|
Menu Close Menu

Minat Sport Tourism Meningkat, Akademisi Dorong Surabaya Perkuat Paket Wisata Olahraga dan Perhatikan Penentuan Rute

Minggu, 11 Oktober 2026 | 16.34 WIB

Dosen Pariwisata Universitas Terbuka (UT) Surabaya, Sucipto saat berbincang dengan media.(Dok/Had). 
Lensajatim.id, Surabaya – Tren olahraga di ruang publik semakin berkembang setelah pandemi Covid-19. Aktivitas seperti bersepeda, jogging, hingga berbagai ajang lari kini tidak sekadar menjadi sarana menjaga kebugaran, tetapi juga membuka peluang baru bagi sektor pariwisata dan perekonomian daerah.


Fenomena tersebut dinilai perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah, terutama melalui pengembangan sport tourism atau pariwisata berbasis olahraga.


Dosen Pariwisata Universitas Terbuka (UT) Surabaya, Sucipto, menilai meningkatnya minat masyarakat terhadap kegiatan olahraga merupakan peluang yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata.


“Setelah atau pasca-Covid, masyarakat secara umum punya kesadaran untuk olahraga, baik itu bersepeda maupun jogging. Namun, belakangan ini tren yang berkembang adalah sport tourism,” jelas Sucipto, Minggu (11/10/2026).


Akademisi asal Kabupaten Sumenep, Madura, tersebut menyebut kota-kota besar, termasuk Surabaya, telah menjadi pilihan penyelenggaraan berbagai ajang olahraga yang menarik peserta dari luar daerah.


Kehadiran peserta yang rela menempuh perjalanan jauh untuk mengikuti sebuah kegiatan menunjukkan bahwa event olahraga memiliki potensi untuk menggerakkan sektor pariwisata.


Namun, menurut Sucipto, potensi tersebut perlu diimbangi dengan perencanaan yang matang agar penyelenggaraan acara memberikan manfaat tanpa mengganggu aktivitas masyarakat.


Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah penentuan rute. Perencanaan jalur harus dilakukan melalui analisis yang melibatkan berbagai pihak, termasuk kepolisian dan pemangku kepentingan terkait.


Dengan pengaturan yang tepat, kegiatan olahraga dapat berlangsung tertib, sementara mobilitas warga dan aktivitas kota tetap terjaga.


“Bayangkan saja kalau satu kali event itu bisa mendatangkan ribuan orang dari luar kota. Berarti bisa dibayangkan bagaimana okupansi hotel itu pasti akan naik. Artinya, dampak secara ekonominya bagus,” ujarnya.


Menurut Sucipto, dampak ekonomi tersebut tidak hanya berpotensi dirasakan sektor perhotelan, tetapi juga berbagai usaha lain yang berkaitan dengan kebutuhan peserta selama mengikuti kegiatan.


Karena itu, pelibatan masyarakat lokal menjadi bagian penting dalam pengembangan sport tourism. Kehadiran peserta dari luar daerah perlu diikuti peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memasarkan produk mereka.


Sucipto menilai, khusus di Jawa Timur, pengembangan wisata olahraga masih dapat diperluas melalui ajang lari yang menawarkan pengalaman menjelajahi alam.


Keindahan pegunungan di Jawa Timur, menurutnya, merupakan potensi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik tersendiri bagi penyelenggara maupun peserta.


“Belum lagi yang belum dimaksimalkan khusus Jawa Timur itu adalah event-event lari yang bisa menjelajah, misalnya gunung. Sementara keindahan gunung kita punya banyak,” katanya.


Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pengembangan event tersebut harus disertai kajian mengenai keterlibatan masyarakat setempat agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara langsung.


Produk-produk UMKM lokal, misalnya, dapat menjadi bagian dari rangkaian kegiatan sehingga peserta tidak hanya datang untuk berolahraga, tetapi juga berinteraksi dengan potensi ekonomi dan budaya daerah yang dikunjungi.


