|
Menu Close Menu

Nyambi Jadi Ojek Mahasiswa, Alif Kumpulkan Biaya UKT Sendiri hingga Lulus Kuliah di UTM

Jumat, 25 September 2026 | 09.29 WIB

 

Alif Januar Prayoga, lulusan Fakultas Hukum yang pernah menjalankan ojek mahasiswa. (Dok/Alif). 
Lensajatim.id, Bangkalan – Keinginan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus belajar mandiri selama menempuh pendidikan di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mendorong Alif Januar Prayoga (23) menjalani pekerjaan sampingan sebagai tukang ojek atau yang dikenal dengan ojek mahasiswa.


Pekerjaan tersebut mulai dijalani Alif sejak 2022. Dari penghasilan sebagai ojek mahasiswa, pemuda asal Srigading, Sanden, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, itu tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga mengumpulkan biaya kuliah hingga membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) secara mandiri sejak semester 4 sampai menyelesaikan pendidikannya.


Alif yang merupakan lulusan Fakultas Hukum UTM mengaku, pada awalnya pekerjaan ojek dipandang sebagai peluang untuk membantu memenuhi kebutuhan selama kuliah. Keinginan tersebut semakin kuat ketika ia mengikuti sejumlah perlombaan yang membutuhkan biaya pendaftaran.


“Utamanya yang pasti membantu kebutuhan kuliah. Dari awal terlibat beberapa lomba yang membutuhkan modal pendaftaran, dari situ melihat peluang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan,” ujar Alif, Kamjs (24/9/2026). 


Ojek mahasiswa yang dijalankan Alif juga memiliki cerita tersendiri. Bersama sejumlah temannya, ia mendirikan sebuah grup yang kemudian diperkenalkan melalui berbagai grup mahasiswa baru. Sistem layanan tersebut dijalankan secara kolektif bersama-sama.


Layanan yang diberikan cukup beragam. Selama permintaan pelanggan tidak melanggar aturan hukum maupun norma sosial, Alif dan teman-temannya berusaha memenuhi kebutuhan tersebut.


“Segala permintaan akan selalu dilayani selagi tidak melanggar aturan hukum dan norma sosial,” katanya.


Jumlah order yang diterima Alif dan rekan-rekannya tidak selalu sama. Permintaan biasanya mengalami peningkatan pada waktu-waktu tertentu, salah satunya ketika memasuki masa mahasiswa baru. Sedangkan pada hari-hari biasa, jumlah order yang diterima dinilai sudah cukup untuk memenuhi kebutuhannya.


Seiring bertambahnya semester, Alif mulai belajar mengatur penghasilan dari pekerjaan tersebut. Jika pada awalnya penghasilan ojek lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia kemudian mulai menetapkan target dana yang harus dikumpulkan setiap bulan.


Pola tersebut membuat Alif mampu membayar UKT sendiri sejak semester 4 hingga semester 8. Dengan biaya UKT sebesar Rp2.250.000, ia menargetkan jumlah dana tertentu setiap bulan agar biaya kuliah tersebut dapat terkumpul dalam waktu enam bulan.


“Sejak semester 4 sampai 8 sudah membayar UKT sendiri. Dengan UKT Rp2.250.000 sangat bisa dikumpulkan selama enam bulan untuk bayar UKT. Caranya selalu mempunyai target dana terkumpul tiap bulannya,” tuturnya.


Meski sebagian kebutuhan kuliahnya dapat dipenuhi dari penghasilan sebagai ojek mahasiswa, Alif masih mendapatkan bantuan keluarga untuk kondisi tertentu. Terutama ketika menghadapi kebutuhan darurat yang membutuhkan biaya besar dan harus segera ditangani, seperti servis laptop atau sepeda motor.


Kemampuan membagi waktu menjadi bagian penting dalam menjalani kuliah sekaligus bekerja. Alif mengaku sudah mengatur jadwal sejak melakukan pengisian Kartu Rencana Studi (KRS).


Jadwal perkuliahan diupayakan terkonsentrasi pada Senin hingga Kamis, mulai pagi hingga siang hari. Sementara Jumat dikosongkan sehingga dapat dimanfaatkan untuk menerima order.


Dengan pengaturan tersebut, waktu sore hingga tengah malam digunakan Alif untuk menjalankan pekerjaan sebagai ojek mahasiswa. Ia mengaku aktivitas tersebut tidak mengganggu perkuliahannya.


Bahkan, di tengah kesibukan tersebut, Alif tetap dapat mengikuti kegiatan organisasi dan sejumlah kejuaraan tingkat nasional.


“Dengan adanya ojek ini sangat membantu finansial,” ungkapnya.


Selama menjalankan pekerjaan tersebut, terdapat satu pengalaman yang paling berkesan bagi Alif, yakni ketika ia pernah mengantarkan seorang dosen.


Pertemuan tersebut memberikan pengalaman sekaligus motivasi tersendiri bagi Alif mengenai bagaimana menjalani kuliah sembari bekerja. Pengalaman itu kemudian menjadi salah satu hal yang semakin memotivasinya untuk menjalankan keduanya secara bersamaan.


Kini, Alif telah menyelesaikan pendidikan dan berstatus sebagai fresh graduate. Pengalaman menjalankan ojek mahasiswa selama masa kuliah menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikannya, sekaligus membantunya belajar lebih mandiri secara finansial.


Ke depan, Alif berharap peluang ojek mahasiswa dapat semakin berkembang. Ia berharap perusahaan besar di bidang transportasi daring dapat melihat potensi layanan tersebut dan ikut berinvestasi di sektor transportasi di sekitar kawasan kampus.


“Harapannya perusahaan besar seperti Gojek, Grab dan lainnya bisa berinvestasi di sektor ini karena melihat peluang yang sangat besar dan pastinya akan membantu perputaran ekonomi khususnya di wilayah kampus,” pungkasnya. (Tik) 

Bagikan:

Komentar