|
Menu Close Menu

Gunung Wuyi: Jejak Leluhur, Sang Raja Teh, dan Harmoni yang Abadi

Sabtu, 26 September 2026 | 07.36 WIB

Rombongan Tim PW GP Ansor Jawa Timur saat berada di Gunung Wuyi di perbatasan Provinsi Fujian dan Jiangxi, Tiongkok. (Dok/Istimewa). 

(Catatan Ketua PW Ansor Jawa Timur: Musaffa Safril)

 

Lensajatim.id, Opini- Gunung Wuyi menjulang tenang di perbatasan Provinsi Fujian dan Jiangxi, Tiongkok. Melangkah masuk ke sini serasa menyusuri lorong masa lalu yang tak pernah pudar. Tebing batu pasir merah yang menjulang gagah, kabut tipis yang melayang di lembah hijau, serta sungai jernih yang berkelok membelah hutan purba, semua ini seakan mengantar kita ke dunia yang selama ini hanya terlihat dalam kisah-kisah dracin, tempat para petapa merenung dan mencapai kebijaksanaan. Di sini, alam dan kehidupan masyarakat menyatu begitu erat, seakan ada dunia tersendiri yang utuh, tenang, dan abadi, tumbuh damai di tengah negeri yang luas. Pada tahun 1999, dunia mengakui keagungannya: UNESCO menetapkan tempat ini sebagai Situs Warisan Dunia Alam sekaligus Budaya, pengakuan bahwa di sini, alam bukan hanya pemandangan semata, melainkan rumah tempat peradaban tumbuh bersama pohon, sungai, dan gunung itu sendiri.

 

Nama "Wuyi" lahir dari legenda yang diwariskan turun-temurun: seorang tokoh suci yang mendedikasikan hidupnya merawat rakyat, konon naik ke langit dari puncak gunung ini. Sejak zaman Dinasti Han, orang-orang datang ke sini untuk berdoa dan merenung. Pada masa Dinasti Song, gunung ini menjadi jantung pemikiran Neo-Konfusianisme, ajaran yang membentuk tata kehidupan masyarakat Tiongkok selama berabad-abad. Prasasti terukir di dinding tebing, kuil tua yang berdiri di celah hutan, dan sisa-sisa tempat pertapaan masih berdiri diam, menyimpan pesan: setiap batu dan setiap pohon di sini memiliki kisah.

 

Di antara segala kekayaan yang dipelihara leluhur, ada satu nama yang paling harum dikenal ke segenap penjuru dunia, Da Hong Pao, yang berarti "Jubah Merah Besar". Di sini, warga menyebutnya dengan bangga sebagai "Raja Segala Teh", teh yang mengungguli segala teh lainnya.

 

Ceritanya telah diwariskan dari mulut ke mulut sejak lama: seorang pendekar muda jatuh sakit dalam perjalanan jauh menuju ibu kota. Di tengah keputusasaannya, ia tiba di biara kecil di kaki gunung. Kepala biara menyeduh teh yang dipetik dari pohon yang tumbuh di celah tebing terjal dan tak lama kemudian, tubuhnya pulih kembali. Bertahun-tahun berlalu, pemuda itu lulus dengan kehormatan tertinggi. Ia kembali ke gunung ini, dan membungkus pohon-pohon suci itu dengan jubah merahnya sebagai tanda syukur dan penghormatan. Sejak saat itu, nama Da Hong Pao terpatri abadi. Pada masa Dinasti Qing, teh ini dipersembahkan khusus ke istana kekaisaran — menjadi Teh Persembahan bagi Kaisar, minuman yang hanya disajikan bagi penguasa tertinggi negeri.

 

Enam pohon induk asli yang tumbuh di tebing curam ini dijaga ketat sebagai harta bangsa,  dipasang cctv dari berbagai sisi untuk mengawasi. Demi menjamin perlindungannya, pohon-pohon ini pun dilindungi dengan asuransi bernilai ratusan miliar rupiah, bukti betapa berharganya warisan yang dijaga turun-temurun ini. 


