|
Menu Close Menu

Dari Uang Tabungan yang Habis Saat Corona, Baitur Bangun Usaha Makaroni hingga Kuliah

Kamis, 17 September 2026 | 19.27 WIB

Baitur saat menitipkan brang di toko.(Dok/Baitur) 
Lensajatim.id, Bangkalan– Pengalaman sulit pada masa pandemi Covid-19 menjadi awal bagi Mohamad Baitur Rahman dalam belajar menjalankan usaha. Mahasiswa Manajemen angkatan 2023 tersebut mulai berjualan makanan ringan sejak duduk di kelas tiga MAN Bangkalan. Hingga kini, usaha tersebut tetap dijalankan di tengah kesibukannya menyelesaikan kuliah.


Baitur mengatakan, ketertarikannya berjualan bermula ketika kondisi ekonomi keluarga dan aktivitas sekolah mengalami perubahan selama pandemi. Saat itu, uang tabungannya mulai habis karena tidak lagi mendapatkan uang saku seperti biasanya.


“Awal mula tertarik semenjak transformasi era Corona, dimana uang tabungan habis karena di era itu saya tidak dapat sangu,” ujar Baitur, kamis 17/9/26.


Dari kondisi tersebut, Baitur kemudian memilih menjual makanan ringan karena produk tersebut dapat bertahan lebih lama. Ia melihat makanan ringan seperti makaroni dan basreng dapat disimpan hingga beberapa minggu sehingga memiliki peluang untuk dijual kembali.


“Untuk makanan atau snack seperti ini awet dalam tiga minggu. Sehingga saya tertarik dalam berbisnis snack ini,” katanya.


Dalam menjalankan usahanya, Baitur menawarkan makaroni dan basreng dengan harga Rp5 ribu per bungkus untuk konsumen. Ia juga menerapkan sistem penitipan produk di sejumlah toko dengan harga Rp4 ribu per bungkus, kemudian produk tersebut dijual kembali oleh pemilik toko dengan harga Rp5 ribu.


Salah satu hal yang diperhatikan Baitur adalah kemasan dan rasa. Produk dikemas menggunakan pouch yang dapat ditutup kembali, sehingga makanan tetap bisa disimpan apabila tidak langsung habis dikonsumsi.


Untuk rasa, ia memadukan makaroni dengan bumbu yang cukup terasa, termasuk daun jeruk. Menurutnya, perpaduan tersebut cocok dijadikan camilan.


Target utama usahanya adalah mahasiswa. Untuk memperkenalkan produk, Baitur memiliki cara tersendiri dengan menawarkan makanan ringan tersebut secara langsung dari kelas ke kelas.


Ia membawa produk ke kelas yang mahasiswa di dalamnya sedang menunggu dosen, kemudian memberikan tester secara gratis. Cara tersebut dilakukan agar calon pembeli dapat mencoba rasa produk terlebih dahulu sebelum memutuskan membeli.


“Tujuannya calon konsumen itu tahu rasa dan kualitas jajanan saya,” tuturnya.


Ketergantungan terhadap aktivitas mahasiswa menjadi salah satu tantangan dalam menjalankan usaha. Menurut Baitur, penjualan di kawasan kampus sangat dipengaruhi oleh masa aktif perkuliahan. Dalam kondisi ramai, penjualan produknya dapat mencapai sekitar 800 bungkus dalam satu bulan, sedangkan saat masa libur jumlahnya dapat turun hingga sekitar 300 bungkus.


Selain itu, sistem penitipan barang di toko juga menjadi tantangan tersendiri. Pembayaran dari toko dilakukan setelah produk yang dititipkan terjual sesuai dengan waktu yang telah disepakati. Kondisi tersebut membuat Baitur harus menyiapkan modal untuk kembali memproduksi barang sambil menunggu pembayaran dari toko.


Meski menjalankan usaha, Baitur tetap berusaha menyelesaikan kewajibannya sebagai mahasiswa. Ia mengutamakan kegiatan perkuliahan, kemudian memanfaatkan waktu setelah kuliah untuk berjualan secara langsung. Sementara untuk penitipan produk ke toko, ia lebih banyak melakukannya pada akhir pekan ketika aktivitas perkuliahan mahasiswa berkurang.


Kini, Baitur masih terus menjalankan usaha makanan ringannya sambil menyelesaikan kuliah. Ia berharap usahanya dapat berkembang melalui kerja sama dengan pihak lain serta memperluas jaringan penitipan produk.


“Harapannya bisa kolaborasi dengan perusahaan yang lain, terus bisa bermitra untuk menitipkan makaroni dan basreng ini di warung hingga restoran,” pungkasnya. (Tik)

Bagikan:

Komentar