![]() |
| Atlet panjat tebing Surabaya.(Dok/Istimewa). |
Hingga hari terakhir pertandingan, Kamis (5/11/2026), Surabaya mengoleksi enam medali, terdiri atas dua emas, dua perak, dan dua perunggu.
Pelatih panjat tebing Surabaya, Wijang Dwi Raharjo, mengaku tidak terlalu mempermasalahkan hasil tersebut. Menurutnya, Popda menjadi kesempatan penting untuk mengukur kemampuan atlet sekaligus memetakan kekuatan daerah pesaing menjelang Porprov 2027.
“Banyak tantangan yang kami hadapi selama Popda 2026. Hal yang paling krusial adalah sarana latihan, yang untuk sementara kami nunut,” ujar Wijang, Kamis (5/11/2026).
Selama ini, Surabaya belum bisa memaksimalkan fasilitas wall climbing milik Pemerintah Kota Surabaya. Kondisi tersebut membuat para atlet harus menjalani latihan di lapangan Jatim Seger.
Dalam klasemen akhir, Surabaya berada di bawah Gresik yang juga mengoleksi dua medali emas. Namun, Gresik unggul dalam perolehan medali perak dengan tiga keping dan satu perunggu.
Wijang menilai, peluang Surabaya meraih hasil lebih baik sebenarnya terbuka, terutama pada nomor speed perorangan putri. Atletnya, Jessica Malva, harus mengakui keunggulan Nayra Zeba dari Probolinggo setelah sedikit terpeleset pada babak final.
“Terus terang kami apes di kategori speed. Ini akan kami benahi,” tegasnya.
Meski demikian, Wijang optimistis kemampuan anak asuhnya masih bisa terus ditingkatkan. Seluruh atlet yang diturunkan merupakan bagian dari program Pusat Latihan Cabang (Puslatcab) Surabaya.
Persiapan menuju Porprov 2027 pun akan dilakukan secara bertahap. Selain mematangkan kemampuan atlet sendiri, tim pelatih juga mulai memetakan kekuatan daerah lain yang menjadi pesaing.
“Kami juga mengamati kekuatan lawan di ajang ini. Kebetulan banyak kontingen lain yang menurunkan tim yang dipersiapkan untuk Porprov 2027,” ungkap Wijang.
Pada Popda kali ini, Okandra Jodie Syailendra menyumbangkan medali emas untuk Surabaya dari kategori lead putra. Sementara Egan Fansa Patu Ozora menyumbangkan medali emas pada kategori speed world record putra.
Dua medali perak Surabaya diperoleh melalui nomor speed putra dan putri. Masing-masing diraih Al Djava Lingga dan Jessica Malva.
Sementara itu, Gresik tampil impresif melalui dua atlet putrinya, Mayra Azalia Nabila dan Azifatur Rohmah. Mayra menjadi salah satu bintang kompetisi setelah meraih emas pada kategori lead dan boulder putri.
Adapun Azifatur Rohmah mengamankan dua medali perak dari kategori lead dan boulder putri.
Kontingen Probolinggo menempati posisi berikutnya dengan raihan satu perak dan satu perunggu. Lamongan menyusul dengan satu emas, Kota Malang meraih satu perak, sedangkan Kota Blitar mengoleksi tiga perunggu. Sementara Sidoarjo membawa pulang satu medali perunggu.
Presiden Juri Popda 2026, Andika Hadi Winata, menjelaskan bahwa cabang olahraga panjat tebing mempertandingkan tiga kategori perorangan, yakni lead, speed, dan boulder.
“Semua kategori hanya melombakan perorangan, dan pesertanya masih berstatus pelajar. Ada yang masih SMP, tapi rata-rata sudah SMA,” ujar pria asal Probolinggo tersebut.
Popda panjat tebing 2026 berlangsung di wall climbing Jatim Seger pada 1–5 November. Hasil kompetisi ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi setiap daerah dalam mempersiapkan atlet terbaik menghadapi kompetisi olahraga berikutnya. (Red)


Komentar