![]() |
| Fera saat berada di stan Buronan Ndower. (Dok/Fera) |
Fera yang tinggal di Pangeranan Asri, Bangkalan, mengawali penjualan sejak 2024. Saat itu, ia sudah menjual ceker pedas dengan sistem pre-order (PO).
Ketika mendapat tugas kuliah, Fera memilih mengembangkan usaha tersebut. Konsepnya diimprovisasi hingga lahirlah Buronan Ndower yang kini melayani pelanggan setiap hari.
Nama Buronan Ndower juga memiliki cerita tersendiri. Kata buronan dimaknai sebagai sesuatu yang dikejar-kejar, sedangkan ndower identik dengan bibir setelah menyantap makanan pedas.
“Buronan Ndower yakni makanan pedas yang diincer orang-orang,” kata Fera, Senin (21/09/2026).
Meningkatnya permintaan pelanggan menjadi alasan Fera memberanikan diri membuka stan. Sebelumnya, pelanggan harus memesan melalui sistem PO untuk mendapatkan produknya.
Kini, Buronan Ndower berjualan di Bangkalan, tepatnya di sebelah Bank Jatim. Jam operasionalnya mulai pukul 10.30 hingga 17.00 WIB.
Dalam menjalankan usaha, Fera tidak bekerja seorang diri. Bagian produksi dan staf outlet dibantu anggota keluarga.
Sementara kebutuhan konten dan penyuntingan video ditangani oleh tim jasa agensi. Pembagian tersebut membuat kegiatan produksi dan pemasaran dapat berjalan sesuai tugas masing-masing.
Buronan Ndower menawarkan sejumlah menu dengan pilihan rasa yang beragam. Pelanggan dapat memilih rasa original, sedang, pedas, hingga ekstra pedas.
Menu yang tersedia antara lain sayap seharga Rp12 ribu, ceker Rp10 ribu, serta usus Rp10 ribu. Ada pula kerang hijau dan kerang dara masing-masing Rp12 ribu.
Sementara kerang tutut dibanderol Rp10 ribu. Khusus Ramadan, tersedia paket seafood lengkap dengan tambahan cumi, kepiting, dan udang.
Harga paket seafood tersebut berkisar Rp50 ribu hingga Rp75 ribu. Pilihan menu dan tingkat kepedasan menjadi bagian yang ditawarkan untuk menjangkau berbagai kalangan.
Menurut Fera, ciri khas Buronan Ndower tidak hanya terletak pada nama. Rasa yang dibuat berbeda menjadi salah satu hal yang ingin dipertahankan dalam produknya.
Pelanggan yang datang juga tidak hanya berasal dari Bangkalan maupun Madura. Fera menyebut sejumlah pelanggan berasal dari Surabaya, Jombang, hingga Malang.
Fera mengatakan modal awal sebesar Rp5 juta. Sementara omzet yang diperoleh berada di kisaran Rp450 ribu hingga Rp700 ribu per hari.
Pendapatan tersebut menjadi tambahan penghasilan bagi Fera di tengah aktivitasnya sebagai mahasiswa. Buronan Ndower sekaligus menjadi ruang baginya untuk mengembangkan usaha yang sebelumnya dimulai dari sistem PO.
Meski terus berkembang, Fera mengaku masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya menjaga inovasi dari berbagai sisi agar usaha tetap berjalan.
“Pastinya soal inovasi dari berbagai sisi, entah itu marketing, soal rasa yang harus konsisten, menu yang di-upgrade, dan lainnya,” ujarnya.
Ke depan, Fera berharap Buronan Ndower dapat berkembang dan memiliki cabang di sejumlah daerah. Ia menyebut Surabaya, Malang, dan Jombang menjadi beberapa daerah yang banyak meminta kehadiran Buronan Ndower. (rif)


Komentar