|
Menu Close Menu

Kongres VII ESAI Perkuat Jejaring Akademik melalui Bakti Sosial dan Jelajah Sejarah di Salatiga

Minggu, 08 November 2026 | 12.37 WIB

Peserta Kongres VII English Studies Association in Indonesia (ESAI) di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Salatiga– Kongres VII English Studies Association in Indonesia (ESAI) di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah, tidak hanya menjadi ruang penguatan mutu akademik, tetapi juga menghadirkan pembelajaran langsung melalui kegiatan pengabdian masyarakat dan eksplorasi sejarah budaya.


Kegiatan yang berlangsung pada 2–4 November 2026 tersebut mempertemukan ratusan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Mereka terdiri atas pimpinan perguruan tinggi, pimpinan program studi, serta kalangan akademisi.


Selain membahas akreditasi dan pengembangan kurikulum, kongres juga menghadirkan agenda sosial dan budaya sebagai bagian dari rangkaian penutup.


Pada hari ketiga, Rabu (4/11/2026), peserta mengikuti bakti sosial dan jelajah budaya di Witte Kruis Kolonie, kawasan bersejarah yang kini menjadi bagian dari lingkungan pelayanan sosial Salib Putih, Salatiga.


Kegiatan ini merupakan kolaborasi Program Studi Sastra Inggris UKSW, ESAI, dan Telusur Kota Salatiga.


Dekan Fakultas Bahasa Asing Universitas KH. Bahaudin Mudhary Madura (UNIBA Madura), Lailiy Kurnia Ilahi, S.Pd., M.Pd., turut ambil bagian bersama akademisi dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.


Bakti Sosial Perkuat Kolaborasi Akademisi


Rangkaian kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB. Seluruh peserta berkumpul di depan Balairung Utama UKSW untuk mengikuti sesi foto bersama sebelum bertolak menggunakan bus menuju Witte Kruis Kolonie di kawasan Salib Putih.


Setibanya di lokasi, peserta dibagi menjadi tujuh kelompok yang melibatkan perwakilan berbagai perguruan tinggi.


Lailiy tergabung dalam Kelompok 4 bersama akademisi dari Universitas Widyatama Bandung, UKSW, perguruan tinggi dari Ungaran, Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional) Bali, Universitas Methodist Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dan sejumlah institusi lainnya.


Kegiatan diawali dengan pembukaan di aula sekaligus pemaparan sejarah Witte Kruis Kolonie. Agenda kemudian dilanjutkan dengan penyerahan santunan sebagai bentuk kepedulian sosial peserta Kongres VII ESAI.


Menyusuri Sejarah dan Nilai Kemanusiaan


Salah satu agenda utama adalah mengenal sejarah Witte Kruis Kolonie yang didirikan pada 14 Mei 1902 oleh Adolph Theodoor Jacobus van Emmerik, tokoh asal Belanda, bersama istrinya, Alice Cornelia Cleverly, yang berasal dari Inggris.


Pendirian kawasan tersebut dilandasi kepedulian terhadap masyarakat miskin, orang sakit, anak-anak terlantar, serta kelompok rentan yang membutuhkan perlindungan dan pelayanan sosial pada awal abad ke-20.


Pasangan tersebut tidak hanya menyediakan tempat penampungan dan perawatan. Mereka juga mengembangkan pendidikan, pembinaan keagamaan dan moral, serta pelatihan berbagai keterampilan praktis untuk mendorong kemandirian masyarakat.


Melalui kegiatan pertanian, perkebunan, dan peternakan, masyarakat dibekali kemampuan produktif yang dapat menunjang kebutuhan hidup sekaligus menjaga keberlanjutan pelayanan sosial.


Peserta juga diajak memahami sejarah kehadiran orang Eropa di Indonesia secara lebih luas. Di tengah konteks kolonialisme, terdapat individu maupun kelompok yang menjalankan kegiatan kemanusiaan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.


