![]() |
| Ketua Badan Pengurus Pusat HIPKA, Ali Hasan Mun'im.(Dok/Istimewa). |
Ajakan tersebut sejalan dengan semangat Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya pembangunan dari bawah melalui penguatan ekonomi kerakyatan, koperasi, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai sokoguru perekonomian nasional.
Pria yang akrab disapa Ali Hasan itu menegaskan, perjalanan bangsa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran strategis generasi muda. Dalam berbagai fase perubahan, pemuda selalu memiliki ruang untuk melahirkan gagasan baru, mendorong inovasi, dan menggerakkan masyarakat menuju kemajuan.
Karena itu, idealisme dan semangat perjuangan yang diwariskan para pemuda tidak boleh berhenti sebagai slogan dalam peringatan hari besar nasional. Nilai-nilai tersebut perlu diterjemahkan menjadi karya, kreativitas, serta kontribusi nyata untuk menjawab persoalan bangsax, terutama tantangan ekonomi dan keterbatasan lapangan kerja.
“Pemuda harus menjadi pelopor kemandirian ekonomi, untuk menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya,” kata Ali Hasan.
Wakil Ketua Komite Tetap Pembiayaan Fiskal Perumahan Kadin Indonesia itu menilai, generasi muda perlu mengubah cara pandang terhadap dunia kerja. Anak muda tidak cukup hanya dipersiapkan menjadi pencari kerja, tetapi juga perlu didorong menjadi pencipta lapangan kerja melalui kewirausahaan dan pengembangan usaha produktif.
Menurutnya, kewirausahaan dan ekonomi kreatif merupakan sektor yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Kedua bidang tersebut memberikan ruang bagi anak muda untuk mengembangkan kreativitas, mengoptimalkan potensi diri, sekaligus membangun kemandirian finansial.
“Kewirausahaan dan ekonomi kreatif menjadi salah satu yang dekat dengan anak muda dan bisa dilakukan anak muda,” tandas tenaga ahli DPR RI tersebut.
Ali Hasan, yang juga merupakan Owner SPPG Karanganyar Bondowoso, berpandangan bahwa kemandirian ekonomi menjadi salah satu bentuk aktualisasi semangat Sumpah Pemuda dalam konteks kekinian. Jika pada 1928 para pemuda menyatukan tekad untuk memperjuangkan persatuan bangsa, generasi saat ini ditantang untuk meneruskan semangat tersebut melalui upaya memperkuat kesejahteraan masyarakat.
Kemandirian ekonomi generasi muda tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memperoleh penghasilan secara mandiri, tetapi juga keberanian membangun usaha, mengembangkan produk lokal, dan membuka kesempatan kerja bagi orang lain. Dengan demikian, keberhasilan seorang pemuda dalam berwirausaha dapat memberikan dampak yang lebih luas terhadap lingkungan sosial dan perekonomian daerah.
Potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui pengembangan UMKM, ekonomi kreatif, serta pemanfaatan teknologi digital. Generasi muda dapat mengambil peluang dari kebutuhan pasar dan sumber daya yang tersedia di daerah masing-masing untuk menciptakan produk maupun layanan yang memiliki nilai tambah.
Namun, dorongan untuk berwirausaha perlu diimbangi dengan dukungan yang memadai. Peningkatan keterampilan, pendampingan usaha, akses permodalan, pemanfaatan teknologi, dan perluasan pasar menjadi faktor penting agar usaha yang dirintis anak muda dapat berkembang secara berkelanjutan.
Tanpa dukungan ekosistem yang tepat, kreativitas dan potensi generasi muda berisiko tidak berkembang secara optimal. Karena itu, pemberdayaan pemuda tidak cukup dilakukan melalui ajakan untuk berani berusaha, tetapi juga harus disertai kesempatan untuk belajar, berinovasi, membangun jejaring, dan memperoleh akses yang lebih luas terhadap sumber daya ekonomi.
Dalam konteks pembangunan daerah, keterlibatan generasi muda juga penting untuk mengoptimalkan potensi lokal sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Usaha yang tumbuh di daerah berpeluang menciptakan lapangan kerja, memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat, sekaligus mengurangi ketergantungan pada kesempatan kerja di sektor formal.
Ali Hasan menilai, upaya tersebut membutuhkan kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, dan masyarakat. Sinergi berbagai pihak diperlukan agar gagasan dan inovasi anak muda tidak berhenti sebagai rencana, tetapi dapat berkembang menjadi usaha produktif yang memberikan manfaat nyata.
Momentum Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026, menurutnya, menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali komitmen generasi muda dalam membangun bangsa. Semangat persatuan yang diwariskan para pendahulu perlu dilanjutkan melalui kerja bersama untuk menciptakan kesejahteraan dan memperluas kesempatan ekonomi bagi masyarakat.
Pada akhirnya, tantangan generasi muda bukan sekadar mempertahankan idealisme, melainkan mengubahnya menjadi karya dan solusi atas persoalan yang dihadapi bangsa. Semangat Sumpah Pemuda akan tetap relevan apabila diwujudkan melalui keberanian berinovasi, membangun usaha, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat kemandirian ekonomi.
Dengan semakin banyaknya generasi muda yang mampu menjadi pelaku usaha sekaligus pencipta lapangan kerja, potensi ekonomi daerah diharapkan berkembang lebih optimal. Kemandirian ekonomi pun tidak hanya menjadi capaian individu, tetapi juga menjadi bagian dari perjuangan bersama untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera. (Had)


Komentar