|
Menu Close Menu

Yonanda Galuh Suarakan Aspirasi Ekonomi Kreatif Daerah di WCCE 2026

Selasa, 03 November 2026 | 11.53 WIB

 

Yonanda Galuh, Mahasiswa Magister Terapan Industri Kreatif UNESA.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Jakarta– Yonanda Galuh Puspitasari, S.M., mahasiswa Magister Terapan Industri Kreatif Universitas Negeri Surabaya (UNESA) sekaligus pengurus Indonesia Creative Cities Network (ICCN), turut menyuarakan aspirasi pelaku ekonomi kreatif daerah dalam The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Jumat (23/10/2026).


Perempuan yang akrab disapa Mary Jona tersebut hadir dalam agenda Suara Ekraf Indonesia: From Voice to Action sebagai bagian dari jejaring ICCN. Dalam kesempatan itu, ia tampil membawakan lagu Tanah Air sebagai ekspresi seni yang merepresentasikan semangat kebangsaan, keberagaman, dan persatuan antardaerah.


Kegiatan tersebut disaksikan Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya, jajaran kementerian, serta perwakilan ICCN dari berbagai daerah di Indonesia.


Bagi Yonanda, keterlibatan dalam forum tersebut menjadi kesempatan penting untuk mempertemukan praktik industri kreatif di daerah dengan ruang kolaborasi berskala nasional dan internasional.


"Ekonomi kreatif Indonesia memiliki kekuatan besar yang tumbuh dari daerah. Setiap kota dan kabupaten mempunyai karakter, potensi, serta talenta yang berbeda. Karena itu, penting membangun ekosistem yang mampu memberikan ruang bagi mereka untuk berkembang, berkolaborasi, dan mendapatkan kesempatan yang lebih luas," jelas Yonanda. 



Saat ini, Yonanda mengemban amanah sebagai Wakil Direktur Distribusi Daring pada Direktorat Media & Communication ICCN, di bawah Deputi 5 Strategic Partnership, Branding & Creative Economy.


Sepuluh Manifesto Aspirasi Ekonomi Kreatif Daerah


Salah satu agenda penting WCCE 2026 adalah penyerahan 10 Manifesto Suara Ekonomi Kreatif Indonesia: Dari Daerah untuk Dunia oleh Ketua Umum ICCN, Fiki Satari, kepada Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya.


Manifesto tersebut dirumuskan dari aspirasi jejaring 277 kota dan kabupaten kreatif di 35 provinsi Indonesia.


Sepuluh agenda strategis yang diusung mencakup inovasi berbasis sumber daya lokal, pembangunan berkelanjutan, pengakuan pelaku kreatif informal, penguatan intermediari dan agregator, serta inklusivitas.


Agenda lainnya meliputi percepatan transformasi digital, penguatan data dan indeks ekonomi kreatif daerah, dukungan regulasi dan kelembagaan, sinergi ekosistem heksaheliks, serta keterlibatan aspirasi daerah dalam pembentukan agenda ekonomi kreatif global.


Fiki Satari menegaskan bahwa potensi ekonomi kreatif Indonesia tumbuh dari keberagaman wilayah, bukan hanya terkonsentrasi di kota-kota besar. Melalui WCCE, potensi tersebut diharapkan semakin dikenal dan mendapat ruang dalam pembahasan ekonomi kreatif dunia.


Sebagai jejaring nasional, ICCN berperan menghubungkan komunitas, pemerintah, akademisi, pelaku usaha, seniman, musisi, dan kreator digital untuk memperkuat talenta, memetakan potensi lokal, serta membuka akses pasar.


Kembangkan Ekosistem Kreatif Malang Raya


Di luar aktivitasnya di ICCN, Yonanda aktif mengembangkan industri musik independen dan kreator digital, khususnya di Malang Raya dan Jawa Timur.


Ia merupakan pendiri NAWAKEWED Music Ecosystem yang berfokus pada pengembangan musisi independen, manajemen talenta, penyelenggaraan showcase, serta pembukaan ruang pertunjukan alternatif.


Yonanda juga mendirikan NCreators pada 2023, sebuah agensi kreatif yang bergerak di bidang influencer marketing, pengembangan konten digital, dan strategi komunikasi merek. Melalui inisiatif ini, ia membangun jejaring kreator dan membuka peluang kolaborasi dengan pelaku usaha serta berbagai merek.


Perjalanan kreatifnya dimulai dengan bergabung dalam Malang Creative Fusion (MCF) pada 2023. Pada 2024, bersama Leo Tanimaju, ia mendirikan Acting School Malang yang berfokus pada pengembangan seni peran dan talenta kreatif.


Pada tahun yang sama, ia menginisiasi album kompilasi Make Our Home Great Again (MOHGA), yang melibatkan musisi asal Malang dengan kepedulian terhadap isu lingkungan, sosial, dan kemanusiaan.


Sebagai musisi solo, Yonanda juga telah menghasilkan satu album yang mengangkat isu kesehatan mental. Baginya, musik bukan sekadar karya seni, melainkan medium ekspresi dan penyampaian pesan kemanusiaan.


Pada 2026, ia bergabung dalam kepengurusan ICCN Deputi 5. Saat ini, ia juga menempuh pendidikan Magister Terapan Industri Kreatif di UNESA dengan fokus kajian pengembangan model artist development berbasis ekosistem musik independen.


"Pengembangan industri kreatif tidak cukup hanya menghasilkan karya. Kita juga perlu membangun sistem pendukung yang mempertemukan talenta, komunitas, industri, dan pasar. Dengan begitu, pelaku kreatif daerah tidak hanya mampu berkarya, tetapi juga memiliki peluang untuk tumbuh secara profesional dan ekonomi," tegasnya. 


Perpaduan pengalaman profesional dan pendidikan tersebut menjadi bekal Yonanda dalam membangun ekosistem kreatif yang berkelanjutan.


Partisipasinya dalam WCCE 2026 sekaligus menunjukkan bahwa pelaku kreatif daerah memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam forum internasional.


Sejalan dengan semangat Dari Daerah untuk Dunia, penguatan potensi lokal, kekuatan komunitas, dan kolaborasi lintas wilayah diharapkan menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia. (Red) 

Bagikan:

Komentar