![]() |
| Gus Lilur.(Dok/Istimewa). |
“Yang harus disampaikan sudah saya sampaikan. Apa yang harus dijelaskan sudah saya jelaskan. Apa yang harus disuarakan sudah saya suarakan. Selesai,” ujar Gus Lilur melalui keterangan persnya, Selasa (29/09/2026).
Menurut Gus Lilur, setelah menyampaikan seluruh pandangan dan kritiknya kepada publik, satu langkah yang belum dilakukannya adalah menempuh jalur pidana.
Ia menjelaskan, keputusan untuk belum mengambil langkah tersebut berkaitan dengan pertimbangan personal dan penghormatannya terhadap gurunya, KH Bisri Syansuri, pendiri Pesantren Denanyar Jombang.
“Kenapa belum saya jalankan perang pidana? Musuh saya orang spesial. Di dalam tubuhnya ada darah guru saya, Kiai Bisri Syansuri,” kata Gus Lilur.
Ia kemudian mengungkapkan sosok ayahnya yang disebutnya hanya seorang petani dusun dan Rois Syuriah MWC NU. Menurut Gus Lilur, sang ayah setiap minggu mengajar kitab Ihya Ulumuddin.
Gus Lilur mengatakan, ayahnya pernah mengajarkan pentingnya menghormati guru sekaligus keluarga guru.
“Cung, menghormati guru itu kayak baca sholawat pada Rasulullah: wa ‘ala alihi,” tutur Gus Lilur, mengutip pesan ayahnya.
Menurut dia, pesan tersebut bermakna bahwa penghormatan kepada seorang guru juga mencakup penghormatan terhadap keluarganya.
“Di tubuh Ipul Penakut itu ada darah Kiai Bisri Syansuri, pendiri Pesantren Denanyar Jombang di mana saya menimba ilmu. Itu yang saya hormati,” tegas pria yang juga mengaku sebagai cicit Ken Arok tersebut.
Meski memilih menahan langkah hukum, Gus Lilur menyatakan sikap berbeda apabila dirinya terlebih dahulu dilaporkan atau diproses secara pidana oleh pihak yang ia sebut sebagai lawannya.
“Beda kalau Ipul Kumis Beracun memidanakan saya duluan, saya akan bersimpuh di pusara Kiai Bisri Syansuri sebelum saya memidanakan Ipul dengan banyak kasus Tipikor secara bergantian,” ujarnya.
Di tengah dinamika tersebut, Gus Lilur menyebut ada empat orang yang dalam tiga hari terakhir intens berkomunikasi dengannya.
Menurut dia, komunikasi tersebut memiliki agenda yang sama, yakni menjaga NU.
Keempat tokoh tersebut, kata Gus Lilur, meminta dirinya menjaga sikap agar kebenaran yang disampaikannya tidak justru berdampak pada keutuhan dan citra NU.
“Beliau berempat meminta saya untuk menjaga sikap, jangan sampai kebenaran yang saya sampaikan malah meremukkan NU,” ungkapnya.
Gus Lilur juga menyebut keempat tokoh tersebut memiliki pandangan yang sama dengannya terkait dugaan praktik suap dan jual beli suara dalam Muktamar ke-35 NU.
Menurut Gus Lilur, persoalan tersebut perlu diungkap. Setelah persoalan tersebut dibuka, ia menyebut dirinya diminta untuk menepi dari pusaran persoalan.
Permintaan tersebut kemudian dijawab Gus Lilur dengan tiga syarat.
Pertama, ia meminta Rais Aam yang disebutnya “awam” untuk mengundurkan diri.
Kedua, PCNU, PWNU, dan AHWA yang disebutnya sebagai penerima suap diminta mengembalikan uang suap kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Ketiga, ia meminta pihak yang disebutnya sebagai “Ipul CS” tidak mengajaknya menempuh perang pidana.
Namun, Gus Lilur menyatakan akan mengambil langkah hukum apabila pihak tersebut terlebih dahulu memidanakannya.
“Kalau Ipul Kumis Beracun itu mengajak saya perang pidana, sekalipun saya dibenci oleh seluruh kiai NU, saya akan memilih berperang dan memidanakan Ipul, Juri, Nusron, Miftahul Akhyar dan seluruh antek-anteknya,” tegasnya.
PAMANGKAR dan Semangat Amar Makruf Nahi Mungkar
Gus Lilur juga menyebut gerakannya dengan nama PAMANGKAR, singkatan dari Pejuang Amar Makruf Nahi Mungkar.
Menurutnya, menjadi bagian dari PAMANGKAR merupakan bentuk ibadah kepada Allah sekaligus upaya membumikan Al-Qur’an Surat Ali Imran Ayat 104.
“Menjadi PAMANGKAR itu menjalankan perintah Rasulullah,” katanya.
Ia menegaskan bahwa dirinya lebih memilih mendapatkan kecintaan Allah dan Rasulullah daripada memperoleh pujian dari pihak-pihak yang menurutnya tidak sejalan dengan sikap yang ia perjuangkan.
Dalam pernyataannya, Gus Lilur juga menyampaikan tantangan terbuka kepada pihak yang ia sebut sebagai Ipul untuk menempuh jalur hukum apabila memang diperlukan.
“Pul, Ipul, ayo pidanakan aku Mas Ipul,” ujarnya.
Ia kembali menyatakan akan bersimpuh di pusara KH Bisri Syansuri sebelum mengambil langkah hukum terhadap pihak tersebut.
Pernyataan Gus Lilur ditutup dengan penegasan mengenai sikapnya untuk tetap menyuarakan pandangan yang diyakininya.
“Tidak semua santri NU bisa diintimidasi. Tidak semua kiai NU bisa ditakut-takuti,” pungkasnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pertanyaan resmi dari pihak-pihak yang disebutkan di atas terkait apa yang disampaikan oleh Gus Lilur. (Red)


Komentar