![]() |
| Melani sedang membuat roti canai.(Dok/Antika) |
Melani mengaku awalnya tidak memiliki pengalaman khusus dalam membuat maupun menjual roti canai. Ketertarikannya justru muncul karena melihat proses pembuatan makanan tersebut yang menurutnya unik dan menyenangkan.
“Tidak ada pengalaman sebelumnya, cuma suka karena cara pembuatan roti canai itu unik dan seru,” ujar Melani, Selasa (6/10/2026)
Selain proses pembuatannya, banyaknya pilihan menu dan rasa juga menjadi salah satu alasan Melani tertarik menekuni usaha tersebut. Hal itu menurutnya menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan.
Selama berjualan, pelanggan Melani didominasi mahasiswa. Respons yang diterimanya pun cukup positif. Salah satu hal yang paling berkesan baginya adalah ketika pelanggan, khususnya mahasiswa, memberikan tanggapan bahwa roti canai yang dijualnya memiliki rasa yang enak.
Bagi Melani, berjualan bukan sekadar menjalankan usaha, tetapi juga menjadi cara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia memilih bekerja agar dapat lebih mandiri dan tidak terlalu merepotkan orang tua.
“Lebih ke kebutuhan sehari-hari, tidak mau merepotkan orang tua,” katanya.
Dalam sehari, jumlah penjualan roti canai yang dibuat Melani bergantung pada kondisi pelanggan. Saat ramai, ia bisa menghabiskan sekitar 200 pcs adonan. Sementara ketika kondisi sedang sepi, jumlahnya berada di kisaran 150 pcs.
Salah satu tantangan yang paling dirasakan Melani adalah ketika memasuki masa libur mahasiswa. Sebab, mayoritas pelanggannya merupakan mahasiswa sehingga jumlah pembeli ikut menurun ketika aktivitas perkuliahan sedang libur.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuat Melani berhenti menjalankan usahanya. Ia tetap berusaha mempertahankan usaha yang telah dijalankannya selama dua tahun tersebut.
Ke depan, Melani berharap usaha roti canainya semakin dikenal masyarakat dan memiliki lebih banyak pelanggan.
“Semoga bisa lebih laris dan dikenal banyak orang,” pungkasnya. (Tik)


Komentar