![]() |
| Gus Ipul saat wawancara dengan wartawan di Surabaya.(Dok/Istimewa). |
Wakil Ketua Umum PBNU sekaligus Ketua Panitia Resepsi Hari Santri Nasional PBNU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), menyampaikan bahwa peringatan tahun ini dirangkai dengan kegiatan Mujahadah Kemanusiaan Untuk Palestina. Agenda utama tersebut diisi dengan doa bersama, istighosah, dan penggalangan solidaritas antarumat.
Gus Ipul menjelaskan bahwa pemilihan tema kemanusiaan untuk Palestina bukan tanpa alasan, melainkan hasil tindak lanjut dari keputusan Musyawarah Nasional (Munas) NU. Hubungan antara Nahdlatul Ulama dan bangsa Palestina telah terjalin sangat erat secara historis maupun emosional sejak masa awal perjuangan kemerdekaan.
"Tema tahun ini memang bagian dari hasil Munas, menindaklanjuti keputusan-keputusan Munas. Macam-macam kegiatannya, salah satunya resepsi Hari Santri tahun ini yang sekaligus ada Istighosah dan Doa Kemanusiaan untuk Palestina," ujar Gus Ipul saat ditemui usai kegiatan.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa dukungan yang diberikan NU tidak hanya terbatas pada saluran diplomasi atau pengiriman bantuan fisik belakangan ini. Melalui momentum Hari Santri, warga NU diajak untuk memanjatkan doa secara berkelanjutan bagi keselamatan warga Palestina yang masih menghadapi ujian berat.
"Di samping diplomasi dan bantuan kemanusiaan yang dikirim ke sana, malam ini kita mengirim doa sekaligus mengingatkan seluruh warga NU bahwa kita punya saudara yang perlu perhatian, kepedulian, dan bantuan kita," ungkapnya.
Di tengah kemeriahan dan kekhidmatan peringatan Hari Santri, PBNU juga memberikan pernyataan tegas terkait dinamika internal organisasi. Gus Ipul menyoroti tindakan pengurus dari dua cabang NU yang secara sepihak melakukan pengaduan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait isu riswah atau dugaan aliran uang korupsi.
PBNU menyayangkan langkah pengurus cabang tersebut lantaran melompati mekanisme internal jam'iyah dan tidak pernah melaporkan persoalan itu ke PBNU terlebih dahulu. PBNU memberikan tenggat waktu secara eksplisit selama 7x24 jam bagi para pengurus cabang terkait untuk datang dan melakukan klarifikasi.
"Kami memberikan waktu 7x24 jam kepada dua cabang yang melaporkan terkait isu riswah yang menggunakan uang dari hasil korupsi. Mereka sudah melaporkan ke KPK, tapi belum pernah lapor ke PBNU. Maka itu kita meminta dua pengurus ini segera melapor, melakukan tabayyun dan klarifikasi," tegas Gus Ipul.
Apabila dalam batas waktu seminggu tidak ada iktikad baik atau klarifikasi yang disertai bukti-bukti yang sah, PBNU siap mengambil jalur hukum.
Tindakan melaporkan tuduhan tanpa dasar yang kuat dianggap berpotensi merusak nama baik lembaga serta melanggar tata tertib dan akhlak berorganisasi.
"Jika tidak ada penjelasan lebih lanjut, apalagi laporan ke KPK tidak disertai bukti yang cukup, maka kita akan menyeret dua pengurus tersebut yang bertanggung jawab ke pengadilan. Sebab apa yang mereka lakukan membawa konsekuensi hukum dan bisa menciderai marwah organisasi," tambahnya.
Ia juga mengindikasikan adanya sanksi administratif berat yang siap dijatuhkan sesuai anggaran dasar organisasi. Sanksi tersebut dapat berupa pembekuan kepengurusan cabang hingga pemberhentian tidak dengan hormat bagi oknum pengurus yang terbukti melanggar aturan.
"Bisa dibekukan sesuai ketentuan organisasi, pengurusnya yang bertanggung jawab bisa diberi sanksi. Termasuk pencabutan dan pemberhentian tidak hormat dari jam'iyah. Segala kemungkinan masih sangat mungkin terjadi," ucap Gus Ipul.
Mengakhiri keterangannya, Gus Ipul mengajak seluruh santri dan warga Nahdliyin di seluruh Indonesia untuk tetap fokus mengambil hikmah serta semangat dari peringatan Hari Santri Nasional. Nilai-nilai keteladanan para kiai pendahulu dalam mempertahankan kedaulatan bangsa dan ilmu pengetahuan harus terus dirawat oleh generasi muda.
"Semangatnya adalah meneladani para ulama dan kiai yang telah mengorbankan jiwa raga untuk memerdekakan bangsa. Kita ingin mengajak anak-anak muda di lingkungan NU untuk memahami situasi dengan baik dan bisa bersikap seperti para ulama yang mencintai ilmu, mencintai ulama, sekaligus mencintai negeri ini," pungkasnya. (Red)


Komentar