena itu, lebih tepat melihat hubungan desa dengan kawasan industri sebagai peluang kemitraan yang dapat mencakup pasar, tenaga kerja, rantai pasok, pelatihan maupun kegiatan sosial.


Tiga Kepala Desa Ikut Melihat


Dalam kunjungan ini, tiga kepala desa yang merupakan kader Ansor di Jawa Timur juga ikut bersama rombongan.


Saya berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pembanding bagi mereka ketika kembali mengelola desa masing-masing.


Tidak semua yang kami lihat di Long Xi dapat diterapkan di Jawa Timur. Kondisi geografis, struktur sosial, kepemilikan lahan, budaya masyarakat dan sumber ekonomi desa Indonesia memiliki karakter sendiri.


Karena itu, yang penting bukan menyalin bentuk pembangunan Long Xi, tetapi memahami bagaimana pemerintah dan masyarakat setempat membaca kondisi mereka sendiri.


Long Xi memiliki keuntungan karena berdekatan dengan kawasan industri. Desa lain mungkin memiliki keunggulan berbeda: pertanian, perkebunan, perikanan, pesantren, kerajinan, wisata alam atau produk pangan.


Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana potensi tersebut dihubungkan dengan pasar.


Petani membutuhkan akses pembeli dan teknologi.


UMKM membutuhkan pasar dan pendampingan.


Anak muda membutuhkan ruang kerja dan peluang usaha.


Desa membutuhkan infrastruktur yang sesuai dengan aktivitas ekonomi.


Pemerintah memiliki posisi penting untuk mempertemukan kebutuhan-kebutuhan tersebut.


Pelajaran untuk Desa-Desa di Indonesia


Bagi saya, pengalaman di Long Xi memperlihatkan bahwa pembangunan desa tidak harus dimulai dengan mengubah wajah desa.


Yang lebih penting adalah mengembangkan apa yang sudah tersedia.


Sawah tetap bisa menjadi sawah, tetapi hasilnya dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.


Kebun dapat menjadi sumber pangan sekaligus bagian dari wisata.


Rumah lama dapat dipertahankan sambil diberi fungsi ekonomi baru.


Ruang desa dapat digunakan untuk kegiatan masyarakat dan olahraga.


Kawasan industri di sekitar desa dapat menjadi pasar bagi produk dan jasa masyarakat.


Pendekatan seperti ini tentu harus disesuaikan dengan kondisi Indonesia.


Jawa Timur memiliki ribuan desa dengan karakter yang sangat beragam. Ada desa pertanian, desa pesisir, desa perkebunan, desa wisata dan desa yang tumbuh di sekitar kawasan industri. Masing-masing membutuhkan pendekatan yang berbeda.


Yang dapat dipelajari adalah prinsipnya: potensi lokal harus bertemu dengan pasar, infrastruktur, teknologi, pendampingan dan kelembagaan yang bekerja.


Diplomasi yang Berawal dari Perjumpaan


Kunjungan ke Long Xi juga memiliki arti lain bagi kami.


Hubungan Indonesia dan Tiongkok selama ini banyak dibicarakan dalam konteks perdagangan, investasi, pendidikan dan hubungan antar-pemerintah. Namun, hubungan antarmasyarakat memiliki ruang yang tidak kalah penting.


Berjalan bersama perangkat desa, berbincang dengan masyarakat, melihat pertanian dan mendiskusikan pengelolaan desa memberi pengalaman yang berbeda dari pertemuan formal.


Dalam perjalanan ini, kami didampingi perwakilan Pemerintah Provinsi Fujian dan staf Konjen RRT di Surabaya. Perjumpaan tersebut membuka ruang untuk bertukar pengalaman mengenai pembangunan desa, pertanian, lingkungan, ekonomi masyarakat dan peran anak muda.


Bagi saya, bentuk hubungan seperti ini merupakan bagian dari people-to-people diplomacy. Diplomasi tidak selalu berbicara tentang hal-hal besar. Ia juga tumbuh dari kesempatan untuk melihat kehidupan masyarakat lain secara langsung dan memahami bagaimana mereka menghadapi persoalan yang hampir sama: bagaimana menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, menjaga lingkungan dan mempertahankan kehidupan sosial di tengah perubahan ekonomi.


Tidak Harus Menjadi Kota


Sebelum meninggalkan Long Xi, saya kembali melihat jalan kampung, lahan pertanian dan rumah-rumah warga yang berdampingan dengan perkembangan kawasan industri.


Ada satu pelajaran yang menurut saya cukup penting.


Kemajuan desa tidak harus berarti desa berubah menjadi kota.


Yang diperlukan adalah memastikan masyarakat desa memperoleh manfaat dari perubahan ekonomi di sekitarnya.


Long Xi menunjukkan salah satu cara untuk mencobanya: pemerintah menyediakan infrastruktur dan pendampingan, masyarakat mengembangkan usaha dan potensi lokal, sementara keberadaan kawasan industri menjadi salah satu sumber pasar dan peluang ekonomi.


Tentu masih ada banyak hal yang perlu dilihat dan diuji. Setiap desa memiliki persoalan dan sumber daya yang berbeda. Namun, perjalanan ini memberi bahan pemikiran bagi kami tentang bagaimana desa di Indonesia dapat mengembangkan modelnya sendiri.


Tiga kepala desa kader Ansor yang ikut dalam perjalanan ini pun membawa pulang pengalaman masing-masing.


Mungkin bukan bentuk jalan, pasar malam, atau bangunan yang paling penting untuk dibawa ke Jawa Timur.


Melainkan cara melihat desa:


mengenali apa yang dimiliki, memahami perubahan di sekitarnya, lalu menghubungkan potensi lokal dengan kesempatan yang tersedia.


Dari Long Xi, kami belajar bahwa masa depan desa tidak selalu datang dari luar.


Sering kali, ia sudah ada di dalam desa itu sendiri—tinggal bagaimana potensi tersebut ditemukan, dikelola dan dihubungkan dengan dunia yang lebih luas.

Bagikan:

Komentar