|
Menu Close Menu

Puncak Hari Santri 2026, PBNU Teguhkan Solidaritas Palestina dan Komitmen Kebangsaan

Jumat, 23 Oktober 2026 | 11.42 WIB

 

Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin saat menyampaikan sambutan.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Jakarta– Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Puncak Resepsi Hari Santri 2026 yang dirangkaikan dengan Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina, Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk meneguhkan komitmen kebangsaan sekaligus memperkuat solidaritas kemanusiaan warga Nahdliyin di tengah krisis global.


Sejak petang, ribuan jamaah, santri, dan pengurus NU dari berbagai tingkatan memadati lokasi acara. Mereka mengikuti istighotsah dan zikir bersama, seraya memanjatkan doa bagi keselamatan serta kemerdekaan rakyat Palestina dari penindasan dan krisis kemanusiaan.


Ketua Umum PBNU, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, menegaskan bahwa peringatan Hari Santri tidak dapat dipisahkan dari sejarah Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Semangat perjuangan para ulama saat itu, menurutnya, tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman.


“ Hari Santri lahir dari ikhtiar membela tanah air dan mempertahankan kedaulatan bangsa melalui Resolusi Jihad. Perjuangan itu adalah warisan keberanian dari para ulama yang wajib kita jaga nilai dan semangatnya,” ujar Gus Kikin di hadapan jamaah.


Ia menambahkan, kepedulian santri tidak boleh berhenti pada persoalan lokal dan nasional. Solidaritas terhadap rakyat Palestina juga menjadi bagian dari tanggung jawab moral keislaman dan kebangsaan yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.


“Keberpihakan santri tidak pernah mengenal batas wilayah. Apa yang dialami oleh saudara-saudara kita di Palestina adalah panggilan kemanusiaan global yang harus kita jawab dengan aksi nyata dan doa yang tak putus-putus,” tegasnya.


Gus Kikin pun menginstruksikan seluruh jajaran kepengurusan NU di berbagai tingkatan beserta warga Nahdliyin untuk terus menyalurkan bantuan materiil dan dukungan moral bagi rakyat Palestina.


PBNU, lanjutnya, berkomitmen mengambil peran aktif dalam menggalang solidaritas kemanusiaan dunia, terutama untuk membantu meringankan beban masyarakat Palestina yang terdampak krisis.


“Kami menyerukan kepada seluruh warga Nahdliyin untuk terus menggalang bantuan dan mengetuk pintu langit. Kita buktikan bahwa solidaritas santri Indonesia hadir secara konkret untuk membantu meringankan beban penderitaan rakyat Palestina,” tambah Gus Kikin.


Selain menyoroti persoalan kemanusiaan, Gus Kikin mendorong generasi santri agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Ia menekankan pentingnya membangun kemandirian ekonomi tanpa meninggalkan tradisi keilmuan pesantren yang autentik.


Sementara itu, Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, mengajak warga Nahdliyin memperkuat ikhtiar batin melalui mujahadah dan istighotsah. Menurutnya, doa menjadi salah satu kekuatan utama umat beriman dalam menghadapi berbagai krisis kemanusiaan.


“Di saat ikhtiar lahiriah dunia sering kali menemui jalan buntu, maka senjata terkuat kaum beriman dan para santri adalah doa dan istighotsah. Kita ketuk pintu langit agar pertolongan Allah SWT segera turun untuk saudara-saudara kita di Palestina,” tutur Kiai Miftachul Akhyar.


Rais Aam PBNU itu juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan, kekompakan, dan keikhlasan dalam menjalankan pengabdian. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai persaudaraan harus terus dirawat dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.


Tiga prinsip persaudaraan yang ditekankannya adalah ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama umat Islam, ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan sebangsa, serta ukhuwah basyariyah atau persaudaraan sesama manusia.


“Jangan pernah berpotensi terpecah belah. Kita harus tetap berada dalam satu barisan dan satu komando keorganisasian. Keikhlasan dalam berkhidmah adalah kunci agar perjuangan kita diratai keberkahan oleh Allah SWT,” pesan Kiai Miftachul Akhyar.


Rangkaian puncak resepsi kemudian ditutup dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Kiai Miftachul Akhyar. Acara dilanjutkan dengan mahalul qiyam, ketika seluruh jamaah berdiri dan melantunkan selawat kepada Nabi Muhammad SAW.


Dalam suasana khusyuk, para hadirin menengadahkan tangan, memohon agar kedamaian senantiasa menaungi Indonesia serta kemerdekaan dan keadilan segera terwujud bagi rakyat Palestina.


Peringatan Hari Santri 2026 tersebut menjadi penegasan bahwa semangat perjuangan santri tidak hanya berakar pada sejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia, tetapi juga terus hidup melalui pengabdian kepada bangsa, penguatan tradisi keilmuan, dan kepedulian terhadap kemanusiaan universal. (Red) 

Bagikan:

Komentar