Pada tahun 2022, seni menanam, memetik, dan mengolah Da Hong Pao resmi diakui dunia sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO, pengakuan bahwa apa yang dilakukan masyarakat di sini bukan kerajinan belaka, melainkan cara hidup yang penuh penghormatan terhadap alam.


Sejak zaman leluhur, penduduk asli Wuyi memegang satu prinsip: bukan menguasai gunung, melainkan hidup selaras bersama gunung, petani menanam teh di lereng terjal tanpa merusak akar hutan; warga menjaga sungai tetap jernih hingga batu di dasarnya terlihat; bangunan didirikan rendah, tak mencoba melampaui tinggi pepohonan. Kini, tempat ini berkembang menjadi destinasi wisata yang tertata rapi dan bersih, namun keasriannya tetap dijaga. Hal yang paling terasa: semua kendaraan yang mengantar wisatawan di sini adalah mobil listrik. Tidak ada asap yang mengganggu udara, tidak ada suara bising yang memecah keheningan. Jumlah kunjungan diatur dengan cermat, dan saat musim dingin tiba, lembah ini sejenak hening, memberi waktu bagi alam untuk beristirahat, sebagaimana leluhur mereka mengajarkan.

 

Pada 25 September 2026, rombongan kami dari PW GP Ansor Jawa Timur dan Masjid Al Akbar Surabaya serta perwakilan Konjen RRT di Surabaya yang mendampingi kami tiba di tempat ini. Kami tidak berwisata semata, kami bertemu seseorang yang membuat perjalanan ini terasa seperti pulang ke rumah sendiri. Pemandu kami, Pak Amin (nama Indonesia pemberian orang tua) asli penduduk lokal sini, lahir di Mojosari, Mojokerto, pada tahun 1964. Saat berusia dua tahun, tahun 1966, ia dibawa kembali ke Tiongkok bersama keluarganya. Meski puluhan tahun tinggal di sini, bahasa Indonesianya tetap lancar, karena di rumah, orang tuanya tak pernah berhenti berbicara bahasa yang mereka bawa dari Nusantara.

 

Di sela perjalanan, Pak Amin bercerita dengan nada tenang namun menyentuh hati:

 

"Dahulu, Tiongkok jauh tertinggal dari Indonesia. Mencari makan saja tidak mudah. Itulah sebabnya banyak orang zaman dulu merantau ke Nusantara, mencari kehidupan yang lebih layak. Indonesia waktu itu lebih maju, lebih sejahtera, cari makan gampang. Sekarang kalian lihat sendiri, Tiongkok telah berubah. Namun kemajuan ini bukan untuk dipamerkan. Ini untuk mengingatkan: setiap bangsa memiliki perjalanan, dan setiap perjalanan memiliki waktunya."

 

Kata-katanya mengandung kebenaran sederhana: tidak ada bangsa yang selamanya di atas, tidak ada pula yang selamanya tertinggal. Yang membedakan adalah ketekunan, kesetiaan pada nilai luhur, dan keinginan untuk saling memahami.

 

Malam itu, setelah menyaksikan Impression Da Hong Pao, pertunjukan yang menjadikan gunung panggung dan langit atap, kami pulang dengan pemahaman baru: kemajuan sejati tidak diukur dari seberapa tinggi gedung menjulang, melainkan dari seberapa baik kita menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, antara warisan masa lalu dan masa depan, serta antara satu bangsa dengan bangsa lainnya.

 

Dari Mojokerto ke Wuyishan, dari Jawa ke Fujian, dari hati ke hati,  persaudaraan tidak mengenal batas gunung maupun lautan. Gunung Wuyi mengajarkan kami: keindahan yang abadi tidak lahir dari penaklukan, melainkan dari penghormatan. Seperti Da Hong Pao yang tumbuh di celah tebing curam, ia tidak melawan batu, melainkan hidup di sela-selanya, dan justru dari keselarasan itulah lahir rasa yang paling agung.

Bagikan:

Komentar