Surabaya Berpeluang Jadi Pusat Wisata Olahraga


Sucipto menilai Surabaya memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai pusat penyelenggaraan event lari dan sport tourism di Jawa Timur.


Sebagai ibu kota Provinsi Jawa Timur, Surabaya dinilai memiliki daya tarik untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan olahraga. Frekuensi event yang berlangsung hampir setiap bulan, bahkan pada akhir pekan tertentu, menunjukkan besarnya ruang pengembangan kegiatan tersebut.


Agar potensi itu semakin optimal, ia mendorong pemerintah daerah menyiapkan paket wisata khusus yang terintegrasi dengan agenda olahraga.


Paket tersebut dapat disesuaikan dengan jenis kegiatan, seperti fun run, sehingga peserta memiliki pilihan pengalaman wisata yang lebih lengkap selama berada di Surabaya.


“Pemerintah daerah itu punya paket khusus untuk event. Misalnya, kalau fun run, paketnya begini dan begitu. Sehingga ada paket-paket wisata khusus untuk sport tourism di Jawa Timur, khususnya di Surabaya,” jelasnya.


Menurut Sucipto, pengembangan paket wisata olahraga perlu disikapi secara serius agar pertumbuhan jumlah kegiatan tidak justru memunculkan persoalan baru di tengah masyarakat.


Salah satu tantangan yang harus diantisipasi adalah kemacetan akibat penutupan atau pengalihan arus lalu lintas selama acara berlangsung.


Karena itu, penyelenggara dan pemerintah perlu menyiapkan skenario pengaturan lalu lintas, pemetaan jalur, serta komunikasi yang baik dengan warga terdampak.


Ia mengingatkan, penerimaan positif masyarakat Surabaya terhadap berbagai kegiatan lari perlu dijaga agar tidak berubah akibat kurangnya koordinasi dan sosialisasi.


“Jangan sampai adanya event sport tourism ini banyak mendapatkan nilai jelek dari masyarakat, terutama karena membuat kemacetan. Bagaimana skenario ini yang perlu dilakukan bersama sehingga keberadaan event itu membuat semua orang senang,” tegasnya.


Sosialisasi hingga Tingkat RT dan RW


Selain pengaturan teknis, Sucipto menekankan pentingnya sosialisasi kepada masyarakat sebelum sebuah event diselenggarakan.


Informasi mengenai jadwal, rute, pengalihan arus, serta dampak kegiatan perlu disampaikan secara luas agar warga dapat menyesuaikan aktivitasnya.


Menurutnya, sosialisasi sebaiknya tidak berhenti pada tingkat kota atau kecamatan, tetapi menjangkau kelurahan hingga lingkungan RT dan RW.


Ia menilai Surabaya memiliki saluran komunikasi masyarakat yang cukup baik hingga tingkat lingkungan. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memastikan informasi mengenai setiap kegiatan tersampaikan secara merata.


“Perlu pendekatan-pendekatan khusus, sosialisasi bahkan sampai kepada kelurahan. Bagaimana setiap kali event itu bisa tersosialisasikan kepada masyarakat di level RT dan RW. Saya rasa saluran media komunikasi di Kota Surabaya itu sangat bagus, bahkan sampai level RT dan RW,” ungkapnya.


Sucipto berharap pengembangan sport tourism dapat dilakukan melalui kolaborasi pemerintah, penyelenggara, pelaku usaha, dan masyarakat.


Dengan perencanaan rute yang matang, paket wisata yang menarik, serta pelibatan UMKM dan warga lokal, event olahraga diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kenyamanan masyarakat.


Bagi Surabaya dan Jawa Timur, tren tersebut menjadi peluang untuk memperkuat daya tarik wisata melalui kegiatan olahraga yang terencana, inklusif, dan berkelanjutan. (Had) 

Bagikan:

Komentar