Perspektif tersebut menjadi bahan refleksi penting tentang perlunya memahami sejarah secara kritis dan kontekstual dengan mempertimbangkan beragam pengalaman serta kontribusi para pelakunya.


Lailiy mengaku mendapatkan perspektif baru dari penelusuran sejarah tersebut.


“Hal yang menarik bagi saya adalah bagaimana kita diajak memahami sejarah dari perspektif yang lebih luas. Kehadiran orang Eropa pada masa kolonial tidak selalu memiliki peran yang sama. Melalui kisah pasangan Van Emmerik dan Alice Cleverly, kita belajar tentang pelayanan kemanusiaan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Ini menjadi pengingat bahwa memahami sejarah membutuhkan keterbukaan terhadap berbagai perspektif,” ungkapnya.


Dalam penelusuran tersebut, peserta juga mengunjungi sejumlah fasilitas bersejarah, termasuk kawasan rumah sakit, museum, dan bangunan lain yang menjadi bagian dari perkembangan Witte Kruis Kolonie.


Mengenal Potensi Kopi dan Peternakan Lokal


Tidak hanya menelusuri sejarah, peserta juga diperkenalkan dengan potensi ekonomi lokal di kawasan Salib Putih, khususnya perkebunan kopi dan peternakan sapi perah.


Di area perkebunan, peserta mendapatkan penjelasan mengenai tahapan pengolahan kopi, mulai dari pengenalan tanaman, pengolahan biji, hingga proses penyangraian atau coffee roasting.


Produk kopi hasil pengolahan tersebut dapat dinikmati sebagai minuman di Witte Kruis Café.


Peserta juga melihat aktivitas peternakan sapi perah, termasuk proses pemerahan susu. Susu segar yang dihasilkan menjadi salah satu produk lokal yang disajikan di kafe kawasan tersebut.


Pengalaman ini memberikan gambaran mengenai bagaimana sektor pertanian dan peternakan dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif yang turut menopang keberlanjutan kawasan dan pelayanan sosial.


Bagi para akademisi, kunjungan tersebut menjadi pembelajaran langsung mengenai keterkaitan sejarah, budaya, keterampilan masyarakat, dan pemberdayaan ekonomi lokal.


Perkuat Pembelajaran Berbasis Pengalaman


Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke gereja di kawasan Witte Kruis Kolonie. Peserta mengikuti diskusi dan tanya jawab mengenai sejarah pendirian kawasan, perkembangan pelayanan sosial, serta nilai pendidikan, agama, dan kemanusiaan yang diwariskan para pendirinya.


Menurut Lailiy, pengalaman tersebut memiliki relevansi kuat dengan pengembangan pendidikan bahasa dan kebudayaan, terutama dalam membangun kemampuan berpikir kritis, pemahaman lintas budaya, serta kepedulian sosial mahasiswa.


“Belajar bahasa dan budaya tidak cukup hanya melalui teori di ruang kelas. Kita perlu memahami bagaimana sejarah, nilai-nilai, dan kehidupan masyarakat saling berkaitan. Pengalaman seperti ini sangat relevan untuk memperkuat pembelajaran berbasis pengalaman dan kompetensi lintas budaya mahasiswa,” tambahnya.


Setelah seluruh rangkaian kegiatan di Witte Kruis Kolonie selesai, peserta kembali ke Balairung Utama UKSW untuk mengikuti penutupan Kongres VII ESAI.


Partisipasi Fakultas Bahasa Asing UNIBA Madura dalam kongres tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring akademik sekaligus memperkuat pembelajaran yang terhubung dengan realitas sosial dan budaya masyarakat.


Melalui kegiatan bakti sosial dan eksplorasi sejarah ini, UNIBA Madura diharapkan dapat mengembangkan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), meningkatkan kompetensi lintas budaya (intercultural competence), serta memperkuat pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. (Red) 

Bagikan:

Komentar